“Istirahat! Aku belikan bubur untukmu.” ucap Ziddan seraya membimbing Caca berbaring di ranjang. Hari ini Caca sudah diperbolehkan pulang karena kondisinya sudah membaik. Lalu ia berbaring di ranjang sambil menatap Ziddan berjalan hendak keluar membelikan bubur. “Hati-hati, Mas,” ucapnya saat Ziddan hendak menutup pintu. Brak... Caca mendegar pintu tertutup tanpa sepatah katapun dari Ziddan. Ia hanya tersenyum masam mendapati suaminya yang masih saja dingin. “Kalau memang dengan aku sakit bikin Mas bersikap manis, aku rela, Mas,” gumamnya sambil tersenyum kecut. Mungkin ini sudah gila, ya memang Caca sudah gila karena masih cinta kepada suaminya yang selalu kasar dan dingin itu. Sambil menunggu kedatangan Ziddan, Caca turun dari ranjang, mencari ponsel yang tidak diketahui di mana

