11

914 Kata
Ranjang besar Cat tembok putih bersih Tatanan kamar mewah Wangi maskulin Nuansa asing Dimana sebenarnya Vian berada sekarang? Saat terbangun, Vian disuguhkan dengan segala hal yang asing baginya. Otak cantiknya mencoba memutar kilas balik apa yang terjadi sebelum dirinya tak sadarkan diri, tapi hasilnya nihil. Tidak ada yang ia ingat sama sekali. Vian masih terbaring terlentang diatas ranjang dengan empat tiang penyangga disetiap sudutnya. Sempat terlintas dipikiran Vian jika dirinya diculik lali diperkosa oleh orang asing, tapi tidak mungkin. Ia masih berpakaian lengkap seperti awal, selangkangnya pun tidak terasa sakit. Jadi dengan cepat Vian tepis pikiran itu, lantas dimana dirinya saat ini dan apa motif orang itu menculiknya. Mau meminta tebusan? Tidak mungkin, mommy dan Olive hanya pekerja biasa dan tidak memiliki banyak uang untuk menebusnya. Dan pemikiran yang paling tepat adalah ia diculik untuk di jual organ tubuhnya atau dijadikan wanita rumah bordir. Arrrggghh.....kepalaku lelah berfikir. Sibuk dengan pikirannya, Vian tidak menyadari seseorang kini tengah mendekat ke arahnya. "Apa yang kau pikirkan baby?" "Oh jesus!" Vian terkejut dengan ke hadiran Jayden yang ntah kapan sudah berada di sebalah ranjang, menatap lurus ke arahnya. Sontak Vian langsung terduduk bersila diatas ranjang, menatap waspada Jayden. "Jangan melotot seperti itu baby, nanti aku tidak bisa mengontrol agar tidak menyerang mu jika terus bersifat imut seperti itu" Gila! Jerit batin Vian. Matanya terbelak saat Jayden duduk ditepi ranjang dan bergerak mendekat ke arahnya. "b******n s****n! Berani berani nya kau menculik ku" maki Vian, tidak gentar. Walau jujur ia sedikit takut dengan situasi saat ini. "Mengapa tidak, kau milik ku" "Cih...milik mu? Sorry i'm not yours!" Jayden tidak menanggapinya, semakin mendekat memojokan Vian di sudut ranjang "ingin bukti?" Ucap Jayden. Vian tidak berkata, memalingkan wajahnya dari tatapan Jayden. Grab.... Mata Vian terbelak sempurna saat Jayden meraup wajahnya dan mendaratkan bibir dinginnya diatas bibirnya. Bibir Jayden melumat dengan ganas bibir Vian, menyesap, dan mencumbunya. Vian mencoba memberontak, kaki dan tangannya aktif mencoba mendorong Jayden dari atas tubuhnya. Namun dengan cepat Jayden memblok semua usaha Vian, kaki Jayden mengapit kaki Vian agar tidak bergerak, tangan jayden menangkap kedua tangan Vian dan menariknya ke atas. Gerakan bibir Jayden semakin liar, mengigit bibir bawah Vian hingga membuat sang empu memekik kesakitan. Hal ini tidak di sia sia kan oleh Jayden untuk melesatkan lidahnya, mengabsen setiap inci rongga mulut Vian, saling bertukar liur. Ketika merasa pasokan udara sudah menipis Jayden melepas cumbuannya dengan tidak rela. "Apa yang kau rasakan?" Tanya Jayden dengan nafas menderu. Terpaan nafas Jayden terasa diwajahnya, Vian jadi tidak berani membuka mata. Jika bertanya bagaimana perasaan Vian, makan jawabnya adalah detak jantungnya mengila, tubuhnya mendamba, ada sesuatu yang menggelitik pada perutnya, ada rasa yang tidak bisa Vian jabarkan. Berbeda sekali dengan apa yang ia rasakan saat berciuman dengan Ken ataupun pria lain! "Detak jantung mu menggila, tubuh mu mendamba, dan ada getaran aneh yang seakan mendesir di aliran darah mu bukan?" Ucap Jayden sambik mengelus wajah Vian searah garis wajah gadisnya itu. "Membosankan" "Hm?" "Ciuman mu sangat membosankan, aku sudah sering melakukan ciuman seperti itu dengan Ken" ucap Vian bohong, gengsi mengakui bahwa dia mendamba ciuman itu. Cengkraman Jayden pada tangan Vian menguat, membuat Vian memekik kesakitan. "Membosankan heh? Baik biar aku berikan yang tidak membuatmu bosan" Saat Jayden akan menyerang kembali bibir raum yang sudah membekak itu, ketukan pintu menghentikanya. Tok...tok...tok....tok...tok....tok... "Uncle, keluar kau! Jangan macam macam dengan Vian!" Jayden mengumpat dalam hati, Ken b*****h! Berani sekali ia mengganggu kegiatanya. "Abaikan" ucap Jayden, meneruskan kembali niatnya. Tapi untuk sekali lagi, suara ketukan yang membabi buta menghentikan dirinya. Tok....tok....tok.....tok....tok....tok....tok......tok.....tok....tok....tok.... "Buka ancle!" "Akan aku dobrak pintunya jika dalan kehitungan ke tiga belum terbuka!" Shit! Keponakan s****n, maki Jayden. Ken sama dengan Jayden, jika sudah mengatakan itu, makan hal itu akan terjadi. Jayden beranjak dari atas tubuh Vian, membuka pintu, menatap kesal Tamu tak di undang itu. Bugh.... Ruang tengah pack house tampak tegang, atmosfir dalam ruangan itu sangat tidak baik. Jonathan duduk disalah satu sofa dengan Emma disampingnya. Emma menggenggan erat tangan suaminya yang terkepal. "Jadi dalam rangka apa kalian berkumpul disini?" Tanya Jayden santai, mengabaikan tatapan tajam dari semua orang yang ada disana yang layaknya pedang yang menghunus kearahnya. "Jay, dengarkan aku. Kembalikan Vian ke keluarganya, kau tau sedang terjadi kekacauan kerana tindakan seenak mu itu" ucap Charlie membuka percakapan, mewakili Jonathan yang tampak masih mencoba mengontrol emosinya. "Kembalikan kemana? Disini tempatnya, dia Luna pack ini" "Jay, dengar! Diluar sana keluarga Vian mencarinya dengan gelisah, mereka berniat melaporkan ini sebagai kasus penculikan dan orang hilang. Jika kau menginginkan Vian, lakukan dengan benar, dapatkan hatinya dengan cara yang gentle, bukan dengan cara pengecut, Kau seorang alpha, pemimpin, bukan pecundang" ucap Eli menggebu penuh emosi. Bagi Eli, Vian sudah selayaknya putri kandung. Eli yang hanya memiliki Ken sebagai putranya, dan tidak bisa memiliki putri sangat menyayangi Vian sama dengan ia menyayangi Ken. Mendengar Vian menghilang mampu membuatnya seperti terkena serangan jantung seketika, panik tidak karuan. Namun setelah mengetahui bahwa biang dalam hilangnya Vian adalah adik kesayangannya mampu membuat jiwa ke ibuan berubah menjadi demon. Jayden menghela nafas "mendapatkan hatinya? Terlalu lama, pack dan aku butuh segera Luna mereka" ucap Jayden. "Lagi pula, mau tidak nya Vian tidak berpengaruh pada hal yang sudah tergariskan jelas ditakdirnya" lanjutnya. "Tapi tidak dengan cara menculik dan mengurungnya didalam kamar!" Seru Ken mulai kesal dengan perangai Uncle gilanya ini. Mengabaikan benjol dikepalanya akibat pukulan Jayden tadi. "Membiarkan kau terus menempel denganya layaknya lintah?! Jangan harap Ken!" Sentak Jayden tajam menggunakan Alpha tone. Semua yang berada disana terdiam kaku, tidak berani berkutik, namun tidak dengan Jonathan yang memang tidak berpengaruh sama sekali. "Aku mengerti sikap posesif mu itu son, tapi tindakan mu tidak dibenarkan. Kembalikan Vian, jangan membuat kekacauan" "Tidak akan aku lakukan Dad, Vian sudah ada disini dan tidak akan selangkah pun keluar dari wilayahku tampa izin dari ku" Jonathan dan Jayden saling melempar tatapan tajam "kau akan menyesalinya kemudian Uncle" ucap Ken tiba tiba. Jayden menatap tajam Ken, menyesalinya? Tidak, ia tidak akan menyesalinya. "Ak-" "Kenapa kalian berkumpul disini?" Tbc....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN