Jinan menatap tangannya yang digenggam begitu kencang oleh seseorang yang sudah ia benci sebelumnya bahkan sebelum melihat orang itu secara langsung seperti saat ini. Keningnya mengerut ketika ia ditarik untuk mengikuti langkah dari orang itu. “Kenapa ini? Kenapa kamu kasar sekali! Hei! Lepaskan tanganku!” ucap Jinan kesal.
“Diamlah, ada yang ingin aku bicarakan denganmu,” ucapnya dengan dingin.
Jinan semakin tak mengerti ada apa sebenarnya dengan wanita itu. Kenapa ia menjadi kasar seperti ini? Padahal tadi ketika mereka bersama di dalam rumah, Anita bersikap baik kepadanya. Dan juga ... Jinan penasaran dengan apa yang akan dibicarakan oleh wanita itu nanti. Akhirnya, ia pun mengikuti langkah wanita itu dengan tergesa-gesa.
“Lepaskan! Tanganku sakit, kau memegangnya terlalu kencang,” ucap Jinan seraya menyentakkan tangannya dari genggaman tangan Anita.
“Tak usah lebay seperti itu!”
Jinan sangat kesal sekarang. Bisa-bisanya wanita itu mengatakan bahwa dirinya lebay. Sial-an ... rasanya ia ingin sekali menjenggut rambut milik wanita itu. Namun, ia harus menahannya, ia tak ingin membuat keributan. “Kau! Aku tak percaya ... tadi di dalam kau begitu baik kepadaku ... tapi kenapa sekarang sangat berbeda?” tanya Jinan dengan sinis.
Ketika mereka sudah sedikit jauh dari rumah, Anita langsung menarik tangan Jinan dan menatap gadis itu dengan tajam. Bahkan, ia sudah memojokkan tubuh Jinan sampai mengenai pohon besar di belakangnya. Jinan pun tak mau kalah, ia menatap wanita itu tak kalah tajamnya. Dan ia langsung menyingkirkan tangan Anita dari tubuhnya. Wanita ini ular ... bermuka dua.
“Kau menyukai Randu, ya?” tanya Anita dengan sinis.
Jinan mengangkat sebelah alisnya. Lalu, gadis itu tersenyum miring. “Tak ada urusannya denganmu!”
“Ku peringatkan kau! Jangan berani-beraninya mencari perhatian dari Randu! Kau tahu ... Randu hanya milikku!” ujar Anita penuh penekanan.
Jinan terkekeh pelan. Ia menyampirkan rambutnya ke belakang telinganya. “Percaya diri sekali kau menganggap Randu sebagai milikmu! Kau pikir kau siapa?!” ucap Jinan.
“Sebelum kau datang ... Randu sudah dekat denganku dari lama ... dan aku rasa ia juga mmeiliki perasaan yang sama denganku, kau itu hanya orang asing! Jadi, jangan berharap untuk mendapatkan Randu dariku,” geram Anita.
Kau itu hanya orang asing!
Jinan tersenyum masam mendengarnya. “Aku tak peduli akan semua itu.”
Anita menatap Jinan dengan kaget. “Kau beneran menyukai Randu, ya? Dari tatapanmu kepadanya tadi sudah menunjukkan itu semua. Bahkan ... ketika Randu memuji masakanmu, aku lihat kau selalu senyum terus sangat berbeda saat Kak Kia dan Bang Danu yang memujimu.” Anita menatap Jinan dengan lekat. Gadis di hadapannya ini memanglah sangat cantik ... ia jadi sangsi. Gadis itu bisa dengan mudah mendapatkan seorang pria karena pesona yang ia miliki. Ia sangat takut jika Randu nanti akan kepincut olehnya. Tidak! Itu semua tak akan terjadi! Anita tak akan membiarkan hal itu. Randu adalah miliknya dan akan selalu seperti itu.
“Jawab!” Anita mendorong bahu Jinan hingga tubuh gadis itu mengenai pohon di belakangnya.
“Biasa aja dong!” ucap Jinan tak terima. “Perempuan kok kayak preman!” lanjutnya.
“Apa kau bilang?!” Anita tentu saja tak terima.
“Kau!” ucap Jinan seraya menunjuk Anita tepat di depan wajah wanita itu. “Seperti preman!” lanjutnya penuh penekanan.
Tangan Anita terangkat ingin menampar Jinan. Tetapi, Jinan langsung menahannya dan menatap wajah wanita itu dengan tajam. Ia tak akan membiarkan wanita itu menyakiti dirinya. Ia akan sekuat tenaga melawannya. Ia tak akan mengalah kepada wanita ular di hadapannya ini.
Anita langsung melepaskan tangannya dari cekalan Jinan. “Awas saja kau kalau berani-beraninya mendekati Randu!” Anita ingin pergi, namun tangannya langsung dicekal oleh Jinan hingga membuatnya menoleh dan menatap wajah gadis itu.
“Kau tak berhak berbicara seperti itu! Randu bukan milik siapapun, jadi ... tak ada salahnya bukan jika aku mendekatinya,” ucap Jinan penuh tantangan. “Bersainglah secara sehat denganku ... wanita ular!”
Setelah itu, Jinan pun pergi dari hadapan Anita yang diam terpaku seraya mencerna semua ucapan Jinan. Apa kata gadis itu tadi? Dia menyebutnya wanita ular? Hah ... Anita tak terima. Sebelumnya gadis itu menyebutnya preman dan sekarang ... wanita ular. “Awas saja kau!” teriak Anita kepada Jinan yang sudah jauh dari hadapannya.
Tiba-tiba saja gadis itu menolehkan kepalanya ke belakang, Anita menatapnya dengan tajam. Dan selanjutnya ... gadis itu menjulurkan lidahnya seakan mengejek dirinya. Tanpa sadar, tangannya mengepal. Ia benci kepada gadis itu. Kehadirannya bisa membuat dirinya terancam. Anita menghela napasnya berat seraya menyentakkan kakinya ke tanah dengan kesal. Ia pikir ... gadis itu akan mudah dan takut kepadanya saat ia mengancamnya. Ternyata, diluar dugaannya, gadis itu berani dan berbalik menantangnya. Oke, Jinan ... kita lihat nanti.
Anita tersenyum miring seraya melihat gadis itu yang sudah masuk ke dalam rumah. Lalu, tatapannya tertuju pada seorang pria yang sudah ia cintai sejak dua tahun belakangan ini. Anita tersenyum senang, ia pun segera berlari mendekati pria itu. “Randu!” teriaknya.
Ketika sampai di hadapan pria itu, Anita menetralkan napasnya yang ngos-ngosan karena lelah berlari. Ia pun merasakan tangan Randu hinggap di pundaknya dan pria itu menatapnya dengan bingung.
“Kamu dari mana, Nit? Kok lari-lari gitu?” tanya Randu penasaran.
Anita tersenyum kecil. Ia menyentuh tangan Randu yang berada di pundaknya. “Nggak kok. Tadi cuma pergi sebentar.”
Randu mengerutkan keningnya, lalu pria itu pun mengangguk. Ia tak ingin tahu lebih dalam jika Anita tak menceritakannya sendiri. Jadi, lebih baik ia diam saja. “Kamu sudah mau pulang?”
Anita menggeleng. “Nggak. Aku masih mau di sini, sudah lama nggak ke sini jadi kangen banget sama suasananya.” Lalu, tatapan Anita menelisik tubuh Randu. “Kamu mau pergi?”
Randu terkekeh pelan. “Tidak. Memangnya kenapa?”
“Kok kelihatan rapi?”
“Memangnya nggak boleh?” Randu balik bertanya.
Anita tersenyum kecil. Ia menunduk pelan seraya menggelengkan kepalanya. “Nggak lah, cuma nggak biasanya aja.”
“Saya biasa seperti ini kok, Nit. Karena kita sudah lama tidak bertemu mungkin kamu sedikit kaget,” jawab Randu.
“Ehm ... sudah lama kita tak mengobrol? Kamu ada waktu?” ucap Anita takut-takut. Sungguh, ia mengatakan hal ini saja kepada Randu rasanya jantungnya akan copot. Padahal ia hanya mengajak pria itu untuk mengobrol.
“Boleh, sudah lama juga kita tak mengobrol seperti dulu,” jawab Randu.
Anita tersenyum senang. Lalu, tangannya menarik tangan Randu menuju pinggiran pantai. Setelah itu, mereka pun duduk di atas pasir seraya melihat pemandangan laut. Anita melepaskan genggaman tangannya pada tangan Randu, lalu ia menoleh menatap pria itu dari samping.
Ia tersenyum. Randu terlihat menawan di matanya kini. Pria itu tengah menatap lautan jadi tak sadar jika dirinya sedang memperhatikannya. Pria itu walaupun dia saja seperti saat ini, tetap membuat jantungnya tak berhenti berdetak cepat. Anita sangat berharap ... Randu juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Tetapi, Anita tahu ... Randu hanya menganggapnya sebagai teman.
Lalu, ia teringat akan ucapan Ayahnya—Pak Soleh—tadi malam. Ia tersenyum kecut. Ayahnya ingin menjodohkan dirinya dengan juragan pengepul ikan kaya raya dari desa seberang. Rasanya ... Anita ingin sekali menolak karena ia memiliki cintanya sendiri, namun sulit.
Tak sadar, kini Randu menoleh menatapnya. Kening pria itu mengerut karena Anita tak berhenti menatapnya. “Anita ada apa?” tanyanya.
Anita langsung tersadar. Ia pun menggeleng pelan seraya tersenyum. “Tidak ada.”
Randu menghela napasnya. “Kau tak perlu sungkan untuk bercerita, kau ingat kan kalau kita sudah berteman sejak lama? Saya siap mendengarkan semua keluh kesahmu, Anita ... jangan karena kita sudah lama tak bertemu ... kamu jadi menganggap say orang asing.”
Anita dengan cepat menggeleng. “Tidak, bukan seperti itu, Randu!”
“Entahlah ... saya merasa pertemanan kita merenggang karena sudah lama tak bertemu.”
Anita tiba-tiba saja mengeluarkan air matanya. Lalu, ia menunduk dalam. Randu semakin bingung, ia panik melihat seorang wanita menangis di hadapannya tanpa sebab dan akibat.
“Anita ada apa?!” tanya Randu cepat. Kedua tangannya pun langsung menyentuh kedua bahu wanita itu. Mata Randu menatap dalam wajah Anita.
“Aku ... aku dijodohkan oleh Ayah, Randu ...” ucapnya dengan lirih. Wanita itu kini menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Randu menghela napasnya dalam. Ia mengelus pelan lengan Anita. “Mungkin itu lah yang terbaik untukmu, Anita ... lagian juga umurmu sudah siap untuk menikah bukan? Jadi, apa salahnya jika kamu berusaha mengenalnya dulu?” ucap Randu.
Anita menggeleng pelan. “Aku tak mau, Randu! Aku tak mau dijodohkan dengannya.”
“Memangnya siapa orang itu?” tanya Randu penasaran. “Jika saya boleh tahu,” lanjutnya dengan nada pelan. Ia seperti orang yang ingin tahu kehidupan orang lain saja bertanya seperti itu.
Anita menatap Randu dengan lekat. Matanya yang berwarna cokelat bertemu dengan mata Randu yang berwarna hitam legam. “Dia ... adalah Guntara.”
Randu terkejut. Tentu saja. Ia tak menyangka jika ornag itu lah yang dijodohkan dengan Anita. Setelah itu, senyuman manis terbit di wajah Randu. “Saya mengenal Guntara, Nit ... kalau boleh saya bilang ... dia pria yang sangat baik ... dan saya rasa kamu akan cocok dengannya.”
Anita menggeleng pelan. Rasanya ia ingin menangis kencang mendengar ucapan Randu. Pria yang ia cintai itu malah menyutujui dirinya untuk menikah dengan orang lain. Ah ... betapa sakit rasanya menerkam tepat di ulu hatinya. Anita memejamkan matanya. Ia juga tak punya keberanian untuk mengungkapkan perasaannya kepada Randu. Anita terlalu takut, ia takut Randu akan menolaknya dan mereka akan menjadi orang asing setelahnya. Anita tak ingin itu terjadi, oleh karena itu ... ia menunggu Randu sendiri lah yang mengungkapkan perasaannya kepada dirinya. Namun, sampai sekarang ... ia tak mendapatkannya.
Memang benar, mungkin sepertinya Randu tak memiliki perasaan lebih kepadanya. Buktinya, pria itu tak cemburu sedikitpun saat ia bercerita bahwa dirinya dijodohkan.
Anita membuka matanya, lalu menatap hamparan laut dalam diam.
“Percayalah, Nit ... saya tak bohong. Guntara memang pria yang tepat untukmu ... sepertinya memang Pak Soleh ingin kamu mendapatkan suami yang baik,” ucap Randu lagi.
“Tapi ... Randu—”
“Apa kamu sudah bertemu dengannya? Apa kamu sudah mengenalnya lebih jauh?” tanya Randu.
Anita menggeleng. Randu menghela napasnya pelan.
“Kalau begitu, cobalah buka hatimu untuknya, Nit ... temui dia dan berusahalah untuk mengenalnya lebi jauh.”
Air mata Anita yang tadinya sudah berhenti kini kembali keluar. Randu yang menatapnya tak tega, akhirnya ia menarik kepala Anita agar menyender di pundaknya.
Hati Anita senang. Tentu saja. Ia sangat dekat dengan Randu sekarang. Ia pun merasakan elusan lembut tangan pria itu di rambutnya.
“Sudah, jangan menangis lagi,” ucap Randu.
Tatapan Anita tertuju kepada seseorang yang tengah terdiam menatap dirinya dan Randu. Dapat dilihat dari ekor matanya ... gadis itu merasa terkejut. Anita tersenyum kecil, ia semakin mendekatkan tubuhnya kepada Randu dengan memeluk lengan pria itu. Biarkan saja! Biarkan gadis itu merasa kalah sekarang, karena memang dirinya lah yang akan menang!
Anita menatap gadis itu yang berjalan mendekati mereka. Anita menunggu ... apa yang akan dilakukan olehnya.
“Randu ...” panggil Jinan.
Randu langsung menoleh dan menatapnya. Pria itu pun segera menjauhkan tubuhnya dari Anita. Anita merasa kesal sekarang.
“Iya, ada apa Jinan?” tanya Randu seraya menatap wajah gadis itu. Lagi dan lagi ... ia selalu terpana saat melihat wajah Jinan. Apalagi saat ini, ketika rambut hitam panjang milik Jinan terombang-ambing terkena angin. Dengan cepat, pria itu mengerjapkan matanya. Tidak! Tidak boleh seperti ini.
“Ehm ... Bang Danu menyuruhku untuk memanggilmu.”
“Kenapa?”
“Aku tak tahu.”
Randu kini beralih menatap Anita. “Saya pergi dulu, Nit ... Bang Danu memanggil.” Randu berdiri, dan setelah mendapatkan anggukan dari Anita, ia pun tersenyum. “Terima kasih, Jinan,” ucapnya kepada gadis itu. Jinan pun tersenyum kecil seraya menatap kepergian Randu.
“Sudah lihat tadi? Kau kalah!” ucap Anita senang.
“Tidak aku tak akan menyerah. Kita lihat saja nanti,” ucap Jinan dengan penuh kepercayaan diri. Ia pun berbalik dan berjalan pergi menjauhi Anita. Sebenarnya ... ia pun merasa takut saat ini. Setelah melihat kedekatan Randu dan Anita ... tak memungkinkan memang mereka berdua memiliki perasaan yang sama. Jinan langsung mengelus da-danya sendiri. Ayo, Jinan semangat!