4-Bertemu Lagi

1256 Kata
Caca menggeliat dalam tidurnya, peluh menetes membasahi wajah. Keningnya mengernyit dengan kepala yang bergerak ke kiri dan ke kanan. Mimpi itu kembali datang. Mimpi yang paling dia takuti. Mimpi dari aktivitas otaknya yang masih merekam jelas kejadian pahit yang menewaskan orang-orang yang disayanginya. Kenyataan masa lalu yang masuk ke bunga tidurnya. “Brama!!!” Caca terbangun dan langsung terduduk. Air matanya mulai mengalir. Jantungnya berdegup  lebih kencang. Kenapa mimpi itu datang lagi? Perlahan ia menatap jam dinding yang masih menunjukkan pukul dua dini hari itu. Caca lantas menoleh ke samping dan mendapati seseorang yang menatapnya tajam itu. Ia menelan ludah. “Maaf Mas,” ucapnya susah payah. Ziddan menatap Caca dengan tajam. Ia tadi tertidur pulas saat ada pergerakan orang di sebelahnya hingga tidurnya terganggu. Ia hendak mengubah posisi saat Caca terbangun sambil berteriak memanggil nama lelaki lain. “Mimpi apa sampai teriak-teriak gitu?” Ziddan tidak mengubah posisinya, masih terlentang dengan mata masih menatap istrinya yang mulai ketakutan itu. “Bukan apa-apa, Mas. Maaf mengganggu tidur Mas,” ucap Caca. Caca masih menunduk tidak mampu menatap suaminya. Dalam hati ia berdoa agar emosi suaminya itu tidak kembali meledak-ledak. Soal mimpi barusan, ia tidak ingin menjawab jujur. “Lelaki mana lagi itu? Berani-beraninya sebut-sebut lelaki lain!!” ucap Ziddan. “Tidur sana, dan jangan bikin ulah!!” lanjutnya kemudian menutup mata dan mulai menjemput alam mimpi. “Maaf, Mas,” jawab Caca lirih. Ia turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi, membersihkan wajah yang penuh dengan keringat itu.   ***   “Ahhh!!!” teriak Caca saat ia tidak sengaja memutar knop kompor menjadi api yang lebih besar. Tarik napas, embuskan!! Tarik napas, embuskan. Itu tidak berbahaya, Ca. “Kenapa kau!!”  Ziddan sempat melihat kejadian barusan. Ia mulai bertanya-tanya, kenapa wanita itu begitu aneh dan ketakutan seperti itu? “Pagi, Mas,” ucap Caca berpura-pura ceria agar tidak ditanyai yang aneh-aneh. Ia tidak ingin suaminya itu mendesaknya untuk bercerita. “Mulai besok jangan buatan aku sarapan. Seminggu ke depan aku perjalanan bisnis ke Bali,” ucap Ziddan datar. Ziddan mulai mengambil nasi goreng buatan Caca tanpa semangat. Ia sebenarnya malas makan masakan istrinya. Tapi setelah ini ia langsung ke bandara dan tidak memungkinkan untuk mencari makan di luar. “Iya. Mas hati-hati di sana. Jaga kesehatan,” ucap Caca mengingatkan. Walau sedih ditinggal suami selama seminggu tapi Caca senang Ziddan memberi tahu soal kepergiannya. “Aku bukan anak kecil yang masih perlu dinasehati!!” ucap Ziddan sambil menyentak sendok yang ia pegang. Ziddan berdiri lalu berjalan begitu saja meninggalkan Caca yang menatapnya tidak percaya. “Diperhatiin malah marah-marah,” gerutu Caca.   ***   Sore hari Caca berjalan seorang diri di mal tidak jauh dari rumah. Ia sedang bosan dan jadilah jalan-jalan seorang diri. Selain itu dia tidak memiliki banyak teman. Ia ingat sebagian temannya menyembutnya aneh dan terlalu banyak diam. Caca memasuki toko yang menjual baju-baju kantor. Pandangannya tertuju ke setelan kantor wanita dengan kemeja pink garis-garis dan rok hitam selutut. Ia langsung jatuh cinta pada baju itu dan hendak membelinya. “Mbak saya mau baju yang ini ya,” ucapnya sambil memegang manekin di sebelahnya. Mbak SPG itu tersenyum, kemudian melepas baju yang masih menempel di manekin. “Ini Mbak pesanannya.” Caca menerimanya dengan senang. Seminggu lagi tahun ajaran baru dimulai. Ia tidak sabar memakai baju itu ke kampus. Lalu ia berjalan menuju kasir sambil menatap baju-baju lainnya. Kemudian ia melihat sebuah dasi berwarna dark blue yang menyita perhatiannya. Caca segera mendekati dasi itu dan mengambilnya. Saat berbalik keningnya menabrak sesuatu yang cukup keras. Kemudian ia melihat sesuatu berwarna hitam, seperti sebuah jas. Caca mendongak dan mendapati wajah lelaki yang menatapnya dengan senyum lembut itu. “Maaf,” ucap Caca tak enak. Ia segera menjauh dari lelaki itu dan hendak pergi. “Hei, mau ke mana?” tanya Cikko sambil mencekal pergelangan tangan Caca. Cikko senang bukan main saat melihat Caca di toko yang sama dengan dirinya. Ia hendak membeli jas dan matanya tertuju kepada wanita yang sedang menatap sebuah dasi itu. Tanpa banyak kata ia langsung menghampiri Caca. Namun, siapa sangka saat sudah berdiri di belakangnya, Caca malah menoleh dan menabraknya. “Ke kasir. Mau bayar,” jawab Caca. Mendadak ia ingat perkataan Ziddan tempo hari. Jauhi Cikko. “Ayo sama-sama.”  Cikko langsung menarik tangan Caca mendekati kasir tanpa peduli wanita di belakangnya itu tengah menggerutu. “Berapa semuanya, Mbak?” tanya Cikko ke petugas kasir. Ia lalu menarik belanjaan Caca dan membayarnya sekalian. “Eh, aku bisa bayar sendiri,” ucap Caca tak enak. Rasanya Caca ingin segera pergi dari Cikko. Tapi kenapa Cikko seolah tidak mau menjauh darinya? “Ini punyamu,” kata Cikko seraya menyodorkan kantong belanjaan ke Caca. “Oh ya dasi itu buat siapa?” tanya Cikko penasaran. Sudah dari tadi Cikko ingin menanyakan hal itu. Bahkan ia sudah siap mental jika ternyata dasi itu untuk kekasih Caca. “Berapa belanjaanku?” tanya Caca tanpa menjawab pertanyaan Cikko. “Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Dasi itu buat siapa?” tanya Cikko masih penasaran. Caca mendengus, kenapa bisa ia bertemu dengan lelaki yang kepo seperti Cikko. Ia meneliti wajah Cikko yang meminta jawaban dengan penuh harap. Ia mengembuskan napas dengan kesal. “Buat Mas,” jawabnya sekenanya kemudian berbalik dan berjalan meninggalkan Cikko. Mas itu berati kakak kan ya? Jadi itu bukan buat pacarnya? pikir Cikko. Seketika Cikko tersenyum. Hatinya berbunga-bunga karena wanita yang ia sukai masih single. Ia berjalan cepat menyusul Caca yang sudah sampai ambang pintu toko itu. “Hei.. kita makan dulu yuk...” ajaknya to the point. Bahkan ia menarik pergelangan Caca lalu berjalan menuju restoran terdekat. “Lepas!! Aku nggak mau makan!!” Cikko tidak menggubris ucapan Caca. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Kapan lagi ia bisa bertemu dengan wanita yang ia sukai? Cikko terus menarik Caca mencari tempat duduk yang nyaman. Ia lalu memilih tempat duduk di pojok dan segera duduk. “Mau makan apa?” “Aku nggak mau makan!!” jawab Caca judes. “Ya sudah. Aku pesankan sama denganku,” ucap Cikko kemudian memanggil seorang pelayan dan memesan makanan untuk Caca dan dirinya. “Nggak nyangka kita ketemu lagi. Aku seneng deh,” ucap Cikko jujur. Tangan Cikko terlipat di atas meja sedangkan matanya sejak tadi menatap wajah Caca yang masih saja cemberut itu. “Jangan cemberut gitu ih.. Makin cantik deh,” goda Cikko sambil menaikturunkan alisnya. Caca menatap Cikko tajam. Lelaki di depannya itu menggodanya? Sejak kapan cemberut bisa bikin jadi cantik? Caca menatap Cikko, menilai seperti apa sosok lelaki di depannya itu. Wajah Cikko yang rupawan dengan pembawaan yang santai membuat siapa saja nyaman berada di dekatnya. Jika boleh Caca ingin menjadikan Cikko temannya. Namun ucapan Ziddan seolah mencegahnya untuk melakukan hal itu. Cikko sahabat Ziddan. “Ca.. Aku pengen kenal kamu lebih dekat,” ucap Cikko mantap. Walau sebenarnya ia sangat gugup. Melihat Caca yang memperhatikannya membuat Cikko salah tingkah. Sejak kapan pula Cikko jadi salah tingkah di depan wanita? Jawabannya adalah sejak bertemu dengan Caca. “Ma.. maksudmu?” tanya Caca penuh tanya. Ia tidak tahu ke mana arah pembicaraan Cikko. “Sepertinya aku mulai menyukaimu,” jawab Cikko lembut. “Oh tidak!! Mungkin lebih tepatnya jatuh cinta. Ya, jatuh cinta pada pandangan pertama.” Caca menatap Cikko tak percaya. Bagaimana bisa sahabat suaminya itu jatuh cinta kepadanya? Apakah Cikko tidak tahu ia istri Ziddan? Jelas Cikko nggak tahu, Mas Ziddan ngga mau menganggap aku istri di depan sahabatnya batin Caca perih. Caca menunduk tidak tahu harus menjawab apa. Ia ingin menjawab jika ia istri Ziddan. Namun Ziddan pasti akan marah jika tahu hal itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN