Part 4 ~ Ajakan Kencan

1005 Kata
"Nduk, mbok ya kamu itu cepetan nikah. Usiamu lho sudah mau tiga puluh tahun, mau milih yang bagaimana lagi?" ujar Nita Ibu Diva, beliau duduk di samping putrinya di sofa ruang tamu rumah mereka. Diva hanya mencebik, selalu itu yang ibunya tekankan. Ia sadar memang, kini usianya 28 tahun, gadis seusianya biasanya sudah menggendong anak. Sedangkan Diva, jangankan anak calon suami saja dia belum ada bayangan. "Ndak usah terburu-buru Buk, nanti juga kalau sudah waktunya aku bakal nikah." "Kapan? Ibuk sudah kepengen menimang cucu." Lanjut Nita yang semakin membuat hati Diva gerah. "Maaf ya Buk, aku belum bisa jadi anak berbakti yang bisa menuruti keinginan Ibuk." Kata Diva akhirnya, lebih baik ia keluar rumah untuk mencari angin barang sejenak. Dengan mengendarai motor yang menemaninya sejak SMA, Diva menyusuri jalan. Hingga sampai di sebuah bangunan ruko, ia menghentikan motornya. "Pak, Pak. Coba lihat, siapa yang datang." Teriak Ida heboh dari dalam ruangan yang berdinding kaca itu, hingga ia bisa melihat siapa yang ada di depan. "Opo tho Da!" Balas Rama dengan gusar, ia sedang menginput resi pengiriman hari ini. Namun suara Ida yang menggelegar mengagetkannya. "Lihat sendiri sini Pak." Rama berdecak kesal, ia paling tidak suka diganggu kalau sedang fokus dengan apa yang ia lakukan. "Sopo tho?" tanya Rama yang akhirnya penasaran juga. "Pucuk dicinta, dia pun tiba Pak Rama." Goda Ida. Mata Rama membola saat melihat Diva membuka pintu, senyum manis tersungging dibibir yang ditumbuhi kumis tipis itu. "Hai." Sapa Diva. "Hai, libur?" Diva mengangguk, karena memang ini hari Sabtu dan tempat kerjanya berkerja hanya sampai hari Jumat saja. "Iya, biasanya lembur. Ini kebetulan libur, jadi aku main ke sini. Boleh 'kan?" "Oh, tentu saja. Ayo masuk." Ajak Rama kepada Diva untuk masuk ke ruangannya. "Di sini saja, ngobrol bareng Mbak Ida sekalian." Pinta Diva. "Ya wes kalo gitu." Rama mengambil tiga botol minuman dari lemari pendingin yang ada di ruangannya, memberikannya kepada Diva dan Ida. "Nanti malam ada acara?" tanya Diva kepada Rama. "Aku, paling push rank sama anak-anak." Kata Rama, ia mengambil kursi untuk duduk didekat Diva. Ida mendelik gusar, bosnya ini ternyata sangat tidak peka. "Jadi sibuk?" "Lumayan." "Oh, ya sudah." Cukup lama Diva menemani Ida bekerja mengurus pelanggan yang datang silih berganti, sementara Rama melanjutkan pekerjaannya yang tertunda tadi. "Mbak, aku pulang ya." Pamit Diva. "Loh? Di sini saja, temani aku." Rengek Ida, karena ia terbiasa kerja sendiri kedatangan Diva memberi angin segar untuknya. "Nanti dicariin Ibuk, aku mau bantuin bikin kripik. Sampaikan salam ku ya buat Rama, sepertinya dia benar-benar sibuk." Ida menoleh ke ruangan Rama, benar memang bosnya sedang berkutat dengan komputer. "Iya, nanti saya sampaikan Mbak." Tak lama Rama keluar, mencari sedikit udara segar matanya juga perih menatap layar komputer terlalu kama. Salahkan dirinya yang tidak mencari pekerja tambahan untuk jasa pengirimannya yang mulai banyak pelanggan itu. "Diva sudah pulang tho?" "Sudah, Pak Rama sih terlalu sibuk. Mana ndak peka lagi, ditanya ada acara tidak malah bilangnya mau push rank." "Aku bener 'kan? Kerjaanku tiap malam cuma nge-Game." "Embuh lah Pak, kapan dapat Mbak Diva nya kalau lemot. Ndak peka, dia ngajakin keluar itu tandanya tadi." "Eh? Iyo tho?" "Susul sana Pak." "Aku tak ke rumah dia dulu," pamit Rama. Dengan skuternya Rama bergegas ke rumah Diva, berharap tawaran Diva masih berlaku. Sampai di depan rumah Diva, ia menelan kekecewaan. Sebuah mobil terparkir di sana, Rama hapal itu milik siapa. Mobil Fahri. Rama kembali ke tempat kerjanya dengan lesu, Ida yang melihatnya sudah menebak jika Rama tengah kecewa. "Luput, keduluan Da." "Sabar yo, Pak." Kata Ida, ia ingin tertawa tetapi melihat tampang mengenaskan Rama jadi mengurungkan niatnya. Rama memilih untuk kembali bekerja, melupakan sejenak rasa kecewanya. ***** "Kita kemana?" tanya Fahri, malam ini ia berhasil mengajak Diva "berkencan". "Aku manut saja Pak." Ucap Diva singkat, ia masih kesal dengan sang ibu yang menyuruhnya pergi bersama Fahri. Tentu ibunya sangat senang ada pria yang datang ke rumah untuk Diva, mengajak gadis itu bermalam mingguan. Bukannya ibu Diva mengajari yang jelek dengan membiarkan anak gadisnya keluar dengan seorang pria, beliau hanya berharap Diva bisa membuka hati untuk pria itu. "Nonton mau?" tanya Fahri, pandangan masih fokus ke jalanan. "Boleh." Ucap Diva, sebenarnya tadi siang ia berniat mengajak Rama menonton film tetapi pria itu sangat sibuk. Fahri memarkirkan mobilnya saat sampai di salah satu mall di Semarang, Fahri turun terlebih dahulu membukakan pintu untuk Diva. "Terima kasih, Pak." "Fahri, panggil aku Fahri jika kita sedang berduaan seperti ini." Pinta Fahri, Diva mengangguk saja. "Mau nonton film apa?" "Terserah, aku ikut saja." Fahri melihat-lihat deretan film yang tayang hari ini, setelah menemukan yang dirasa cocok untuk mereka tonton Fahri mengantre untuk membeli tiket. Tiket sudah mereka dapat, hanya menunggu beberapa saat sebelum film dimulai. Tak lupa Fahri membeli beberapa cemilan dan minuman untuk teman nonton mereka. Di dalam bioskop, Fahri dan Diva duduk bersisian menikmati suguhan lewat layar lebar di depan sana. Sesekali Fahri melirik Diva, nampak cantik malam ini dengan polesan lipstik tipis menghiasi bibirnya meskipun ia hanya mengenakan kaos oblong dan celana jeans. Sengaja Diva tidak berdandan berlebih, dengan niatan agar Fahri tidak tertarik dengannya. Namun justru Fahri menyukai gadis polos seperti Diva, dengan tidak berdandan menor Diva terlihat sangat manis. "Bisa kita mampir sejenak?" tanya Fahri saat mereka keluar dari bioskop, film yang mereka tonton telah usai. "Kemana?" "Temani aku ngopi, sebentar saja." Kata Fahri. "Cuma ngopi? Baiklah." Mobil Fahri melaju ke suatu tempat, tempat di mana ia sering menghabiskan waktu. Mereka sampai di sebuah cafe bertuliskan El Denis cafe, membuat Diva mengenang masa-masa bersama lelaki itu. Tentu saja ini bukan tempat Diva bekerja dulu, cafe ini memang milik lelaki bernama Denis tetapi yang diwarisi dari sang Mami. "Ayo masuk." Ajak Fahri saat melihat Diva diam saja. "Tidak bisa pindah ke tempat lain?" "Masuk dulu, nanti kamu pasti menyukai tempat ini." Kata Fahri yang tak tahu isi hati Diva. Dengan berat Diva menyeret kakinya, memasuki cafe yang kata Fahri nanti ia akan menyukainya. Memang tempat ini berbeda sekali dengan cafe yang pernah menjadi tempat Diva bekerja, interior dan desain nya sungguh sangat berbeda. Ini cocok sekali untuk pasangan muda-mudi berkencan, atau sekedar menikmati malam bersama. "Bagaimana? Kamu suka?" tanya Fahri saat mereka sudah masuk ke dalam bangunan itu, Diva mengangguk saja. "Kamu mau minum apa?" Jika biasanya Diva menyukai yang berbau kopi, kini seleranya sudah berubah. Karena semua tentang kopi selalu mengingatkannya kepada orang itu. "Matcha, sepertinya enak." "Oke." Fahri memesan permintaan Diva juga untuk dirinya, ia menatap lekat wajah gadis di depannya. Memantapkan hati, memilih kata yang tepat untuk mengutarakan niatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN