Radjini menaruh tas berisi banyak macam benang dan kain-kain lucu di motor matic berwarna merah. Motor baru, hasil dari keringatnya sendiri. Walaupun motor bekas tetapi ia puas. Akhirnya dengan perlahan ia tidak lagi akan bergantung dengan keluarga Marwan. "Mbak," sapa seorang gadis muda berseragam toko benang tempatnya tadi belanja. "Ya?" "Ini kartu nama kami. Siapa tahu Mbak kalau mau belanja banyak jadi kami bisa antarkan," ujarnya. "Oh bisa ya?" "Bisa banget. Kalau Mbak punya email juga nanti kami bisa kirim katalog jadi tinggal pesan saja atau mungkin w******p?" "Lewat w******p aja. Saya belum paham pakai email itu. Nggak bisa balasnya," balasnya dengan wajah bersemu merah. "Baik. Bisa minta nomor w******p-nya. Nanti bisa masuk ke grup pelanggan kami. Biar tidak tertinggal info

