JANGAN MUDAH PERCAYA

1261 Kata
"Mbak. Bantu aku aja yuk, di kedaiku," ajak Windy. "Sudah berapa kali aku bilang panggil aja, Ini. Kita 'kan seumuran," ujar Radjini seraya menyusun pakaian ke dalam lemari. "Dan tidak. Bapak sama Ibu sudah terlalu baik ngasih tempat tinggal. Masa iya mau ngasih kerjaan sama gaji juga. Mending aku ikut kerja orang lain saja." "Ya nggak apa-apa I... ini. Beda yang menggaji, bukan Bapak atau Ibu," jawab Windy yang masih merasa canggung. Bagaimana tidak canggung. Selama ini ia merasa bahwa Radjini dengan penampakannya yang lusuh terlihat lebih tua dan kenyataannya bahkan Radjini lebih muda satu tahun darinya dan bersuami. Dari mana ia bisa tahu? Semua karena perempuan modis yang datang waktu ini dan mengakui bahwa Radjini adalah adiknya. Padahal selain nama tidak ada kemiripan diantara mereka. Oleh sebab itu ia sangat mendukung orangtuanya yang tidak mau menyerahkan Radjini begitu saja. "Kamu nggak tahu kalau Bapak sama Ibu masih melarang aku pegang benda-benda di dapur." "Itu demi kebaikanmu sendiri. Kamu masih suka histeris lihat pisau." "Nah itu tahu. Kenapa mau ajak aku kerja di kedai kuemu?" "Ya 'kan beda. Kamu bisa kerja di kasir. Nggak pegang pisau sama sekali." "Di kafe juga nggak pegang pisau." "Eh jangan. Jangan di kafe. Di kafe sudah banyak pegawai. Sama aku aja." "Kalian ribut apa, sih?" tanya Sukanti yang berada di ambang pintu dengan Silvy—gadis berusia enam belas tahun—yang duduk di kursi roda. Silvy adalah anak bungsu Sukanti yang menderita Cerebral Palsy. "Bu, bantu bujuk Ini untuk kerja di kedai," ujar Windy. Sukanti menatap Radjini yang menggeleng dan kemudian menghela napas Panjang. "Anaknya nggak mau, jangan dipaksa." "Ya .... Ibu gitu. Padahal dia jago loh hitung-hitungan. Ibu nggak lihat tuh, lima puluh perak aja dia tulis. Detail banget. Sampai biaya kos anak-anak ditulis. Dia mau ganti semua biaya selama ini." Mata Radjini membelalak begitu memahami maksud dari perkataan Windy. Bagaimana bisa wanita muda yang duduk di pinggir ranjangnya ini tahu jika ia mencatat semua pengeluaran dari sepasang malaikat baik hati itu. "Betul itu, Ini?" tanya Sukanti yang tidak kalah kagetnya. "Untuk apa? Kami selama ini membantumu itu iklas, Nak." "Bukan begitu, Bu. Ini hanya ingin... tahu saja. Anu biar nggak terlalu hutang budi. Bagaimanapun Ini harus bisa mandiri. Tidak mungkin kalau Ini tinggal di sini terus." "Kenapa tidak?" desak Sukanti yang sedih dengan perkataan Radjini. "Ini tahu kalau Ini sudah punya suami," ujarnya yang kini sudah ikut duduk di sebelah Windy karena lututnya tiba-tiba bergetar karena mengingat nama Agha Danayaksa. "Ah itu 'kan belum tentu benar. Apa kamu masih mengingat-ingat wanita itu?" tanya Sukanti dengan hati-hati. Radjini mengangguk kemudian menggeleng. "Bukan karena perempuan itu. Tapi Ini ingat. Ini ingat waktu sakit kepala. Nama suami ini Agha." "Ingat rupanya?" tanya Windy antusias. Siapa tahu ia bisa membantu menemukan keluarga Radjini, pikirnya. "Rupa?" "Mukanya. Face? Ganteng nggak?" tanya Windy lagi, seraya menunjuk wajahnya sendiri. Radjini hanya menggeleng. "Nggak ingat. Ini hanya mendengar suara-suara saja di kepala yang bikin sakit," ujarnya seraya memijit kembali kepalanya. "Sudah-sudah jangan dipaksakan. Duh ngeri ibu, nanti kamu pingsan lagi. Padahal baru kemarin Dokter bilang kamu sudah sembuh," tukas Sukanti. "Aku ditawarin menjadi OG." "Di mana?" tanya Windy. "Di resort baru." "Siapa yang kasih tawaran?" tanya Sukanti. "Kak Tiur. Ibu tahu 'kan, yang dulu suka kasih kardus juga pakaian dalam." "Oh dia. Itu 'kan dia kasih karena kamu bantu bersih-bersih kedainya," timpal Sukanti. "Iya. Dia sama baiknya dengan Ibu dan Bapak. Ini mungkin akan terima tawarannya." "Resort mana, sih? Jauh nggak? Nanti kamu tinggal di mana?" berondong Sukanti. "Resort baru Shaniha Bhavanti?" tanya Windy. "Sepertinya itu," jawab Radjini yang kemudian meraih tas slempang bermotif bunga mawar dan menyerahkan sebuah flyer kepada Windy. "Wah... yakin kamu mau kerja di sana? Bagaimana dengan kesehatanmu?" "Maksudnya? Aku 'kan sudah sembuh." "Iya aku tahu. Cuma ini 'kan dekat dengan daerah kamu dulu tinggal. Apa orang nggak akan mengenali kamu?" "Kamu takut aku akan kambuh?" "Bukan karena itu, tapi orang-orang sekitar atau mungkin teman kerjamu nanti yang mengenalimu." Radjini menghela panas panjang. "Lalu aku harus bagaimana? Apakah penyintas ODGJ sepertiku tidak bisa memiliki kesempatan kedua?" Sukanti mendekat dan menggusap punggung Radjini menenangkan. Radjini suka diperlakukan demikian, rasanya seumur hidup ia belum pernah mengalami kehangatan kasih sayang seorang ibu. "Aku tidak pernah ingin merepotkan siapapun. Aku hanya anak dan...." "Dan apa?" tanya Sukanti yang penasaran sekaligus ingin tahu sejauh mana Radjini mengingat tentang masa lalunya. "Tidak penting, Bu. Ini nggak mau Ibu jadi kepikiran. Selama ini kalian sudah sangat repot menjagaku. Masih ada Silvy yang membutuhkan perhatian. Ini akan bekerja di luar saja. Apapun resikonya." "Kalau boleh bapak memberi nasehat," ujar Marwan yang kini juga ikut bergabung dengan mereka. "Ya Pak?" tanya Radjini. ''Jangan mudah percaya dengan siapapun, dan jika ada yang mulai mengganggumu, kabari bapak. Bapak tidak akan banyak melarangmu. Bagaimanapun kamu sudah seperti anak kandung bapak. Bapak mau Ini nggak merasa terkekang." "Tapi Pak?!" protes Sukanti dengan kecemasan yang jelas tidak ia tutup-tutupi. "Bapak tahu Ibu cemas. Kita semua sayang bukan dengan Ini? Karena hal itu sebaiknya kita beri dia kesempatan." "Kenapa bapak melunak, apa perempuan itu mendesak lagi?!" tanya Sukanti dengan nada suara yang sama. "Perempuan siapa?" tanya Radjini dan Windy nyaris bersamaan. "Siapa lagi. Itu perempuan yang mengaku sebagai kakaknya Ini. Masih saja datang ke sini bahkan berani mau kasih cek sama Willy agar mau mempertemukan dengan Radjini," ujar Sukanti. "Apa mungkin benar dia kakaknya?" tanya Windy. "Kalau memang benar kakaknya seharusnya dia bisa menunjukkan akta lahirnya Radjini," kata Marwan. "Apa harus sampai sejauh itu?" tanya Windy lagi. "Kalau cuma bukti foto masa kecil saja buat bapak nggak ada artinya. Bukti bisa dipalsukan," ujar Marwan. "Akta lahir? Ijazah," kata Radjini yang kemudian segera bangkit berdiri begitu ingat dengan semua surat pentingnya itu. "Iya, ada apa?" tanya Marwan. "Dia nggak mungkin punya," ujar Radjini. "Siapa?" tanya Sukanti kini. "Wanita yang mengaku sebagai kakakku." "Kenapa begitu." "Aku membawanya saat pergi dari rumah," ujarnya pelan. "Kamu ingat?" Sukanti memastikan. "Mau ke mana kamu?" Wanita tua bersanggul dengan gaun terusan berwarna gading dan perhiasaan mewah itu mencegah Radjini yang sedang menenteng koper. "Aku mau pergi, Ma." "Sabar dulu, Nak. Biasa kalau suami itu jajan diluar yang penting dia kembali ke rumah. Hanya kamu ratu di rumahnya." "Seorang Ratu seharusnya dihormati. Mama bisa memaklumi jika Papa serong. Tetapi aku tidak mau. Aku mau bahagia Ma, aku tidak mau menjadi pengganti siapapun. Aku adalah diriku sendiri bukan pengganti siapapun." "Kamu tidak bisa pergi. Kamu tidak boleh pergi, apalagi dengan cucuku masih di dalam perutmu!" "Anakku," ujar Radjini seraya mengerjabkan mata kembali tersadar setelah teringat kembali peristiwa di mana ia hendak pergi. Kenapa semua hal yang diingatnya semua menyakitkan? "Kamu kenapa?" tanya Sukanti yang kini merengkuhnya. "Ingat anak lagi?" tanya Windy yang saling bertatapan dengan Radjini yang mulai berkaca-kaca. "Aku pergi dengan anakku masih di dalam perut. Apa mungkin anakku sudah mati?" Windy menggeleng bingung sekaligus sedih, tak bisa berkata-kata karena ia pun tak mengerti. Kehidupan masa lalu Radjini sama sekali tidak diketahui oleh mereka. Apalagi KTP yang dibawa Radjini pun sudah hampir rusak tak bisa dikenali lagi. Bagaimana mereka bisa mencari tahu jika NIK-nya saja tidak bisa terbaca. "Kamu ingat tidak di mana rumahmu, dulu?" tanya Windy seraya kini membimbing Radjini untuk kembali duduk sementara Marwan mengulurkan segelas air putih. "Minum dulu. Duh Nak, gini amat nasibmu," ujar Sukanti membantu memegangi gelas dalam genggaman Radjini yang bergetar. "Aku nggak ingat. Tapi sepertinya aku ingat di mana aku menaruh akta lahir dan ijazahku." "Mungkin bisa dimulai dari sana. Kalau mau nanti kita cari tahu," usul Windy. "Ya aku mau." "Kira-kira jauh nggak dari sini?" "Nggak tahu. Bisa jadi." "Besok kita cari kalau begitu. Sekarang kamu istirahat dulu." tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN