Sea - 16

2117 Kata
 Dua hari berlalu sejak kejadian itu, siang ini matahari terasa begitu dekat. Membuat suhu udara menjadi lebih panas dari hari biasanya. Angin yang berhembus sesekali pun tak membuat keadaan sekitar menjadi lebih baik, sama sekali tak terasa menyejukkan. Seorang gadis tengah memeras pakaian dengan begitu kencang hingga seluruh air yang tersimpan di dalam baju luruh keluar, lalu ia pun menjemurnya di sebuah tali paniang yang sudah ditegakkan dengan kayu yang tinggi. Sesekali tangannya menyeka keringat yang keluar dari dahinya. "Duh ... kenapa hari ini panas banget?" ucap Jinan kepada dirinya sendiri seraya melihat langit yang begitu menyilaukan mata.  "Jinan ..." Gadis itu langsung menoleh dan tersenyum melihat Kak Kia yang sudah berada di hadapannya. "Iya, Kak?" jawabnya. "Sudah ... jangan dilanjutkan lagi, biarkan saja itu ... nanti Kakak yang lanjutkan ... hari ini cuaca sangat panas ... lebih baik kamu di dalam saja," ujarnya. Jinan mengerutkan keningnya. "Nggak apa-apa, Kak ... cuma panas ini, lagian juga ini cuciannya tinggal dikit lagi." Selalu saja seperti itu, Kak Kia tak akan membiarkannya terlalu kelelahan. Padahal ... Jinan tahu sendiri bahwa wanita itu juga pasti sangat lelah karena mengurus pekerjaan rumah tangga seharian. Tetapi, tetap saja ia selalu menyuruh Jinan untuk tak terlalu lelah dan membiarkan ia sendiri yang melanjutkan pekerjaan. “Jinan ...”  Jinan mendekati wanita itu, lalu memegang kedua lengannya seraya tersenyum manis. “Yang seharusnya tidur itu Kak Kia, bukan aku ...” ucapnya. “Dari pagi tadi Kak Kia nggak ada berhentinya melakukan semua tugas rumah, tak ada istirahatnya ... sekarang mending Kak Kia istirahat saja ... biar aku yang menyelesaikan ini ... Kak Kia juga kan manusia bukan robot yang tiada lelahnya,” lanjutnya dengan ucapan yang begitu lembut. Kak Kia menatap Jinan dengan haru. Tangannya terulur untuk mengelus rambut hitam milik gadis itu. “Kamu gadis yang baik, sangat baik malah. Ketika Kakak sakit ... kamu sudah melakukan yang terbaik dalam mengurus rumah, padahal kamu di sini tamu ... yang seharusnya kami layani dengan baik, tapi malah kamu juga harus ikut bekerja.” Jinan menggeleng. “Kalian kan sudah bilang akh termasuk bagian dari keluarga kalian ... jangan bilang aku tamu, Kak ... nanti aku sedih,” ucapnya dengan pelan. Kak Kia mengangguk. “Iya ... kamu udah Kakak anggap sebagai adik sendiri. Hanya saja ... Kakak merasa tidak enak membebankannya kepadamu.” “Aku gak pernah sama sekali merasa terbebankan, Kak ... aku malah senang karena sudah banyak bisa membantu Kak Kia ...” jawabnya dengan cepat. “Ada apa ini?” Suara berat yang tak asing lagi di telinga Jinan dan Kak Kia membuat mereka sama-sama menoleh ke belakang.  “Bang ... udah pulang?” Kak Kia langsung mendekati pria itu dan mencium tangan suaminya dengan khidmat. Lalu, Bang Danu pun mencium kening istrinya dengan begitu lembut. Jinan yang menyaksikan hal itu merasa iri dan ingin sekali memiliki keluarga yang harmonis dan juga tentram seperti keluarga Kak Kia dan Bang Danu. Selama ia tinggal bersama mereka, tak pernah sekali pun ia mendengar cekcok di antara mereka berdua. Mereka berdua lebih suka selalu mengumbar keromantisan yang terjalin dari pada keributan. Ya, lagian siapa juga yang ingin mengumbar hal negatif seperti itu. Jinan jadi membayangkan jika nanti dirinya menikah dan memiliki suami. Apakah mereka akan sama seperti Bang Danu dan juga Kak Kia? Tiba-tiba saja bayangan Randu menghampiri lamunannya. Wajah pria itu yang berseri ketika pulang ke rumah, lalu ia menyambutnya dengan senyuman yang begitu manis hingga pria itu terpesona. Setelah itu, mereka berpelukan dan Randu mengucapkan kata-kata cinta untuknya. Dan tak lupa, pria itu juga mencium keningnya sama seperti yang Bang Danu lakukan kepada Kak Kia.  Tanpa sadar, Jinan tersenyum-senyum sendiir membuat sepasang suami istri di hadapannya menatapnya dengan heran. “Jinan? Mikirin apa kok senyum-senyum gitu?” tanya Kak Kia penasaran. “Hayo ... kamu lagi pikirin apa?” tanyanya lagi dengan nada yang sedikit menggoda. Jinan dengan cepat menggeleng. Ah ... rasanya ia malu karena telah membayangkan Randu menjadi suaminya. Bahkan, dalam khayalan ia pun sudah merasa sangat senang. “Nggak ada, Kak.” “Alah bohong ... tadi Abang lihat kamu senyum-senyum sendiri gitu, kok ...” “Bukan apa-apa ... cuma lagi pikirin Cantika aja ... nanti pas dia pulang sekolah mau main apalagi,” bohong Jinan. Ya, seperti yang ia duga, sekali bohong pasti akan ada kebohongan selanjutnya. Tetapi, tak apa ... ini demi kebaikannya sendiri, tak mungkin ia jujur kepada mereka bahwa dirinya membayangkan Randu sebagai suaminya. Bagaimana reaksi mereka nanti? Apakah ia akan mendapatkan amarah dari mereka karena sudah berani-beraninya memikirkan adik mereka sebagai suaminya? Tidak ... Jinan tak bisa membayangkannya. Jadi, memang lebih baik ia berbohong saja. Kak Kia menggeleng pelan mendengar jawaban dari Jinan. Setelah itu, ia menatap suaminya, “Randu di mana?” tanyanya. Lalu, Bang Danu menoleh ke belakang dan menunjuk seorang pria yang tengah menurunkan ikan-ikan yang berada di dalam kantung dari perahu. Jinan pun ikut menatapnya. Pria itu tak sendiri, ada seorang pria tua bersamanya. Jinan mengerutkan keningnya, siapa pria tua itu? “Pak Soleh beneran ikut bersama kalian?” tanya Kak Kia.  “Iya, seperti apa yang dikatakan Randu pas itu.” Jinan menganggukkan kepalanya. Oh ... jadi pria itu adalah Pak Soleh yang mereka bicarakan dua hari yang lalu. Berarti jika pria itu Pak Soleh ... ia merupakan ayah dari wanita yang bernama Anita itu kan? Jinan menatap ke arah Randu lagi. Randu dan Pak Soleh terlihat sangat akrab. Bahkan, pria tua itu memeluk Randu sebelum akhirnya pergi dari sana. Jinan menghela napasnya pelan, sepertinya memang memungkinkan terjadinya ikatan kasih antara Randu dan Anita jika melihat dari kedekatan Randu dengan ayahnya. Saat melihat Randu yang berjalan menuju mereka, Jinan dengan cepat merapikan baju dan juga rambutnya yang terasa berantakan. Ia tak ingin dilihat jelek oleh pria itu. Jinan menundukkan kepalanya saat pria itu sudah berada di hadapannya. Dan ya ... setiap kali mereka dekat ... jantungnya selalu berdetak dengan cepat. Jinan mengelus dadanya sendiri berharap bisa menenangkan dirinya. “Dapat ikan yang banyak?” ucap Kak Kia. Randu mengangguk seraya tersenyum. “Lumayan banyak.” “Alhamdulillah ...” “Itu apa yang di tangan kamu, Ndu?” ucap Bang Danu. Jinan jadi ikut menatap tentengan tas kecil yang ada di tangan Randu. Dirinya menebak-nebak apa isi di dalamnya. Apakah baju? Tetapi, dari bentukannya seperti rantang makanan. “Oh ini ... tadi Pak Soleh memberikannya padaku ... katanya buat dimakan bersama ... Anita memasak banyak hari ini, jadi sayang kalau sampai terbuang begitu saja,” ucapnya. Jinan menghela napasnya lagi. Bola matanya memutar jengkel mendengar nama wanita itu disebut lagi dan lagi. Rasanya selalu saja hatinya terasa panas mendengar nama wanita itu. Walaupun ia tak pernah bertemu dengannya yang pasti sekarang perasaan benci itu mulai muncul di hatinya. “Wah ... mantap ... pasti enak ... ayo kita makan!” ucap Bang Danu dengan semangat. “Baik sekali, Pak Soleh.” Kak Kia menerima tentengan tas itu dari tangan Randu. “Anita yang memasaknya?” Randu pun mengangguk. “Kan ... apa Abang bilang juga ... kalian tuh cocok ... apalagi bapaknya udah deket banget sama kamu gitu, Ndu, jadi tunggu apalagi? Cepatlah ikat dia ...” ujar Bang Danu seraya menggoda Randu. Randu terkekeh pelan. “Entahlah, Bang ... lihat nanti saja.” Mata Jinan membulat mendengarnya. Apa kata pria itu tadi? Lihat nanti saja? Jadi, tak menutup kemungkinan memang ada hubungan spesial antara mereka. Ya Tuhan ... hatinya sangat sakit sekarang. Baru saja ia merasakan perasaan suka kepada pria itu. Namun, sudah dipatahkan begitu saja olehnya. “Jadi, kamu beneran mau sama Anita?” tanya Bang Danu lagi. Matanya dikedipkan seraya menatap adik iparnya. “Gak tau, Bang ... Randu tak pernah memikirkannya sampai ke sana,” ucapnya. Lalu, tiba-tiba saja tatapan Randu mengarah kepada Jinan. Dan saat itu, Jinan juga tengah menatapnya, terjadilah mereka saling tatap-menatap, hanya sebentar sebelum akhirnya Randu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Namun, hal itu cukup membuat Jinan tak bisa mengedipkan kedua matanya. Matanya terasa terpaku kepada Randu dan selalu ingin melihat pria itu. Jantungnya pun semakin tak karuan saat mereka bertatapan tadi. Ah ... mengapa begini rasanya suka kepada seseorang? “Ya sudah, jangan bahas itu lagi ... ayo ... sekarang kita makan saja,” ucap Kak Kia. Randu dan Bang Danu mengangguk. Mereka berdua jalan terlebih dahulu menuju rumah. Sedangkan Jinan masih terdiam di tempatnya tanpa bergerak sedikit pun. Kak Kia langsung mengapit tangannya. Wanita itu menarik dirinya agar jalan bersamanya menuju rumah. “Mulai melamun lagi ... jangan melamun terus ah ... nggak baik,” ucapnya. Jinan tersenyum kecil mendengarnya. ••••• “Enak ya ... makanannya enak sekali ... Anita sangat pintar memasak.” “Ya, memang makanannya benar-benar enak.” “Wah ... itu cocok untuk dijadikan istri, Ndu ...” “Pasti kamu bakalan senang banget tiap hari dimasakin makanan enak seperti ini sama dia, bisa gendut kamu, Ndu.” “Ayolah ... Anita tuh gadis yang baik, dia sempurna ... nggak ada kekurangannya sama sekali Abang lihat.” Jinan rasanya ingin menjahit telinganya sendiri ketika ucapan-ucapan yang diucapkan ketika makan tadi terus terngiang-ngiang di kepalanya. Ia mengambil bantal lalu menutup seluruh wajahnya dengan bantal itu. “Kak Jin kenapa? Kok gak mau tidur dari tadi?” tanya Cantika dengan wajah ngantuknya. Jinan langsung menghempaskan bantal itu ke samping. Lalu, menatap gadis kecil itu dengan kaget. “Kok kamu bangun? Bukannya udah tidur tadi?” Ya, setelah Jinan membacakan dongeng untuknya, Cantika sudah tertidur. Namun, sekarang gadis kecil itu kembali mmebuka matanya. “Ayo tidur lagi ...” ucap Jinan seraya mengelus punggung Cantika dengan lembut. “Kak Jin nggak mau diem dari tadi! Geraka-gerak terus jadinya Cantika kebangun,” ucapnya sambil mengucek kedua matanya. “Maaf ...” ujar Jinan dengan sedih. Ia pun kini mendudukkan tubuhnya seraya menyender di kepala ranjang. Cantika pun mengikutinya dan menyender di perut gadis itu. “Kak Jin kenapa? Kayak lagi pikirin sesuatu? Kita kan teman ... apa aku boleh tahu Kak Jin lagi mikirin apa?” tanya Cantika seraya menatap wajah Jinan dari bawah. Jinan tersenyum kecil menatap gadis kecil yang sudah menjadi sahabatnya itu. Ia mengelus pelan pipi gembul milik Cantika dengan lembut. Lalu, ia pun mengangguk. “Kakak lagi suka sama seseorang.” Cantika mengerutkan keningnya bingung. “Suka sama siapa?” tanyanya. “Ada deh,” ucap Jinan dengan jenaka. D Jawabnya dalam hati. “Kak Jin! Kan kita teman!” ucap Cantika dengan nada marahnya karena jengkel tak diberitahu oleh Jinan. “Kamu gak perlu tahu ... kamu masih cilik!” jawab Jinan. Sontak saja, Cantika langsung mengerucutkan bibirnya dengan sebal. “Ya sudah ... kita marahan sekarang,” ucapnya seraya bangun dari perut Jinan. Dengan cepat, Jinan menarik tubuh Cantika dan kembali menidurkannya di pangkuannya. Ia mengelus pelan rambut gadis kecil itu seraya tersenyum kecil. “Jangan marah dong ... nanti kalau sudah waktunya Kakak kasih tau,” jawabnya. Cantika masih diam. Wajahnya pun masih ditekuk. “Jangan gini ... senyum dong ... nanti cantiknya hilang ... kalah sama ayam,” ucapnya. Gadis kecil itu langsung memukul perut Jinan. “Ih masa aku disamain sama ayam!” ucapnya. “Aduh ... sakit, Cantika ...” Jinan mengusap perutnya sendiri. Ia sebenarnya hanya berakting, pukulan tangan Cantika di perutnya sama sekali tak ada rasanya. Cantika langsung bangun dan memeluk Jinan. “Maaf ... maafin aku, Kak Jin,” ucapnya dengan nada menyesal.  Jinan mengelus punggung gadis itu dengan lembut. “Udah nggak sakit, kok ... udah nggak apa-apa ... tapi sekarang kamu jangan marahan lagi ya?” ucap Jinan seraya memperlihatkan jari kelingkingnya kepada Cantika. Gadis kecil itu tersenyum lebar dan langsung mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Jinan. Lalu, ia pun mengangguk. “Ya sudah, sekarang kamu tidur, besok kan sekolah,” Jinan membantu Cantika mendapatkan posisinya nyamannya saat tidur. Ia mengelus lembut rambutnya agar Cantika dapat tertidur. “Ehm ... Kakak mau tanya ... kamu pernah melihat Anita?” Cantika langsung menoleh dan menatap dirinya. Ia pun mengangguk. “Pernah.” “Dia orangnya bagaimana? Maksud Kakak ... apakah dia cantik?” tanyanya dengan hati-hati. Cantika mengangguk. “Iya, Kak Nita cantik sekali ... dia juga baik sama aku suka ngasih permen sama makanan,” jawabnya. Jinan menghela napasnya berat. Kejujuran dari Cantika membuatnya semakin minder dengan wanita bernama Anita itu. Sudah ia bayangkan bagaimana rupa dari wanita itu dibenaknya. “Tapi ... Kak Jin paling cantik! Paling baik! Nggak ada yang bisa ngalahin Kak Jin! Kak Jin itu kayak bidadari kalau kata Ibu,” ucap Cantika lagi. Senyuman lebar terbit di wajahnya. Jinan yang tadinya merasa terkalahkan sekarang kembali semangat. Ia langsung memeluk tubuh Cantika begitu erat. Entahlah ... rasanya sangat senang dipuji seperti itu oleh Cantika. Dan ia semakin percaya diri bisa mengalahkan wanita itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN