Mataku perih karena serbuan cahaya yang masuk. Aku mengerjapkannya perlahan hingga mataku terbiasa. Hatiku lega bukan main saat tahu aku berada di kamar Xander. Aku menyadari sebuah lengan melingkari perutku dan punggungku bersandar pada seseorang. Tanpa aku harus melihatpun aku akan tahu itu Xander. Aroma tubuhnya yang aku rindukan tercium walaupun tubuhku sedang kesakitan. Sebuah selang infus terpasang di lengan kiriku dan membuat lenganku sedikit pegal dan mengerang pelan. Aku mencoba melepaskan jarum dari lenganku karena infus itu membatasi gerak lenganku. Pelukan Xander mengencang dan ia bertanya dengan suara yang membuatku merasa seperti seorang anak kecil yang sedang ditegur oleh ayahnya. “Apa yang sedang kau lakukan?” Aku membalikkan badanku dan tersenyum senang melihat satu

