Meski presentasi di Monitus kemarin berjalan lancar dan Galan menerima positif rencana dari Derling, tetapi slogan yang diucapkan oleh CEO Monitus tersebut menjadikan Tasya teringat akan sesuatu.
Posisi Tasya saat ini sedang berada di salah satu restoran yang menyajikan makanan khas Korea untuk makan malam kali ini. Ia tengah menunggu kedatangan dua sahabatnya, yaitu Alika dan Argus. Sahabat sejak mereka duduk di bangku SMA.
Tasya telah memesan makanan, karena tahu penyajiannya cukup lama. Selain itu, berdasarkan permintaan Alika, setidaknya ada tujuh menu yang harus ada di atas meja. Tasya bahkan ragu untuk menghabiskan makanan-makanan itu nantinya, namun pada perut Alika, ia percaya bisa.
Sambil menunggu sahabatnya itu, Tasya memutuskan membuka aplikasi Twitter dan mengarah ke akun @yourwitch. Ia bergumam pelan akan isi bio akun tersebut. "Make a wish."
Tiga kata yang sama persis dengan slogan program Monitus Love. Jika Tasya telisik pun, akun itu baru dibuat sekitar delapan bulan yang lalu. Masih terbilang baru dengan jumlah tweets 104. Beberapa tweets-nya pun hanya sebagai gurauan atau balasan kepada tweets yang pengguna meminta sesuatu.
"Apa ini hanya kebetulan?" gumam Tasya menggulir terus ke bawah, hingga muncul percakapannya dengan @yourwitch.
Tasya sama sekali merasa tidak bersalah akan pernyataan Ravi bahwa lelaki itu mengalami impoten. Lagipula ia hanya tersulut emosi saat bercerita kepada @yourwitch. Ia juga bukan tipikal orang yang percaya akan kekuatan magis seperti itu. Meski santet online sering didengarnya.
"Serius amat Neng."
Sebuah suara reflek membuat Tasya mendongak, melihat Argus yang datang terlebih dahulu. Pria yang telah dikenal selama delapan tahun. Bekerja sebagai karyawan pada salah satu Badan Usaha Milik Negara dan merupakan anak pengusaha properti.
"Baru pulang kerja?" tanya Tasya melihat pakaian dinas harian yang melekat pada tubuh lelaki itu.
Argus mengangguk, lalu mulai menarik kursi di depan Tasya. "Tadi ada sedikit masalah, jadi nggak sempat pulang dulu. Entar kau sama Alika marah lagi."
"Tentu saja. Kau kan ... lama bersiapnya," balas Tasya telah mengetahui bagaimana Argus selalu datang paling terlambat jika mereka memiliki janji temu.
"Tapi kali ini Alika yang telat, tumben. Tadi aku telepon buat berangkat bareng, tapi nggak diangkat."
Alika bekerja sebagai aparatur sipil negara pada salah satu kementerian yang dekat dengan kantor Argus. Jika Tasya lulusan manajemen, maka Alika adalah lulusan hukum, sedangkan Argus lulusan teknis sipil.
"Paling dapat panggilan mendadak dari kepala seksinya," balas Tasya mengira-ngira. Ia masih ingat alasan Alika yang mengundurkan diri dari firma hukum terkenal, karena tidak kuat dengan tekanan selama bekerja, namun ketika memutuskan menjadi aparatur sipil negara yang kebetulan kementerian pusat, maka tidak banyak yang berubah. Alika tetap super sibuk, meski tekanan yang dirasakan wanita itu tidak seberat dulu.
Pertemanan Tasya, Alika dan Argus tetap terjalin baik setelah SMA, karena masih dalam lingkup satu universitas. Meski Tasya dan Alika lah yang paling sering bertemu ketika masih kuliah. Argus mulai intens melakukan pertemuan lagi sejak lulus dan bekerja.
"Oh kalian sudah datang."
Kali ini Alika yang memasuki restoran. Wanita itu memakai pakaian kasual, tanda tidak dari tempat kerjanya.
"Wah kau tampak segar," komentar Tasya melihat penampilan rapi Alika yang berbanding terbalik dengannya.
Argus terkekeh. "Padahal cuaca cukup terik akhir-akhir ini."
Alika mendengkus dan mulai duduk di sebelah Tasya. "Gus, katanya Erza selingkuh ya?"
Mata Tasya membulat mendengarnya. Bukan karena bagaimana santainya Alika bertanya kepada Argus tentang kekasih pria itu yang selingkuh, tetapi fakta bahwa Erza yang tampak obsesif dan bucin kepada Argus, namun ternyata bermain di belakang sahabatnya itu.
"Pasti Timo yang cerita bukan?" balas Argus membalas Timo yang tak lain sepupu Alika dan orang yang menangkap basah Erza. Timo juga adalah rekan kerjanya di kantor.
Alika mengangguk tanpa ragu. "Jadi ... kalian putus?"
Tasya melirik Alika, lalu mencibir. "Tentu saja Argus harus memutuskannya. Iyakan?" Ia kembali memandang ke depan untuk memastikan kepada Argus.
Argus terdiam membuat Tasya dan Alika hampir bangkit dari kursi mereka.
"Iya, semalam aku ke rumahnya membawakan pizza dan berkata ingin putus."
Tasya dan Alika menganga mendengar hal itu.
"Membawa pizza?"
"Apa kau sudah gila?"
Tasya dan Alika berkata hampir bersamaan. Argus pun hanya mengendikkan bahu.
Kedua wanita itu langsung menghela napas panjang. Mereka bukan pertama kali mendengar kisah kelam Argus seputar percintaan lelaki itu. Sosok Argus tampak sempurna dengan tubuh tinggi, pekerjaan bagus dan berasal dari keluarga menengah atas. Hanya saja menurut Tasya dan Alika, Argus itu kurang tegas, plin-plan dan membuat semua hal seolah baik-baik saja.
"Ka, untung sekarang kau jomblo. Cukup aku dan Argus yang menderita karena perselingkuhan," ujar Tasya melihat nasibnya yang sebelas dua belas dengan Argus.
Alika terkekeh. "Sekarang aku tidak punya waktu dekat dengan pria. Sebentar lagi ada diklat yang harus kujalani selama sebulan."
"Oh ya, Ravi gimana? Dia nggak pernah hubungin kau lagi?" tanya Alika baru mendengar Tasya membicarakan tentang perselingkuhan sang mantan.
Argus ikut menatap serius Tasya, ikut penasaran.
Selama satu menit, Tasya tampak berpikir sebelum bersuara. "Apa kalian pernah menghubungi Ravi setelah tahu dia berselingkuh?"
Bukan menjawab, Tasya malah mengajukan balasan pertanyaan.
"Aku meneleponnya dan memakinya pada hari kau bercerita," jawab Alika tanpa ragu.
Tasya beralih memandang Argus setelah mendengar ucapan Alika.
"Aku mengiriminya pesan berisi ujaran kebencian," kata Argus membuat Tasya berdecak.
"Bilang saja kau mengirimkannya kalimat penuh sumpah serapah," balas Alika mempersoalan pemilihan kata Argus yang terdengar sangat baku.
"Apa ... kalian melakukannya dengan sering?" tanya Tasya lagi.
"Apa Ravi mengadu? Lelaki berengsek itu?" Mata Alika telah membeliak mendengarnya.
Tasya menggeleng singkat. "Kemarin dia datang ke kantor, tapi sebelum itu ... dia mendatangi apartemenku dan berkata ... mengalami impoten." Ia menarik napas sebelum melanjutkan. "Tadi pagi juga mengirimkanku pesan bahwa keadaannya saat ini karena faktor psikologis dari seseorang yang menerornya."
Emosi Alika langsung naik mendengarnya. Ia bahkan telah mengepalkan tangan. "Dasar pria tidak tahu malu! Masih sempatnya menyalahkanmu."
"Meski aku laki-laki, tapi melihat perbuatannya padamu, dia pantas mendapatkannya," tambah Argus tidak menyangka bahwa Ravi seburuk itu. Sudah tahu salah, tapi masih bermuka tebal untuk menghubungi Tasya.
"Tapi aku terakhir menghubunginya hari itu," lanjut Alika menjawab pertanyaan Tasya.
Argus menganggukkan kepala. "Aku juga. Lagipula pria sepertinya hanya menghabiskan tenaga untuk mengetikkan sebuah pesan."
"Oh begitu ... katanya selama hampir sebulan dia terus mendapatkan teleponan pada tengah malam dan pesan secara langsung atau pada akun media sosialnya," ujar Tasya mengingat kembali pesan yang diterimanya dari Ravi.
"Atau mungkin dari Tisha, bukankah kau bilang ketika Tisha mendengarnya, dia hampir terbang dari Bali untuk menebas Ravi?" Alika berucap dan terpikirkan oleh saudari kembar Tasya tersebut.
"Benar, Tisha bisa senekat itu." Sebagai saudari kembar Tasya, Argus juga cukup mengenal Tisha.
Tasya mendelik. "Ya, Tisha memang awalnya sangat murka, tapi kurasa dia telah mengubur ingatan tentang Ravi. Bahkan menawariku kencan buta di Bali." Ia merasa ragu bahwa Tisha akan membuang waktunya untuk meneror Ravi.
Alasan kenapa Alika dan Argus tidak bersahabat dengan Tisha, meski merupakan kembaran Tasya adalah karena sejak SMP Tasya dan Tisha telah menempuh pendidikan pada sekolah yang berbeda. Tisha sempat masuk sekolah khusus perempuan, sebelumnya akhirnya muak dan ingin masuk SMA reguler saja. Sayangnya, Tisha ternyata salah daftar sekolah dan berakhir pada SMA yang berbeda lagi dengan Tasya.
Jika Tasya masuk SMA yang tergolong favorit, maka Tisha malah masuk SMA yang terkenal akan tingkat kenakalan remaja yang tinggi. Meski begitu, Tisha dapat lulus dengan baik tanpa memiliki masalah berarti.
"Kalau begitu, siapa yang melakukannya?" tanya Alika heran. "Teman kuliahmu?"
Tasya berdecak. "Mereka bahkan baru tahu Ravi selingkuh setelah bertanya kenapa kami batal menikah. Lagipula tidak ada yang mengenal Ravi sebaik kalian."
"Rekan kerjamu?" Kali ini Argus yang bersuara.
"Aku bahkan tetap mengambil cuti, karena tidak ingin membicarakannya di kantor," jawab Tasya merasa bukan itu juga.
"Bagaimana jika ... itu orang asing?" Tasya mulai mengambil tebakan terakhirnya.
Alika dan Argus mengernyitkan dahinya. Merasa tidak mengerti perkataan Tasya.
"Maksudku ... aku sempat berbincang dengan sebuah akun di Twitter dan dia menawariku bantuan. Aku berkata ingin mengutuk Ravi ... menjadi impoten," tukas Tasya bercerita akan akun @yourwitch.
Awalnya Alika dan Argus terdiam dan mencoba mencerna ucapan Tasya, sebelum akhirnya kedua orang itu tertawa keras.
"Selamat malam, makanannya sudah siap." Pelayan restoran yang membawa meja troli kemudian membuat Tasya tertahan untuk mendapat balasan dari Alika dan Argus tentang perkataannya tadi. Ia saja sulit percaya, apalagi kedua sahabatnya itu.
Makan malam ketiga orang itu berlangsung sambil membicarakan banyak hal, termasuk menggosipkan Albiru yang sering dikeluhkan oleh Tasya.
Setelah makan malam bersama, ketiga pulang terpisah dan ketika Tasya telah sampai di apartemen, ia segera mandi lalu berganti pakaian dengan piyama. Telah bersiap untuk mengistirahatkan tubuhnya setelah kepenatan bekerja, Tasya memutuskan mengecek surelnya sekali lagi. Takut akan ada pesan atau tugas mendadak dari Albiru.
Ternyata tidak ada. Iseng, Tasya beralih menuju Twitter dan akun @yourwitch ternyata baru saja membuat tweets terbaru.
Apa permintaanmu besok?
Tasya tersenyum tipis sekilas. Ia melihat ada dua balasan di sana, ada yang meminta agar besok hujan sehingga tidak perlu menjalani ujian praktek, ada juga yang meminta agar dikirimkan album terbaru penyanyi Kpop dan terakhir adalah tambahan dari Tasya.
Semoga besok masih bisa dapat cheese bagels.
Tasya merujuk kepada kue yang selalu habis setiap kali dirinya singgah di kafe depan kantor pada pagi hari.
Setelah melirik jam yang hampir menunjukkan pukul sebelas malam, Tasya mulai beranjak menuju tempat tidurnya. Ia tersenyum sesaat sebelum memejamkan matanya.
Tujuh jam berlalu dalam kesunyian apartemen Tasya, hingga suara alarm menggema dalam kamar wanita itu. Tasya merangkak segera mematikan suara berisik jamnya yang tergelatak di meja kecil samping ranjangnya.
"Ah, tidurku nyenyak juga." Masih dengan mata terpejam, Tasya merenggangkan tangan ke atas. Ia lalu bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
Setelah itu Tasya menuju dapur untuk mengambil segelas air. Namun ketika melewati ruang tengah, ia tak sengaja melirik ke arah jendela. Menemukan langit telah mendung dengan rintik hujan.
Mata Tasya mengerjap. Setelah beberapa minggu berlalu, ia baru melihat hujan turun lagi. "Kuharap aku membawa pulang kembali payungku," ujarnya sering meninggalkan payung yang dibawanya dari apartemen dan hanya tergeletak di tempat penyimpanan payung di kantor.
Mengetahui hujan dan ditambah kepadatan jalanan membuat Tasya segera bergegas mandi untuk berangkat pergi bekerja. Ia tidak ingin sampai terjebak macet berjam-jam.
Secercah keberuntungan seolah memihak Tasya ketika melihat payung dengan jenis kanopi yang transparan. Ia mengambil payung tersebut dan segera memakainya begitu keluar dari gedung apartemen. Untung juga, taksi langsung didapatnya begitu berdiri di tepi jalan dan kurang dari satu jam, Tasya bisa sampai di kafe depan kantornya.
Menyadari perutnya yang keroncongan karena belum sarapan, membuat Tasya berpikir mengganjalnya dengan cookies dan segelas latte hangat. Namun ketika mengantre, ia dikejutkan bahwa orang di depannya adalah seseorang yang dikenalinya sedang menggerutu lewat telepon.
"Pesanannu sudah jadi dan kau ingin mengubahnya?"
"Baiklah, akan kupesankan lagi." Orang itu langsung menutup telepon dan membuat Tasya berani mengambil langkah maju.
"Pak Galan?"
Menyebut nama pria itu membuat Galan seketika berbalik dan menebar senyuman ramah. "Eh Tasya."
"Apa yang Pak Galan lakukan pagi-pagi di sini?" tanya Tasya heran melihat jarak Monitus cukup jauh hanya untuk menikmati kopi di kafe tersebut.
"Aku memiliki urusan di sekitar sini. Hujan ... benar-benar turun ya?" ucap Galan menoleh ke arah jendela.
Tasya mengikuti arah pandang pria itu. Menatap hujan yang semakin deras saja.
"Pak, pesanannya sudah siap."
Suara pelayan kafe membuat perhatian Tasya beralih menemukan bahwa ternyata kedua tangan Galan telah memegang kopi dan bungkusan yang pasti berisi kue atau biskuit.
"Tasya, kau mau cheese bagels ini? Kebetulan orang yang datang bersamaku tiba-tiba ingin memakan espresso brownies." Galan menyodorkan kantong kartun yang pastinya berisi cheese bagels yang dimaksudnya.
Tasya mengerjap mendengar tawaran Galan tersebut, namun ia tetap menerimanya dengan senang hati. "Terima kasih Pak Galan."
"Sip. Aku duluan ya," pamit Galan dengan minuman dan camilan yang dibelinya.
"Mbak, silakan."
Tasya tidak sempat berpikir, karena pelayan kafe telah memintanya maju. Ia pun memesan latté hangat sebagai pelengkap cheese bagels yang diterimanya dari Galan tadi. Namun ketika akan keluar kafe, Tasya teringat akan sesuatu.
"Hujan, cheese bagels?"
Tidak salah lagi, itu adalah kedua hal yang ditulis pada balasan tweets @yourwitch.
♡♡♡