Sea - 22

1725 Kata

 Wulan dengan perlahan membuka pintu kamar putrinya. Ia menutup mulutnya sendiri dengan selendang hitam yang ia pakai di kepalanya. Ia menahan tangisnya saat dengan pelan memasuki kamar Hasya. Di setiap sudutnya, banyak sekali foto-foto putrinya tengah melakukan pemotretan. Wulan akhirnya tak bisa menahan tangisnya lagi. Ia menangis terisak seraya mendudukkan tubuhnya di atas ranjang. Tangannya mengusap ranjang itu dengan lembut, terasa dingin karena sudah lama tak ada yang menempati. "Hasya ..." isaknya. "Kemana kamu? Nggak mungkin kan kamu udah meninggal? Mama nggak percaya ... Mama belum bisa percaya kamu meninggal sebelum tubuh kamu ditemukan, Nduk ..." lanjutnya. Ia menatap satu per satu foto anaknya yang terlihat sangat menawan. Tuhan ... dia sangat rindu dengan putrinya. Mengapa En

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN