Mata dengan iris berwarna coklat itu kini mengeluarkan air yang bermuara siap untuk terjatuh lalu membasahi pipi. Melihat gadis berparas cantik kini kehilangan pelangi yang selalu menyinari dan menghiasi paras cantiknya. Seperti awan yang mendung dan telah terjadi hujan badai. Warna yang semula cerah kini memerah dan membiru. “Sakit?” Tangan kekar mengusap lembut pipi yang membiru itu. “Apa harus aku katakan? Dari yang kamu lihat, ini juga sudah melambangkan rasa sakit yang aku rasakan saat ini!” Chyntia menggenggam erat tangan Joehan. “Maafkan aku tidak becus menjagamu!” Dengan penuh rasa bersalah Joehan secara tidak langsung membawa Chyntia ke dalam bahaya. “Tidak apa-apa, Joe!” Suara Chyntia terdengar lemah. “Sekarang kita ke rumah sakit, ya?” ajaknya. “Tidak mau, aku trauma denga

