Balas dendam

1026 Kata
Aji kemudian mendekati pintu gerbang yang terbuat dari kayu tersebut dan menendangnya dengan keras. Brakkk! Saking besarnya tenaga dalam yang dikeluarkan Aji, pintu gerbang itu sampai jebol dan mengeluarkan suara yang begitu keras. Winarto yang baru keluar dari kediamannya dibuat murka, apalagi setelah melihat Aji menatapnya dengan begitu tajam. "Kau masih hidup ternyata, b*j****n tengik! Aku pastikan hari ini tidak ada lagi yang akan menyelamatkanmu!" Bentak Winarto. Di belakangnya, sekitar 40 orang anak buahnya sudah memegang senjatanya masing-masing dan bersiap untuk menyerang, mereka hanya menunggu perintah dari Winarto untuk mencincang tubuh Aji. "Kau terlalu percaya diri, Winarto! Semua orang yang ada di tempat ini tidak akan kubiarkan keluar hidup-hidup," tegas Aji. Diam-diam dia mengalirkan tenaga dalam ke tangannya. "B*****t! Cincang dia...!" Winarto berteriak memberi perintah kepada anak buahnya. 40 orang anak buah Winarto merangsek maju menyerang Aji bersama-sama. Desingan senjata mereka terdengar bersahutan membelah udara, saat serangan mereka hanya menyasar tempat kosong. Aji dengan tenang menghindari setiap serangan yang mereka lakukan. Tidak terlihat raut kegugupan sama sekali di wajah lelaki kekar dan tampan itu. "Aaakh!" Satu persatu anak buah Winarto tergeletak di tanah dengan perut maupun d**a yang jebol, ada pula yang kepalanya retak terkena pukulan Aji yang mengandung tenaga dalam besar. Aji sendiri cukup heran dengan pertarungan pertamanya setelah menyelesaikan latihan di bawah bimbingan Prayoga. Dia merasa instingnya bekerja lebih cepat seolah tubuhnya bergerak sendiri tanpa dikendalikannya. Aji menjadi lebih percaya diri. Kini dia bergerak menyerang dengan lebih cepat. Sebuah serangan yang dihindarinya, pasti diakhiri dengan serangan balasan yang mematikan. Dalam waktu yang relatif singkat, Aji yang bahkan belum mengeluarkan pedangnya, sudah berhasil membunuh hampir 30 orang anak buah Winarto. Winarto terkejut dengan perkembangan Aji yang pesat. Pemimpin perampok itu mendengus kesal melihat hampir 30 orang anak buahnya sudah meregang nyawa. "Serang dia!..." Bentar winarto kepada 12 anak buahnya yang tersisa, tapi yang terjadi membuat Winarto belingsatan. Tidak ada satu pun anak buahnya yang menuruti perintahnya. "Anggotamu lebih takut kematian daripada takut padamu, Winarto," cibir Aji. senyuman tipis rapi mengejek terlontar dari bibirnya. "Kalau kalian tidak menyerangnya, maka kalian yang akan aku bunuh!" Bentak winarto. Anak buah winarto dalam posisi dilema. Mereka sulit untuk mengambil keputusan, Antara dibunuh Aji, atau dibunuh ketuanya. "Kalian semua, jika ada yang bisa membunuh winarto, aku akan membiarkan keluar dari tempat ini hidup-hidup." Aji memberi penawaran kepada anak buah winarto, karna dia melihat mereka merasa kebingungan dalam mengambil keputusan. Setelah saling berpandangan, mereka mengambil kesimpulan untuk melawan Winarto daripada melawan Aji. Mereka melihat kemampuan Winarto masih di bawah lelaki yang pernah menjadi teman mereka itu. Jadi kemungkinan untuk hidup lebih besar daripada harus melawan Aji. Winarto marah besar melihat ke 12 anak buahnya bergerak mengepungnya, dia mencabut pedangnya dan menyerang anak buahnya dengan membabi buta. Aji tertawa kecil karna dia bisa mengadu domba anak buah Winarto. Karna sejatinya dia tidak akan membiarkan satupun anggota perampok itu untuk hidup lebih lama. Sebagai pemimpin perampok, Winarto tentu bisa mengalahkan anak buahnya meski dengan penuh kerepotan. Selanjutnya, tatapan matanya menatap tajam ke arah Aji yang tersenyum mengejek melihatnya penuh dengan peluh dan nafas terengah-engah. "Kau ingat bagaimana membunuh istri dan anakku dengan begitu keji? Hari ini aku akan memperlakukanmu sebagaimana kau memperlakukan mereka, bahkan lebih keji!" Aji mengambil pedang yang tergeletak di sampingnya. Melihat tatapan Aji yang seakan hendak mengulitinya, Winarto menelan ludahnya berkali-kali. Namun nasi sudah menjadi bubur, andai dia meminta maaf pun Aji pasti tidak akan memaafkannya. Dan opsi satu-satunya hanya bertarung sampai mati, pikirnya. "Angkat senjatamu, Winarto! Jangan jadi pengecut yang hanya bisa bersembunyi dibalik ketiak anak buahmu!" Bentak Aji, sebelum menyerang Winarto yang jelas-jelas sudah merasa kalah sebelum bertarung. Winarto bergerak mundur sambil menyabetkan pedangnya menangkis serangan Aji. "Aaaakkkh!" Winarto memekik keras setelah tangan kirinya terkoyak lebar terkena ujung pedang Aji yang menelusup kedalam daging lengannya hingga tulangnya terlihat. "Setelah ini, kedua telingamu yang tidak bisa mendengar jeritan kesakitan anak istriku, akan ku lepaskan dari kepalamu. Percuma kau punya telinga jika tidak bisa mendengarkan apapun!" Cibir aji. Tangannya bergerak dengan cepat menyisir bagian atas Winarto untuk memotong telinga pemimpin rampok tersebut. Pekikan kembali terdengar dari bibir pimpinan rampok itu, setelah telinga kanannya terlepas dari kepalnya. Selang sesaat kemudian, telinga kirinya terjatuh ketanah setelah tertebas pedang Aji. "Bunuh aku sekarang! Jangan menyiksaku seperti ini!" Teriak Winarto sambil menahan rasa sakit yang dirasakannya. "Kau tahu berapa lama rasa sakit yang kurasakan setelah kau membunuh keluargaku? hampir 3 tahun menunggu kesempatan ini!" Bentak Aji. Winarto yang hendak bunuh diri dengan menggorok lehernya sendiri, tiba-tiba pedangnya terlepas dari tangannya. Bukan hanya pedangnya, bahkan tangan kanannya pun ikut terlepas dari tubuhnya. "Aaakkh! Tolong bunuh aku! Aku sudah tidak kuat lagi dengan rasa sakit ini!" Winarto mengiba memohon untuk dibunuh. Aji tersenyum dingin melihat derita yang dirasakan Winarto, "Kau mau mati? Tunggulah sampai darah yang ada di tubuhmu keluar semua." Mata Winarto berkunang-kunang dan pandangannya semakin kabur. Dia seperti merasakan bahwa sesaat lagi nyawanya akan tercabut dari raganya. Bayangan korban kejahatan yang dilakukannya, perampokan, pemerkosaan dan pembunuhan terlihat menari-nari di pelupuk matanya seakan mengejeknya. Winarto pun tumbang dan jatuh terkulai sebelum nyawanya tercabut dari tubuhnya. Aji menatap semua mayat yang ada di tempat itu. Dia beranjak memasuki kediaman Winarto dan mengumpulkan harta benda yang bisa dibawanya, terutama koin uang. Satu persatu mayat anggota perampok itu dimasukkannya ke dalam dan dikumpulkannya menjadi satu. Setelah itu dia membakar markas yang dahulu menjadi tempatnya mencari nafkah, ketika masih menyandang status sebagai anggota perampok. Sambil duduk dan bersandar di sebuah pohon besar yang cukup jauh dari markas para perampok itu, Tatapan matanya nanar melihat api yang meluap-luap dan membakar hingga habis bangunan yang terbuat dari kayu tersebut. "Ke mana aku harus melangkahkan kakiku ini?" tanyanya dalam hati. Tangannya menarik pedang iblis yang tergantung di punggungnya. Dia teringat dengan pesan Prayoga yang mengatakan jika pedang itu yang akan menuntun langkahnya. Dipandangi dengan seksama setiap bagian dari pedang berwana hitam legam tersebut, pedangku katakanlah kemana aku harus melangkah?" Ucapnya pelan bertanya. Pedang iblis tidak merespon sama sekali ucapan Aji. Pedang berbilah hitam tersebut hanya diam dan tidak menunjukan reaksi apapun cukup lama, hingga membuat Aji kesal dan memasukannya kembali kedalam sarungnya. Aji bangkit dari duduknya. Pandangan matanya kembali menatap markas perampok yang sudah tinggal puing-puing, tapi masih mengeluarkan asap tebal menghitam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN