Letti berada dikamar pasien. Wajah pucatnya berangsur merona kembali. Seorang lelaki dengan setia duduk disamping ranjang untuk menantikan istrinya membuka mata. Sementara dua anaknya tertidur diranjang lain dikamar itu. Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi hari. "Han, cepatlah sadar," gumam Ino. Suara Ino terdengar menyayat, ia tak ingin kehilangan istrinya untuk kesekian kalinya. Lelaki itu hanya ingin hidup normal bersama istri dan anaknya. Meski mereka harus memulai semuanya dari awal. Ino sangat siap menerima Letti dalam kondisi apapun. "Ino," rintih Letti. "Han, kau sadar. Astaga! Syukurlah ..." ujar Ino lega. Lelaki itu mencium kening Letti dan memeluknya. "Mama, mama udah sadar, Pa?" Suara Queen terdengar serak karena baru saja bangun. "Sayang, maafin Mama," ucap Letti

