Bab 3. Ribet Amat Hidup Pak Jamet

1128 Kata
“Non Mariana?” tanya seorang wanita paruh baya yang membukakan pintu begitu Mariana tiba di depan rumah megah milik Nicholas. “Benar, Saya Mariana.” Mariana tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Wanita paruh baya itu membalas senyum Mariana. “Saya Bik Rita. Asisten rumah tangga di sini. Mari Silakan masuk, Non.” Mariana berjalan masuk ke dalam rumah itu sambil mendorong kopernya. Kedua mata Mariana langsung berselancar ke sekitar rumah itu. Megah dan mewah, tapi entah kenapa Mariana merasakan kekosongan di dalam rumah itu. “Den Rafa masih les tambahan di sekolahnya. Mungkin sebentar lagi pulang,” jelas Rita. Langkah Rita tiba-tiba berhenti tepat di depan sebuah pintu ruangan. “Ini kamar Non Mariana dan tepat di sebelah itu adalah kamar Den Rafa, anaknya Tuan Nicho. Kamar saya ada di ujung sana dan kamar Tuan Nicho ada di lantai dua,” jelas Rita pada Mariana. “Ada yang mau Non Mariana tanyakan?” “Apa saja tugas saya begitu Rafa pulang, Bik?” tanya Mariana. “Non hanya perlu menemani Den Rafa makan, mandi, belajar dan menidurkannya. Non hanya akan menemani Den Rafa melakukan apapun yang Den Rafa inginkan di rumah ini, Non. Besok pagi, Den Rafa akan berangkat sekolah barengan dengan Non ke kantor,” jelas Rita lagi. “Baik, Bik. Saya masuk ke kamar dulu untuk membereskan barang-barang saya.” “Silahkah, Non. Apa Non mau saya siapkan minuman dingin dan makanan ringan?” tawar Rita. Mariana menggelengkan kepalanya, “Tidak perlu. Nanti akan saya ambil sendiri.” “Baik, Non. Saya permisi dulu.” Rita beranjak meninggalkan Mariana yang tak lama kemudian masuk ke dalam kamarnya. Wajah Mariana menegang seketika, melihat dengan takjub kamar yang akan di huninya mulai hari ini. Kamar itu begitu besar dengan semua fasilitas yang lengkap di dalamnya. Mariana menjatuhkan bobotnya ke atas tempat tidurnya yang berukuran kingsize dengan balutan bedcover mewah. “Tunggu dulu, apa Bik Rita nggak salah nunjukin kamar ya? Masa kamar pengasuh kayak kamarnya Paris Hilton begini?” gumam Mariana bingung. Mariana melihat sebuah ruangan lain di dalam kamarnya. Dugaannya ruangan itu adalah sebuah kamar mandi. Dengan langkah yang pasti, Mariana berjalan menuju ke ruangan itu dan membuka pintunya. “Ya Tuhan, kamar mandi apa seluas ini?” Mariana tercengang melihat kamar mandi di dalam kamarnya. Semua bodycare dan haircare langkap berderet di dalam sebuah rak bening di dalam kamar mandi itu. bahkan sebuah bathup tersedia di dalamnya. “Tidak, Bik Rita pasti salah nunjukkin kamar nih.” Mariana menggelengkan kepalanya kemudian bergegas menuju ke pintu keluar kamarnya. Baru saja Mariana akan membuka pintu kamarnya, dia mendengar sebuah suara laki-laki dari luar. Dengan perlahan Mariana membuka pintu itu dan mengintip dari dalam. “Mariana sudah datang kan, Bik? Dimana dia?” tanya Nicholas yang terlihat baru saja datang. “Sudah, Tuan. Non Mariana sedang di kamarnya,” jawab Rita. “Bibik sudah menjelaskan semua pekerjaannya, ‘kan?” “Sudah, Tuan.” Rita menganggukkan kepalanya. “Bagus. Rafa akan pulang sebentar lagi. Nanti biar saya langsung yang memperkenalkan Mariana pada Rafa.” “Baik, Tuan.” Mariana terdiam di balik pintu kamarnya. Dia ragu apakah harus keluar sekarang atau nanti saja setelah Rafa pulang sekolah. “Pak Nicho yang aku temui di jembatan kenapa bisa beda banget ya di sini? Yang di jembatan kayak jamet lagi frustrasi kelilit hutang, tapi di sini kayak raja yang dingin dan angkuh. Apa yang di jembatan dia lagi kesambet ya?” batin Mariana sambil terus melihat ke arah Nicholas yang tampak sedang memainkan gawainya dengan serius. Baru saja Mariana akan menutup pintu kamarnya karena ragu untuk keluar saat ini, tiba-tiba seseorang datang dengan langkah yang cepat menghampiri Nicholas. Mariana kembali melanjutkan adegan mengintipnya karena penasaran. “Apa benar Mas mau menikah?” tanya Adhitama, adik satu-satunya Nicholas. Nicholas melihat ke arah adiknya itu kemudian menghelakan napas, “Sejak kapan kamu pulang dari Singapura?” “Jawab saja pertanyaanku, Mas!” bentak Adhitama. Nicholas mematikan layar ponselnya kemudian fokus melihat adiknya, “Mas mau menikah atau nggak apa urusannya dengan kamu?” “Yoana belum lama pergi dan Mas akan menikah lagi? b******k!” “Jaga sikapmu, Adi!” Nicholas menatap geram adiknya yang semakin bersikap kasar di depannya. “Mas lihat betapa hancurnya Rafa sekarang karena kepergian Yoana? Bapak macam apa kamu!” Nicholas mengepalkan kedua tangannya. Wajahnya tampak memerah menahan amarahnya. Mariana tercekat melihat adegan menegangkan di depannya. “Baku hantam nih bentar lagi. Untung aku belum keluar. Aku pilih siapa ya yang menang?” Mariana menimbang-nimbang sambil terus mengintip di balik pintu kamarnya. “Tuan, Den Rafa sudah pulang,” ucap Rita memperingatkan. Dia tahu majikannya itu pasti tidak akan melanjutkan pertengkaran mereka jika ada Rafa di sana. Seorang anak laki-laki berumur tujuh tahun tampak berjalan masuk ke dalam dengan wajah yang murung. Seorang wanita yang sempat bertemu dengan Mariana di kantor tadi mengikutinya dari belakang. “Rafa,” panggil Adhitama pada keponakan kesayangannya itu. “Om Adi!” Wajah Rafa yang sejak tadi murung langsung berubah berbinar dan tersenyum begitu melihat keberadaan Omnya di rumahnya. Tadinya dia sama sekali tidak peduli dengan siapapun yang ada di ruangan itu. Rafa berlari mendekati Adhitama dan memeluknya dengan erat. Adhitama dengan cepat membalas pelukan keponakannya itu kemudian menggendongnya. “Bagaimana sekolahnya hari ini?” tanya Adhitama. “Biasa aja, Om.” “Kok pulangnya cemberut begitu?” tanya Adhitama lagi. “Rafa nggak suka di jemput sama Tante Lora.” Semua orang tercekat begitu mendengar jawaban dari Rafa barusan, terutama wanita cantik nan anggun yang sedang berdiri di dekat Nicholas itu. Adhitama menatap tajam ke arah Lora dan Nicholas bergantian. “Mulai besok Om yang akan mengantar dan menjemput Rafa ke sekolah, oke?” Adhitama tersenyum ke arah Rafa. “Beneran, Om?” wajah Rafa berbinar senang. “Beneran dong. Kan itu tujuan Om pulang.” Adhitama mengusap lembut rambut keponakannya itu dengan penuh kasih sayang. “Yes! Rafa senang!” Adhitama tersenyum mendengar sorak senang keponakannya itu. “Sekarang kita ganti baju dulu baru makan ya,” ucap Adhitama. Rafa dengan semangat menganggukkan kepalanya. Adhitama membawa keponakannya itu ke dalam kamarnya meninggalkan Lora dan Nicholas. “Maafkan aku, Mas,” ucap Lora dengan wajah yang sendu. “Rafa sepertinya sangat tidak menyukaiku.” “Jangan terlalu diambil hati. Jiwanya masih berguncang atas kepergian ibunya. Dia masih belum menerima kenyataan itu. Bersabarlah,” jawab Nicholas berusaha menghibur Lora. “Mariana sudah ada di sini?” tanya Lora. Nicholas menganggukkan kepalanya. “Dia sudah di kamarnya. Sebentar lagi aku akan memperkenalkannya dengan Rafa.” Lora terdiam tanpa merespon apapun. Dia mengalihkan tatapannya ke arah lain. Sementara Mariana, kini tengah menggigit bibir bawahnya dan berusaha menutup pintu kamarnya sepelan mungkin agar tidak ketahuan. “Sepertinya ini akan lebih rumit dari yang aku kira.” Mariana menghelakan napas panjangnya ketika berhasil menutup pintu kamarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN