Tok…tok…
Suara ketukan pintu membuat wanita yang sedang menimang putri kecil digendonganya itu beranjak dari tempat duduknya.
Ckelek….
“maaf aku pulang larut malam” ucap pria yang berdiri diambang pintu, lalu mengecup kening wanita itu dengan sayang. “tidak apa-apa” balas wanita itu tersenyum manis kepada pria yang merupakan suaminya itu.
“kau tampak lelah, sebaiknya kau cepat bersih-bersih lalu istirahat”
“ya….aku sangat lelah, banyak sekali pekerjaan dikantor. Tapi rasa lelahku menguap setelah melihat soulmate ku ini, beserta princess ku”
Pipi wanita itu merona mendengar godaan suaminya itu “mommy, jantung mommy berdetak kencang!” seru putri kecil dalam gendongan wanita itu.
Wanita dan pria itu tersentak, mereka kira gadis kecil itu sudah tidur tapi ternyata tidak.
“mom, detak jantung mommy semakin kencang!” seru putri kecil itu lagi dengan panik digendongan wanita itu.
Awalnya wajah pria dan wanita itu kaku tapi setelah itu mereka tertawa, putri kecil itu merengut tidak mengerti.
“kenapa daddy dan mommy tertawa?!”
“wajah panikmu lucu sweet” ucap pria itu sambil mengelus rambut gadis kecil itu dengan penuh kasih.
Gadis kecil itu mencibikan bibirnya kesal “Vivi hanya kaget daddy, jantung mommy berdetak kencang. Apa mommy sakit?” tanya putri kecil itu pada dua orang sosok dewasa didekatnya.
“hmm…biar mommy mu yang menjalaskan, honey aku bersih bersih dulu”
Cup….
Satu kecupan singkat diberikan pria itu tepat dibibir istrinya itu, wajah wanita itu merona dengan perlakuan manis suaminya itu.
“mom…jantung mommy berdetak kencang lagi!”
Putri kecil itu paniK dalam gendongan mommy nya.
Dengan lembut wanita itu membelai surai indah putrinya itu “mom, kenapa jantung mommy berdetak kencang?” rengek gadis kecil dalam gendongan wanita itu.
“kau mau tau?”
Putri kecil itu mengangguk dengan semangat “itu tandanya mommy sayang kepada daddy mu” anak itu mengedipkan mata beberapa kali seolah masih mencerna kalimat mommy nya.
“tapi saat bersama ku dan Olive jantung mommy biasa saja, tapi saat kening mommy dikecup daddy jantung mommy bedetak cepat. Apa artinya mommy tidak sayang padaku dan Olive?”
Wanita itu tetap menampilkan senyum sambil mengelus suari lembut putrinya yang selalu ingin tau itu “rasa sayang mommy ke daddy itu berbeda dengan rasa sayang pada kalian” ucap wanita itu.
“apa bedanya?”
“saat dewasa nanti kau akan tau, sekarang lebih baik kau tidur. Olive saja sudah tidur dari tadi”
Gadis kecil itu mengengguk pelan, mengurungkan niat untuk bertanya lagi dan lebih memilih tidur.
Kelopak mata itu langsung terbuka, nafasnya memburu, keringat dingin menghiasi keningnya. Tatapan mata Vian menghunus lurus ke langit langit kamar tidurnya, tanganya mencengkram erat selimut yang membungkus dirinya.
Potongan peristiwa masa lalunya kembali menghantuinya, hal itu tidak pernah terjadi lagi sejak Vian menginjak masa remaja, namun kali ini potongan peristiwa itu kembali lagi menghantuinya.
Apa mungkin karena ketakutan itu kembali lagi?
Ntah, Vian tidak bisa memahaminya. Sejak memutuskan mencoba menerima apa yang terjadi padanya, hal hal menakutkan baginya kembali menggangunya, hal itu tidak urung membuatnya kembali memikirkan keputusan yang sudah ia ambil.
Tepat atau tidak?
“baby, kau sedang memikirkan apa?” suara berat itu menyeret Vian dari setumpuk pikiran yang bergelut dalam pikiranya.
Vian menatap Jayden dengan wajah datar masih dengan posisi berbaring terlentang diatas kasur “kenapa kau melihatku seperti itu?” ucap jayden serak.
Jayden masih berdiri disisi ranjang dengan menatap Vian yang sudah berubah posisi menjadi duduk dipinggir ranjang, mungkin setelah mendengar suara Jayden yang serak, alaram tanda bahaya diotak Vian langsung berbunyi.
“apa yang kau pikirkan tadi hem?” tanya Jayden mengambil posisi duduk berdekatan dengan Vian dipinggir ranjang. Vian sedikit menggeser tubuhnya menjauh dari Jayden.
“aku lapar”
Bukanya menjawab pertanyaan Jayden, Vian malah berkata lain, seperti Vian sedang menghindari pembahasan itu. jayden hanya menatap datar Vian, dan menganggukan kepala.
Jayden berdiri dan mengulurkan tanganya pada Vian, tapi tidak ada sambutan dari tangan Vian, hanya ada tatapan bingung dari manik indah itu.
“ayo” ucap Jayden kembali mengulurkan tanganya pada Vian “apa maksudmu?” tanya Vian yang menatap wajah Jayden dan tangan Jayden secara bergantian.
“ayo, kau lapar kan. Kita sarapan dibawah” Vian langsung menggeleng keras “aku tidak mau” seru Vian cepat.
Memang sejak awal Vian tidak Mau lagi sarapan diruang makan bersama dengan para petinggi pack yang lain, Vian selalu meminta Jayden tau Maid yang dipercayakan untuk memenuhi segala keperluanya.
Bukan mau bertindak tidak sopan, hanya saja Vian tidak ingin melihat tatapan yang selalu tertuju padanya. Vian terbiasa tidak terlihat dan tidak menjadi perhatian banyak orang, walau Vian memiliki otak yang cukup pintar tapi ia tidak pernah menjadi pusat perhatian.
Apalagi tatapan orang orang itu menelisik dan intens disana mampu membuatnya jengah dan kesal.
“ayolah baby, mereka semua ingin melihat Luna mereka. Apa kau mau mengecewakan mereka lagi?”
“tidak, apapun alasanya aku tidak mau sarapan dibawah. Aku akan meminta maid mengantar makanan”
Jayden menghela nafas, sejak beberapa hari yang lalu setelah berta Luna pack sudah ditemukan banyak sekali para petinggi pack yang lain datang hanya untuk melihat Luna mereka. Tapi sayang sekali mereka tidak bisa melihat, Vian terlalu nggan memperlihatkan diri pada semua orang.
Alhasil Jayden terpaksa membuat alasan agar mereka tidak kecewa dengan mengatakan Luna mereka tidak akan memperlihatkan diri sebelum hari perkenalan resmi, untung saja mereka memaklumi dan beranggapan Luna mereka mau membuat kejutan untuk mereka.
“untuk kali ini maaf baby, aku tidak mau mendengarkan mu”
Selanjutnya memekik keras saat tubuhnya melayang dan berada dibahu Jayden, rasanya seluruh darah pada tubuh Vian mengalir kencang menuju otaknya. Posisi Vian sekarang sudah sama dengan karung beras, kepalanya pening karena gerakan tiba tiba Jayden.
Vian mencoba memberontak dan menurunkan diri dari bahu tegap Jayden “uggh….Jay turunkan aku, kepalaku pening s****n!” seru Vian murka.
“aku akan menurunkan mu tapi nanti baby” Vian melontarkan segala sumpah serapahnya selama perjalanan menuruni tangga.
Sampai di ruang makan, Jayden langsung menurunkan Vian.
Kepala Vian terasa berkunang kunang, seperti darah yang tadi mengumpul diotaknya langsung menghilang dengan cepat.
“aiisshh…bajingan s****n! Kau membuat kepala ku pening” umpat Vian. Bukanya marah, Jayden malah tertawa ringan melihat ekspresi lucu Vian yang memegani kepalanya.
Setelah rasa pening pada kepalanya berangsur hilang, Vian tersadar dimana ia saat ini.
Ruang makan! Dan sialnya sekarang tatapan semua orang yang ada disana tertuju padanya, bahkan ada yang mulutnya terbuka seakan tidak percaya.
Oh…demi jesus!
Vian langsung menyembunyikan dirinya dibalik tubuh besar tegap Jayden, menghindari tatapan yang tertuju padanya. Sialnya saat ini penampilan Vian mendukung dirinya menjadi pusat perhatian.
Baju tidur dengan motif kartun beruang dengan anak kecil berpakaian pink!
“selamat pagi Luna yang cantik” seru salah seorang dari meja makan.
Seorang pria dengan tampilan sangat berbeda dengan yang lain, menggunakan celana levis belel yang sobek diberbagai tempat, kaos coklat polos yang tampak kumal dipadukan dengan kemeja bermotif kotak kota berwarna abu abu, sepatu kets, serta tatanan rambut seperti belum disisir. Bukan cerminan seorang Beta!
“tutup mulut mu Billy, jangan berani menggodanya” ucap Jayden tajam, menatap Billy dengan tatapan kesalnya.
Tapi yang ditegurnya itu Billy, seseorang dengan ketidak pekaan serta sifat masa bodoh yang sangat akut.
“aku tidak menggodanya, aku hanya memujinya”
“ka-aw!” Jayden mengaduh ketika punggungnya dicubit dengan cukup keras oleh Vian.
Vian menatap Jayden seolah mengatakan jangan banyak bicara!
Billy tersenyum lebar menatap Jayden seakan mengatakan lihat aku dibela oleh Luna, oh…ingin sekali Jayden menguliti Billy saat ini dan menjadikan kulit Billy sebagai mantel berbulunya.
Setelah sarapan pagi yang sedikit kaku bagi Vian karena saat sarapan tidak jarang orang orang disana melontarkan pertanyaan kepadanya, yang syukurnya bisa dijawabnya walau seadanya saja.
Vian kini tengah menaiki anak tangga kembali ke kamarnya, ia harus memikirkan apa yang harus ia lakukan hari ini. Bosan rasanya jika hanya menghabiskan waktu di pack house.
“Luna”
Langkah Vian terhenti saat mendengar panggilan yang ditujukan padanya, siapa lagi di pack ini dipanggil dengan sebutan Luna jika bukan dirinya?
Vian berbalik, disana sudah ada Billy yang berdiri tegak menghadapnya, menatap Vian dengan cengiran rianga dan hangat selayaknya matahari.
“ada apa?” ucap Vian datar. Bukanya menjawab, Billy malah mengulurkan tanganya seakan meminta Vian menajabat tangannya ini.
Vian menatap bingung Billy yang mengulurkan tanganya “ayo bertemen” ucap Billy menyadari kebingungan Vian.
“berteman?”
“ya…aku mau berteman dengan mu Luna”
Berteman? Vian tidak memikirkan bahwa Billy akan menawarkan pertemanan padanya. Selama hidupnya orang yang mengawali mengajaknya berteman hanya Ken, sedangkan Nick, Daniel, dan Feny adalah teman Ken yang tampa sadar bisa akrab dengannya dan mendapatkan sebutan teman dari Vian. Tampa adanya kalimat mengajaknya menjadi teman.
Dengan perlahan Vian menjabat tangan Billy, tanda ia menerima Billy sebagai temannya. Untung saja tidak ada Jayden, jika sampai Jayden yang pecemburu itu melihat sudah bisa dipasikan bagaimana nasib Billy pada akhirnya.
Senyum merekah terukir indah pada bibir sexy Billy “sekarang kita teman Luna” ucapnya gembira.
Vian hanya tersenyum tipis, tidak ada salahnya mencoba perteman dengan orang seperti Billy. Sejak melihat Billy, Vian menebak Billy merupakan orang yang tidak kaku dan sangat santai serta ceria.
“jika tidak ada lagi, aku mau kembali ke kamar”
Namun pergerakan Vian terhenti, Billy menahan tanganya “ada apa lagi?” tanya Vian.
“aku mau berterima kasih”
“untuk apa?”
“untuk membelaku saat akan dimarah oleh Alpha tadi”
Ah…ternyata hal itu, Vian merasa hal itu biasa saja, tidak perlu mendapatkan ucapan terimakasih. Ia melakukan itu karena kesal Jayden yang terlalu banyak bicara.
“sama sama, aku hanya kesal denganya tadi”
Billy tertawa mendengarnya, hanya Luna mereka yang berani berlaku demikian pada Alpha mereka hanya karena kesal.
“aku akan berjanji satu hal pada mu, untuk membalas pembelaan mu yang tadi” Vian menggelengkan kepala, menurutnya hal itu tidak perlu sampai demikian.
“tidak perlu, jangan pernah berjanji padaku. Aku akan sangat kecewa jika seseorang sudah berjanji tapi tidak bisa menepatinya”
“aku akan menepatinya, aku bersumpah”
Vian terdiam, menatap dalam manik mata Billy. Ada sebuah keresahan dan tekat dalam manik mata itu.
“aku berjanji sebagai kakak pada adiknya, aku berjanji jika suatu hari terjadi sesuatu yang berniat buruk pada mu, aku akan menjadi orang yang akan dengan sekuat yang aku bisa untuk membuat mu tidak terluka”
Ada kesungguhan pada manik mata itu, Vian bisa merasakanya. Vian memang tidak mengerti apa maksud Billy tapi dia hanya menganggukan kepala, tidak berniat terlalu memikirkanya.
“tapi Billy, aku bukan adikmu”
“kalau begitu mulai sekarang kau adik ku”