Kichen “Le Thé.”

943 Kata
Bab 5 Perjalanan menuju tempat ini cukup mudah. Aku hanya perlu satu kali naik bus. Toko rotinya berada di tengah kota. Seharusnya cukup ramai. Aneh, aku belum pernah membeli di sini. Apa masih baru buka? Tak lama aku sampai. Aku sudah berdiri di depan tokonya. Semoga wawancara ini lancar. Aku berharap bisa mulai bekerja lagi. Sebuah mobil Fortuner terparkir di samping toko. Area parkirnya memang berada di sisi bangunan. Bangunannya sangat estetik. Sederhana, tapi elegan. Namanya “Le Thé.” Terdengar lembut. Aku tahu itu bahasa Prancis. Aku membuka pintu dan masuk ke dalam. Interiornya rapi dan bersih. Saat masuk, langsung terlihat etalase kue ulang tahun di depan, lalu rak panjang berisi roti dan pastry tersusun cantik. Pegawainya hanya dua orang. Aku mendekati kasir. “Permisi, Mbak. Saya datang untuk interview.” “Sudah ada janji ya, Mbak?” “Iya, saya dapat pesan dan jadwal interview hari ini.” “Oh, begitu. Sebentar ya, Mbak. Saya tanya owner dulu.” “Iya, Mbak.” Aku menunggu beberapa saat sambil melihat-lihat toko itu. Pengunjung masih sepi. Mungkin karena sudah lewat jam makan siang. Pegawai tadi kembali menghampiriku. “Mbak bisa langsung ke lantai dua. Sudah ditunggu sama chef. Masuk dari pintu kaca itu, lalu naik tangga.” “Oh, iya. Terima kasih.” “Sama-sama.” Aku mengikuti arah yang ditunjukkan. Ditunggu chef? Berarti pemiliknya sekaligus chef di sini. Aku mengetuk pintu. Tok... tok... “Masuk,” terdengar suara dari dalam. Aku membuka pintu dan masuk. Ruangan itu berwarna hijau emerald. Elegan, tapi tetap terasa hangat. Seorang pria berkemeja putih berdiri menghadap jendela yang mengarah ke taman belakang. “Permisi, saya diundang untuk interview hari ini,” kataku. Ia berbalik. Dan aku terdiam. Chef Lyon. Aku benar-benar tidak menyangka. Dia menatapku dan tersenyum. Sepertinya hari ini memang penuh kejutan. “Sera, kamu sudah datang.” “Chef Lyon? Kamu pemilik tempat ini?” “Iya. Bagaimana menurutmu toko ini? Bagus tidak?” “Sangat bagus. Namanya juga bagus.” “Oh ya? Kamu tahu nama toko ini dari bahasa Prancis? “Iya. Aku sempat mencari artinya.” Dia tertawa kecil. “Kupikir kamu pandai bahasa Prancis.” “Tidak, Chef. Aku hanya ibu rumah tangga biasa.” “Tapi di CV kamu punya pengalaman yang menarik.” “Aku hanya punya sertifikat baker sementara. Itu pun sudah lama tidak kuperpanjang.” “Kenapa kamu memilihku untuk interview, Chef?” Dia menatapku sejenak. “Bukankah kamu ingin bekerja? Aku sedang butuh asisten. Sudah kutulis di syarat lowongan –yang penting niat kerja, walau sedikit pengalaman.” “Jadi Chef langsung yang merekrut saya?” “Iya. Aku melihat status kamu open to work. Apa kamu tidak senang?” “Bukan begitu, Bang – eh, maksud saya Chef.” Dia tersenyum melihat kekeliruanku. “Saya sangat butuh pekerjaan. Saya senang sekali kalau diterima.” Tatapannya berubah lebih serius. “Ikut aku ke dapur. Aku ingin menguji kemampuanmu. Kamu siap?” “Hah? Sekarang, Chef? Saya pikir hanya interview. Saya tidak menyiapkan apa-apa.” Jantungku berdebar sedikit lebih cepat. Bukan karena dia. Tapi karena ini benar-benar kesempatan pertamaku setelah lama berhenti bekerja. “Tidak apa. Aku akan memandumu.” Aku mengangguk. Kami turun ke lantai satu menuju dapur, yang berada di pintu lain dekat tangga tadi. Begitu masuk, aku melihat rak-rak bahan dan beberapa oven berjejer rapi. Dapurnya bersih. Aroma cake yang hampir matang memenuhi ruangan. Di sana ada satu karyawan pria. Chef menghampirinya dan memperkenalkanku. “Johan, ini Sera. Besok dia akan menjadi asisten kita di dapur. Kamu bisa mengajarinya.” Johan menatapku sekilas, lalu berkata datar, “Kenapa bukan laki-laki? Pekerjaan kita banyak.” Aku terdiam. Tidak menyangka sambutan seperti itu. Chef Lyon menoleh padanya. “Jangan begitu. Sera punya pengalaman. Dia bisa menghias cake. Mungkin dia lebih mahir darimu.” Johan mendengus pelan. “Itu kan tugasmu. Kenapa memberinya tugas berat saat dia baru saja bekerja?” Chef tertawa ringan. “Kamu ini perhatian sekali pada karyawan baru.” Aku bingung harus menanggapi bagaimana. Barusan dia seperti tidak setuju aku diterima, lalu tiba-tiba terdengar seperti membelaku. Aku memilih diam. Chef mendekat kepadaku. “Sera, aku ingin kamu membuat base cake. Kamu bisa, kan?” “Base cake? Untuk cake ulang tahun?” “Iya. Bahannya ada di sana. Gunakan perlengkapan lengkap sebelum mulai. Aku ingin melihat kemampuanmu.” Aku memang tidak punya persiapan apa pun. Tapi base cake seperti itu baru saja kubuat saat ulang tahun Reisa bulan lalu. Setidaknya aku masih ingat langkahnya. “Baik, Chef.” Aku mulai menyiapkan bahan-bahan. Chef duduk di kursi, memperhatikanku yang mondar-mandir mencari tepung, gula, dan telur. Peralatan di sini berbeda dengan di rumah. Aku perlu menyesuaikan diri. “Chef, bagaimana cara memakai mixer ini?” tanyaku. Chef berdiri dan mendekat. Belum sempat dia menjelaskan, tanganku tak sengaja menyenggol mangkuk adonan. Sedikit adonan terciprat ke kemejanya. “Chef, maaf!” Aku refleks mengambil tisu dapur dan membersihkan noda di bajunya. Dia tidak berkata apa-apa. Hanya menatapku cukup lama. Aku semakin gugup dan terus mencoba membersihkannya. Tiba-tiba dia memegang tanganku. “Hentikan. Aku tidak apa-apa. Ini bukan masalah.” Aku langsung menarik tanganku pelan. “Maaf, Chef. Saya gugup, jadi berantakan. Saya akan membersihkannya dan membuat ulang.” “Baik. Buat ulang saja. Dan minta Johan mengajari cara memakai mixernya.” Nada suaranya tetap tenang. Namun setelah itu dia keluar dari dapur. Aku berdiri sebentar, mencoba menenangkan diri. Kenapa dia pergi begitu saja? Tadi tatapannya terasa berbeda. Bukan marah... tapi lebih dingin. Atau aku yang terlalu gugup dan salah menangkap? Johan mendekat sambil menyandarkan diri ke meja stainles. “Memang kamu mantan pacar Chef Lyon?” Aku menoleh cepat. “Apa?” Pertanyaan itu terlalu tiba-tiba.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN