Chapter 7

1913 Kata
Derling kedatangan Galan yang ingin membicarakan proyek Monitus Love lebih serius. Ia telah meresmikan versi Beta-nya tiga hari yang lalu dan ingin perlahan mengenalkannya kepada publik melalui iklan kampanye yang massive. "Anda ingin memakai karyawan Derling sebagai pengguna awal?" Seorang wanita berambut panjang dengan lipstik merah merekah tampak terkejut setelah penjelasan Galan. Albiru yang turut hadir dalam pertemuan itu ikut menatap serius Galan. "Kau ingin menjadikan karyawan di sini sebagai kelinci percobaan?" Ucapan Albiru yang terkesan seolah Monitus ingin mengorbankan karyawan Derling membuat Galan beringsak dengan mata terbelalak. "Bagi mereka yang masih lajang, maka kesempatan ini bagus untuk mencari jodohnya." Wanita yang menjabat sebagai manager Departemen Account Planning menunjukkan wajah bingungnya. "Itu tidak akan efektif. Karyawan di sini, sudah saling kenal." "Siapa bilang aku hanya akan melibatkan karyawan di Derling? Karyawan di kantor pusat Monitus juga akan menjadi pengguna pertama Monitus Love," sanggah Galan buru-buru. "Litami, kau juga bisa ikut." Mendengar namanya disebut membuat wanita itu mendengkus kesal. Ia melempar tatapan ke arah Albiru yang hanya dibalas dengan pura-pura melihat Litami. "MoLova, itu adalah nama aplikasi resminya," lanjut Galan mengungkapkan proyek terbaru perusahaannya itu. "Baiklah, aku rasa kita perlu demo tentang penggunaan MoLova sebelum karyawan Derling akan mencobanya," ujar Albiru yang secara tidak langsung menyetujui penawaran Galan tersebut. Galan bangkit dari kursinya, berjalan ke meja Albiru yang telah duduk berdampingan dengan Litami. "Kau juga bisa menggunakannya nanti Biru. Jodohmu masih belum terdeteksi bukan?" ejeknya. "Apakah ada fitur balikan sama mantan? Kalau ada aku ingin mencobanya," balas Albiru lalu menyesap kopi di depannya. Ternyata balasan Albiru sukses membuat Galan terdiam. CEO Monitus itu lalu menyunggingkan senyuman tipis dan kembali ke tempat duduknya semula. Sedangkan Albiru sudah melirik Litami yang telah membuang pandangannya ke arah layar proyektor yang hanya menampilkan slide terakhir dari pemaparan pihak Monitus tadi. Akhirnya sesi pertemuan antara Derling dan Monitus. Galan pulang dengan persetujuan Albiru untuk melibatkan karyawan Derling, sedangkan Litami akan mulai membuat pengumuman tentang karyawan Derling yang belum menikah untuk bergabung dan menjadi pengguna MoLova. "Harusnya kau tidak menerima tawaran Galan," ujar Litami ketika keluar dari ruang rapat dan berjalan beriringan menuju elevator. Albiru menyeringai. "Ayolah Tami, kita ini profesional." Ia menekan tombol elevator yang masih bergerak naik. Albiru dan Litami telah bekerja selama bertahun-tahun sejak Derling pertama didirikan dan yang menjadi CEO Derling pada waktu itu masihlah paman Albiru. Posisi yang didapatkan Litami adalah berkat kemampuannya selama ini dengan beberapa kali mengalami rotasi berbagai departemen. Albiru sangat mengandalkan sosok Litami, bahkan tak sungkan meminta pendapat wanita itu. Litami menghela napas pendek. "Galan dan ide gilanya, Monitus Love?" Pintu elevator kemudian terbuka. Tidak kosong, ada satu karyawan Derling di dalamnya dan itu adalah Tasya. "Kau ingin makan siang setelah ini?" tanya Litami setelah melempar senyum kepada Tasya sebelum ikut masuk ke dalam elevator. Albiru ikut melangkah masuk dan berdiri di sebelah Litami, menjadikan Tasya mundur hingga punggungnya menyentuh dinding elevator. "Tidak, aku mau bertemu dengan salah satu anggota Departemen Produksi untuk produksi iklan besok," jawab Albiru melirik sekilas jam tangannya. "Biru, rileks lah sebentar. Kita baru saja rapat, kau bisa menemuinya setelah jam makan siang." Litami meringis, karena meski dirinya juga senang bekerja di dunia yang disukainya, tetapi ada batasan untuk tetap menjaga kesehatannya dan itu ia tak temukan dalam diri Albiru. Tasya hanya bisa diam. Ia sempat menunjukkan wajah sedikit terkejutnya, ketika mendengar nama Biru disebutkan oleh Litami. Padahal selama ini seluruh karyawan akan menyebut nama Albi atau secara lengkap Albiru. Tasya juga tidak asing lagi dengan kabar kedekatan Albiru dan Litami. Meski setahunya selama ini hanya menyangkut soal pekerjaan, tetapi siapa yang tahu sebenarnya tentang taraf kedekatan keduanya. Tasya tidak berani memberi batasan, karena hubungan wanita dengan pria sukar didefinisikan. "Kau lah yang makan siang dengan tenang, apalagi setelah pertemuan tadi." Albiru berkata dengan kekehan kecil pada bagian akhir. Litami hanya mendengkus pelan mendengarnya. "Berhentilah mengungkitnya," balasnya. Tepat setelah itu pintu elevator terbuka. Ia pun bersiap untuk keluar dan memikirkan menu makan siang yang cocok dalam suasana hatinya saat ini. "Aku sudah membaca pesanmu. Nikmati makan siangmu juga." Albiru memutar tubuhnya untuk bisa menatap Tasya. Ia menyinggung soal pesan yang dikirmkan oleh wanita itu terkait jaket yang telah dikembalikan olen Tasya dan ditaruh pada ruang kerjanya. Tasya hanya terdiam, lalu mengangguk kecil. Ketika membalas tatap Albiru saat ini, matanya menangkap senyuman tipis terukir pada bibir pria itu. Ia tidak sedang salah lihatkan? "Ouh Biru ... kau mulai memberi perhatian pada karyawanmu. Baguslah, mereka juga bekerja demi kemajuan Derling," goda Litami disertai tawa kecil. "Tidak juga," balas Albiru keluar dari elevator terlebih dahulu, kemudian disusul oleh Litami. Sedangkan Tasya sudah termenung mengingat kalimat terakhir Albiru tadi. Ia tahu itu hanya sekadar ucapan semangat atau dorongan, tetapi apakah pernah ia mendengar Albiru mengatakannya kepada karyawan yang notabene-nya tidak dekat-dekat amat? Tasya rasa tidak. ♡♡♡ "Kau sendiri saja?" tanya Aldo, rekan satu departemen Tasya. Tasya mendongak mendapati lelaki itu berdiri sambil memegang nampannya. "Ya, tadi mau bareng Dinaya, tapi mendadak dia ada keperluan lain." Ia saat ini tengah menikmati makan siangnya di kantin perusahaan, beruntung ia cepat ke sana sehingga masih bisa mendapat laut lengkap beserta meja kosong. Koneksi adalah jalan pintas terbaik untuk masalah meja kosong dan Aldo yang telat lima belas menit ke kantin mampu mengatasinya ketika melihat sosok Tasya hanya duduk seorang diri. "Kau sudah melihat surat edaran kantor?" tanya Aldo begitu duduk. Ia tidak langsung menyantap makan siangnya. Tasya yang sementara mengunyah hanya bisa menggeleng pelan. "Apakah ada acara khusus besok yang mendadak?" tanya setelah memastikan makanan sudah menuju lambungnya. "Bukan itu, katanya bagi karyawan yang belum menikah maka diharuskan ikut menjadi pengguna MoLova, semacam sejenis aplikasi kencan buta dari bagian Monitus." Penjelasan Aldo membuat mata Tasya membeliak. "Apa?" Aldo terkekeh melihat reaksi Tasya. "Baguskan Sya, hitung-hitung siapa tahu bisa mengobati lukamu yang dulu," tandasnya yang tidak lupa akan rencana pernikahan Tasya yang batal. Tasya berdecak. Ia hanya menggerutu dalam hati dan berpikir tentang bagaimana Albiru bisa menyetujui hal seperti itu. Bahkan hingga makan siangnya habis dan waktu istirahat selesai, dirinya masih memikirkan surat edaran yang dikatakan oleh Aldo. Oleh karena itu, Tasya membuka ponselnya dan membaca langsung surat edaran yang telah dipindai dalam bentuk digital dan diedarkan melalui grup utama Derling atau per departemen. Kehebohan akan surat edaran itu membuat sebagian besar karyawan membicarakannya. Terutama karyawan wanita yang masih lajang atau sebatas memiliki kekasih saja. Pada Departemen Media sendiri hanya Tasya dan Dinaya yang tak tertarik membahasnya. Dua wanita yang pernah dikecewakan oleh cinta. Jika mengenal seseorang dengan waktu lama hingga membutuhkan rasa cinta saja bisa berkhianat, atau membuat kecewa dan sakit hati, maka bagaimana yang hanya dipertemukan lewat aplikasi semacam MoLova tersebut. Tasya dan Dinaya benar-benar sulit membayangkannya. Bahkan hingga jam pulang kantor, sejumlah karyawan mulai penasaran dan antusias akan MoLova tersebut. Aplikasi sejenisnya mungkin banyak, namun kali ini penggunanya hanya melibatkan karyawan Derling dan Monitus yang jelas sudah memiliki latar belakang pekerjaan jelas. Apalagi bukan sesuatu yang baru kalau orang yang bekerja pada Monitus memiliki pendapatan tahun yang cukup tinggi. Lagi-lagi prospek adalah bukan hal yang tabu lagi jika berbicara akan hubungan dengan jangka panjang. Selain dipusingkan oleh keterlibatannya nanti menjadi pengguna Monitus, saat ini Tasya yang baru keluar ruangan kerjanya harus memikirkan cara pulang tanpa basah kuyup. Melalui kaca dinding bangunan, ia bisa melihat awan sudah begitu gelap. Langit yang tak sekadar mendung, tetapi sebentar lagi mungkin air akan turun mengguyur ibukota. Begitu melihat rekan kerja satu apartemennya yang membawa payung, Tasya tahu bahwa alat penghalau hujan itu diambil dari tempat penyimpanan payung yang kemarin penuh. "Pasti sudah tak tersisa," gumam Tasya berpikir akan menunggu hujan sedikit reda, sebelum mencari taksi. Namun ketika melihat elevator sesak dengan antrean panjang ia pun berinisiatif mengambil tangga darurat untuk turun. "Sedikit olahraga dan udara dingin khas mendung akan sempurna." Tasya mencoba terus berpikir positif. Hanya ia yang menuju pintu darurat dan begitu membukanya, dirinya sadar bahwa ada dua lantai yang perlu dilaluinya. Tasya mencoba turun tangga sesantai mungkin, sampai suara telapak sepatu yang keras terdengar dari atas. Ia menengadah sekilas, membayangkan bahwa orang itu mungkin setengah berlari menuruni tangga. "Tasya?" Mata Tasya membulat menyadari suara seseorang. Ketika menoleh, ia mendapati Albiru sudah sampai di anak tangga paling terakhir lantai atasnya. "Pak Albiru," panggil Tasya terkejut. Albiru tersenyum kecil, lalu mulai melangkah sejajar dengan Tasya. "Pasti kau memilih tangga ini, karena antrean di elevator." Tasya mengangguk pelan, menolah memandangi Albiru yang menuruni tangga dengan santai, bahkan suara derap sepatu pria itu sudah tidak ada. "Pak Albiru juga?" "Ya, kalau mau hujan ... oh hujan sudah turun." Albiru mengecek sekilas melalui jendela keadaan langit dan sekarang mendung telah menumpahkan simpanannya. Tasya meringis dalam hati, karena melihat langit bukan hanya sekadar gerimis. Rinai hujan yang mungkin sebentar lagi akan deras. "Kau tidak membawa payungmu. Sayang, payung yang kau pinjam kemarin telah dipinjam terlebih dahulu oleh Litami," ujar Albiru melihat tangan Tasya yang tidak membawa apapun. Kata sayang yang sempat keluar dari bibir Albiru membuat Tasya sedikit terkesiap, hingga menghentiakan langkah kakinya. Meski ia tahu makna dari kata sayang itu berbeda dari yang dulu sering didengarnya. "Aku mungkin bisa menumpang orang yang membawa payung dan juga menunggu taksi," balas Tasya mendadak dengan solusinya. Albiru yang telah ikut berhenti berjalan kemudian menoleh memandang Tasya. "Bagaimana jika aku antar? Melihat jarang datang terlambat pasti tidak terlalu jauh bukan? Aku parkir di basement." Ajakan pulang bersama? Mana lagi yang membuat Tasya tidak kaget. "Oh tidak perlu repot Pak." Albiru mendengkus pelan. "Repot apanya, lagipula aku sudah telanjur bertemu denganmu di sini dan kau kesulitan tentang cara pulang dalam keadaan hujan seperti sekarang." Ia mencoba menjelaskan maksud penawarannya. "Atau ... kau mungkin menunggu mantan calon suamimu?" Tawa Albiru terdengar setelah menyebut tentang Ravi. "Hari ketika kau meminjam payungku. Aku tidak sengaja melihatmu menaiki mobilnya." Ingatan Tasya terputar kembali ke hari itu. Ia memang sempat melihat mobil Albiru yang membunyikan klakson, karena mobil Ravi menghalangi jalan keluar. "Mana mungkin. Kemarin itu hanya kebetulan Ravi tiba-tiba datang dan memintaku--" Ucapan Tasya terhenti, karena merasa tidak perlu menjelaskan masalah pertemuannya dengan Ravi hari itu. "Baiklah, karena Pak Albi sudah berniat baik, maka aku terima tawaran tadi," lanjut Tasya mengungkit ajakan pulang bersama Albiru daripada hari pertemuannya dengan Ravi. "Itu pun jika Pak Albi masih bersedia." Albiru terkekeh kecil. "Tentu saja, ayo kita ke basement." Ia melanjutkan jalannya dan diikuti oleh Tasya di belakang. Duduk di dalam mobil dan berada di sebelah Albiru ketika hujan turun, menjadikan Tasya merasa sedikit tegang. Ia bukan pertama kalinya berada satu kendaraan dengan pria itu. Beberapa masalah pekerjaan membuatnya berangkat bersama Albiru menggunakan mobil dinas kantor. Namun untuk berdua saja dan di mobil pribadi Albiru, maka hari ini adalah kali pertamanya. "Kau akan ikut menggunakan MoLova versi betanya bukan?" tanya Albiru di tengah fokusnya menyetir. Mata Tasya melirik sekilas atasannya yang masih mengungkit masalah pekerjaan, padahal jam kantor telah selesai. Tidak ada yang salah, tapi ia sudah lelah mendengar soal MoLova hari ini. "Aku tahu, pengguna karyawan Derling dan Monitus hanya bertujuan sebagai ajang uji coba dan promosi. Karena aku berada di Departemen Media, maka tentunya harus ikut." Tasya menjawab sedemokratis mungkin sebagai pekerja. "Sebenarnya cukup menarik, apalagi setahuku ini aplikasi ini cukup jarang buatan asli Indonesia," balas Albiru menyunggingkan senyuman, mengingat bagaimana Galan bisa mencetuskan ide seperti itu. "Aku juga akan menjadi pengguna awalnya." "Apa?" Tasya tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Ia spontan menoleh memandang lekat Albiru. Lampu merah memaksa Albiru berhenti dan balas menoleh menatap Tasya. "Aku yang menandatangi surat edaran itu, mana mungkin aku tidak ikut. Siapa tahu jodohku benar-benar ada di aplikasi itu," ujarnya disertai tawa dan Tasya sudah tahu lagi apakah Albiru serius atau sekadar bercanda. ♡♡♡
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN