Thirty Eight

2050 Kata

"Ryu... Ryu...!" Dony terus memanggil, menggoyangkan tubuh Ryu yang perlahan berubah menjadi sedingin salju. Namun Dony tidak kuasa menerima jika sahabatnya sudah pergi selamanya. Dony terus merancau memanggil nama Ryu dalam pilu. Setiap kali ia menyingkirkan airmata. Genangan itu ada lagi seakan tak pernah ingin surut Ia menaiki pahanya yang menjadi bantalan untuk Ryu, membawa kepala Ryu mendekati kepalanya. Kedua kening mereka saling menempel. Tak ada hembusan nafas yang keluar dari hidung Ryu. Semakin mengukuhkan jika ia sudah melewati masa kritisnya. Kini Ryu sudah tenang bersama Yunia, adiknya *** "Huhu... Huhu...!" Yunia mencoba mengatur nafas, kebetulan dokter hanya memberikannya bius setengah baal. Ia masih bisa melihat lampu operasi menerangi dirinya, membuat matanya menyipit k

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN