Pertemuan pertama

1234 Kata
Malam ini walau dengan ketakutan dan ke cemaskan yang masih melanda Jollyn kembali mangkal di warung remang-remang tempat biasa para wanita penghibur dan waria mangkal disana, kali ini Jollyn duduk berdua bersama Esmeralda yang sama-sama baru keluar kandang untuk mencari para p****************g. “ sepi ya nek malam ini?”. Ucap Esmeralda. “ iya, mungkin yang lain masih pada takut kali soal kasusnya Rasti “. “ iya kali ya, eh… udahlah ga usah dibahas “. mereka kembali hening untuk beberapa saat sebelum ada seorang laki-laki yang menghampiri mereka, dengan sigap Jollyn dan Esmeralda langsung berdiri dan melemparkan senyuman pada laki-laki itu. “ ehhh… ganteng mau milih yang mana ni mampir kesini?”. Tanya Esmeralda dengan gaya khas centilnya. “ ya kamu dong…” jawab pria itu sambil mencolek dagu Esmeralda. “ eh gak sama saya aja om?”. Ucap Jollyn menawarkan diri. “ oh sorry saya tidak main dengan perempuan, permisi “. Jawab si pria sambil berlalu menggandeng Esmeralda. “ sorry ya Lyn dese belok, jadi ini rezeki akika “. Ucap Esmeralda pergi meninggalkan Jollyn sendiri. Jollyn merengut sambil menggerutu dalam hatinya. “ dasar manusia jaman sekarang aneh-aneh aja ada yg tulen malah cari yang duplikat “. Gerutunya sambil kembali duduk. Tak lama ia duduk dia melihat beberapa orang berlarian dan warung-warung sekitar sana menutup pintu dan memadamkan lampunya,perasaannya tidak enak dan benar saja terdengar teriakan dari kejauhan. “ razia… auuu…. Ada razia ayo kabur…!!!!”. Teriak orang-orang yang berlarian. Ternyata benar firasatnya bahwa ada razia malam. Dengan sigap Jollyn membuka sepatunya dan ikut berlari bersama beberapa orang lainnya. Tapi ternyata larinya tidak cukup kencang dia berhasil dikejar oleh dua orang petugas keamanan namun belum bisa berhasil menangkapnya, dengan sekuat tenaga Jollyn berlari agar tidak bisa ditangkap. Dari kejauhan Jollyn melihat sebuah rumah besar yang sedang ramai sepertinya entah rumah siapa itu dan arah mana yang dia tempuh saat berlari,tapi yang jelas sepertinya itu adalah rumah orang yang begitu kaya dan kebetulan sedang ramai jadi dia bisa bersembunyi disana dengan cara berbaur dengan orang-orang yang sedang berkumpul di acara rumah itu. Dengan penuh semangat agar bisa lolos Jollyn mempercepat larinya dan kemudian ikut bergabung di kerumunan orang-orang itu. Para petugas yang mengejarnya tadi pun telah kehilangan jejak Jollyn dan mencarinya ke arah yang lain. Kini Jollyn berada di tempat yang asing baginya ia lebih merasa seperti penyusup diacara pesta mewah orang-orang kaya ini,mereka berpakaian rapuh dan tentu saja mahal. Tanpa ia sadari seorang penjaga dari tadi memperhatikannya lalu menghampiri Jollyn yang sedang plan ga-plongo di party itu. “ hei nona siapa anda?”. Tanya seorang penjaga sontak membuat Jollyn kaget dan kini menjadi pusat perhatian orang-orang disana. “ hah!!”. Hanya itu yang bisa keluar dari bibir Jollyn karena kini dia sedang kebingungan. “ jawab siapa anda? Apa jangan-jangan anda ini penyusup yang sedang menata-matai kelompok kami?”. Tuduh sang penjaga membuat Jollyn semakin bingung. “ oohhh… tidak tidak tidak saya bukan mata-mata hanya saja tadi itu…”. Belum sempat ia menyelesaikan penjelasannya dari arah belakang ada suara seorang pria membentak keras menanyakan ada siapa yang menyusup. “ ada apa ini?”. Tanya pria itu. “ oh… ini tuan saya menemukan seorang perempuan sepertinya bukan tamu undangan kita dan sepertinya ia seorang mata-mata “. Jawab sang penjaga. Pria yang sedang setengah mabuk itu merasa kesal karena mendengar bahwa ada mata-mata di pestanya,ia melemparkan gelas wine nya tepat di hadapan jollyn itu membuat Jollyn dan tamu yang lainnya terkaget karena kemarahan pria yang di panggil bos itu. " berani-beraninya!!!". Bentak pria tampan setengah mabuk itu. Ia menarik rambut Jollyn yang panjang dan menyeretnya masuk kedalam rumah mewah itu. Para tamu yang menyaksikan itu berdecak takut melihat kejadian yang dialami perempuan muda yang tentu tidak mereka kenal, karena Susana menjadi tidak semenyenangkan tadi akhirnya pestapun dibubarkan. kali ini Andriana asisten pribadi dari pria tadi memberikan arahan pada para tamu bahwasannya pesta malam itu harus di sudahi. " dengan sangat menyesal saya selaku asisten pribadi dari Mr. Richi menyampaikan bahwa pesta ini kita akhiri sampai disini, saya mohon pengertiannya dari tuan-tuan dan nyonya-nyonya sekalian yang terhormat ini. Kalian pasti faham dengan situasi yang seperti ini!". Ucapnya sambil berusaha menunjukkan senyum ramahnya tapi jelas terlihat senyum yang nampak di raut wajahnya adalah senyum kekesalan yang luar biasa. " baiklah....". Beberapa orang tamu bergumam sambil satu persatu meninggalkan tempat itu. sementara Jollyn yang di bawa ke sebuah ruangan di rumah itu dengan kasar didorongnya kepojokan ruangan sehingga tubuh Jollyn membentur tembok dengan sangat keras, itu membuat Jollyn merasa kesakitan. " Ahkkk....!!!". Teriaknya kesakitan sambil menahan kepalanya agar tidak ikut terbentur ke dinding. Jollyn yang tadi tersungkur kini telah tergeletak terduduk di lantai sambil menahan sakit, dia berusaha untuk bangkit namun tiba-tiba pria itu menariknya untuk bangun dengan sangat kasar. " Siapa???". Teriaknya tertahan " siapa yang udah bayar Lo buat mata-mata ini acara gue hah!!!". Lanjutnya membentak tepat di depan wajah Jollyn. " Nggak... Sa... Saya bukan mata-mata ". Jawabnya gugup tubuhnya kini semakin gemetar karena kini jarak dia dan pria itu sangat dekat tubuhnya terhimpit antara tembok dan tubuh pria itu. " Bohong...!!!". Bentaknya tidak percaya. " Sa...sa...saya nggak bohong ". Jollyn semakin gugup. " Lo gak mau jujur hah!! Ok ok kita liat apa yang akan terjadi ke Lo kalau lo gak mau jujur ". Ucapnya pria itu sembari menarik tangan Jollyn dan membantingan tubuh Jollyn ke atas tempat tidur di sana. " Jawab gue sekali lagi. Siapa yang udah bayar Lo buat mata-matain acara gue?". Ucapnya kesal. Jollyn berusaha untuk menjauh dengan pria itu tapi kini sudah tidak bisa dia kembali terhimpit antara tembok dan tubuh pria itu kembali dan jarak diantara mereka kini sangat dekat. Richi yang semakin kesal karena Jollyn yang diam saja meraih rambut Jollyn dengan kasar dan mendekatkan wajahnya ke wajah Jollyn hingga hidung mereka kini saling beraduan. " Saya bisa jelaskan tapi tolong lepaskan rambut saya sakit!!". Rengek Jollyn sambil menggenggam tangan Richi yang menjambak rambutnya. " Jelasin ". " Sebetulnya saya ini cuma wanita malam biasa yang tadi sedang dikejar oleh para petugas razia, untuk menghindari mereka saya berlari dan masuk kerumahnya ini agar tidak tertangkap saya jujur ". Jelasnya kini Jollyn mulai terisak menangis. Mendengar penjelasan Jollyn, Richi yang tadinya marah kini kebingungan antara percaya tidak percaya. " Hah...!!!". Gumam Richi melepaskan Jollyn dan turun dari ranjang itu. Sementara Jollyn yang ketakutan masih belum bergerak dari pojokan tempat tidur. " Gak... Gak... Gak mungkin, gimanapun alesan Lo gue tetep ga percaya ". Ucapnya sambil mondar mandir didepan Jollyn. " Betul saya nggak bohong, saya bukan mata-mata dan saya ada disini cuma karena salah faham aja ". Rengek Jollyn lagi. Richi memandangi Jollyn dengan tatapan tajam tanda tidak percaya dengan ucapannya. Dalam fikiranny bagai mana cara agar bisa tahu ucapannya jujur atau tidak?. " Apa jaminan buat gue kalau lu itu bukan mata-mata?". " Apapun yang anda perintahkan akan saya laksanakan saat ini juga untuk membuktikan kalaua saya memang bukan orang suruhan siapapun!". Tegas Jollyn. " Ok... Kalau gue suruh lo masak ya ya ya masak... Bisankan Lo?". Ucapn pria berusia dua puluh lima tahun itu. " Hah ma...masak?". Jollyn merasa keheranan namun ia tetap mengangguk mengiyakan karena takut jika ia menolak maka akan dicelakai oleh pria itu. " Ia.. saya bisa, anda ingin saya masak apa?". Tanya Jollyn. " Apapun ". Lalu Richi menarik tangan Jollyn dan membawanya kesebuah tempat yang ternyata dapur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN