Diva berjalan gontai menjauh dari kedai es krim dengan perasaan campur aduk, sangat banyak beban dipikirannya. Hubungannya dengan Fahri sudah sejauh ini, tapi sama sekali Diva tak menemukan kenyamanan didalamnya. Ingin mengakhiri juga akan banyak pihak yang kecewa, terutama sang ibu yang sudah sangat menanti hari pernikahan Diva digelar meskipun belum ada perbincangan serius ke arah sana. Disatu sisi, hatinya telah tertancap begitu dalam panah cinta untuk Rama, bodohnya ia baru menyadari sekarang setelah keadaan begitu rumit dan sulit untuk menyatukan mereka. Rama telah pergi jauh, tak tahu ke mana Rama akan mencarinya. Menghubunginya lewat telepon? Itu sama sekali bukan jalan yang terbaik, Diva ingin menyatakannya langsung. Lalu kapan? Entahlah. Ingin sekali rasanya Diva teriak, meluapka

