Elvina saat itu tengah menghabiskan waktunya untuk berada dikamar pribadinya sendiri. Rangkaian bunga segar hasil buah tangannya sejak tadi mulai tercipta menjadi sebuah ekspresi yang dipenuhi keindahan. Sudah beberapa hari kebelakang dirinya kehilangan kenikmatan untuk tertidur pulas. Pikirannya selalu melambung jauh pada perut sang selir yang semakin hari semakin besar dan sialnya berada dalam kondisi sehat. Kabar yang bagus bagi sebagian orang namun buruk disisinya. Bayi itu bagaimana pun juga tidak diperbolehkan untuk lahir kedunia. Sebab dia tidak layak untukku. Elvina sudah beberapa kali mencoba untuk meredam nafsunya sendiri untuk menyingkirkan sang selir dan bayinya sekaligus namun dia tidak menemukan sebuah waktu yang tepat untuk melancarkan aksinya. Dia tahu betul bahwa resikonya

