Langkahku gontai sepanjang jalan kucoba kuatkan diri kalau apa yang tadi kudengar dari papi dan Mas Bumi adalah omong kosong. Aku coba tetao sadarkan diri, dan hanya itu yang bisa aku lakukan untuk menghadapi kenyataan yang tak ingin aku aamiini. Papi terus menggenggam tanganku sementara aku mempercepat langkah. Lorong ini seolah terasa panjang sekali. Dan aku tak kunjung tiba di tujuan, suara-suara yang ada di sini seperti generisik yang sama sekali tak bisa aku dengan suaranya. Dan kini aku terpaku sesaat saat melihat Brian berdiri di depan pintu itu. Menatapku, nanar .... Aku hela napas sebentar lalu kembali melangkah. Tak ada yang bicara selain hatiku yang sejak tadi mengatakan kalau semua akan baik-baik saja. Semua akan kembali seperti biasa, saat kami tertawa, saking genggam, k

