Ziddan menatap foto pernikahannya sambil mengusap wajah Lissa dengan sayang. Sudah sebulan ia berpisah dengan Lissa. Hidupnya benar-benar hampa, sama saat ia ditinggal oleh ibunya dulu. “Kamu nggak kangen aku?” Tangan Ziddan mendekatkan pigura itu ke d**a. Dadanya terasa sesak menahan rindu. Ia memejamkan mata sambil memeluk figura itu. Begitulah malam-malamnya sejak ditinggal oleh Lissa. Baru beberapa saat Ziddan memejamkan mata, ponselnya berdering. Ia membuka mata dengan malas dan mencari ponselnya yang ada di nakas. Tanpa melihat caller Id ia langsung mengangkat panggilan itu. “Halo.” “Lo di rumah nggak?” Ziddan melihat ke layar ponsel dan tertera nama Cikko yang menghubungi. Ia lalu duduk bersandar di kepala ranjang sambil memejamkan mata. “Iya. Ada apa?” “Amel telepon gue. Ha

