“Langsung kamu buatkan laporan hasil rapat hari ini ya, Mar,” perintah Nicholas begitu mereka keluar dari dalam ruangan rapat.
“Baik, Pak.” Mariana menganggukkan kepalanya.
Nicholas melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangannya sementara Mariana kembali ke meja kerjanya.
Mariana langsung berkutat dengan laporan rapat hari itu. Roy datang dengan membawa tempat makan yang tadi diberikan Lora pada Nicholas.
“Oh, maaf, Pak Roy. Seharusnya saya langsung menghangatkan itu dulu setelah rapat tadi. Saya benar-benar lupa, Pak,” ucap Mariana sambil berdiri dari tempat duduknya.
“Tidak apa, Bu Mariana. Tadi saya harus memastikan dulu jika di dalam makanan ini tidak ada kandungan kacangnya sebelum menghangatkannya,” jawab Roy.
“Memangnya ada apa dengan kacang, Pak?” tanya Mariana bingung.
“Pak Nicho ada alergi dengan kacang, Bu. Kita harus teliti sebelum memberikan makanan dan minuman pada Pak Nicho.”
“Itu kan bekal dari Bu Lora. Apa Bu Lora juga tidak tahu tentang alergi Pak Nicho?” tanya Mariana lagi.
“Bu Lora tentu saja sudah tahu. Hanya saja saya ingin memastikan seandainya Bu Lora khilaf dengan memasukkan bahan makanan yang mengandung kacang ke dalamnya. Pak Nicho pernah di rawat di ICU karena tanpa sengaja mengkonsumsi makanan yang mengandung kacang sewaktu Bu Lora memberikan oleh-oleh dari luar negeri.”
“Wah, separah itu alergi Pak Nicho?” Mariana takjub.
Roy menganggukkan kepalanya, “Saya bawa dulu makanannya ke dalam ya, Bu. Sudah waktunya makan siang. Ibu bisa makan siang duluan.”
“Baik, Pak Roy.”
Roy melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Nicholas. Mariana melihat ke arah jam yang ada di pergelangan tangannya.
“Sarah sudah bisa istirahat belum ya?” gumam Mariana, “Apa aku telpon dia aja dulu ya?”
Mariana mengambil ponselnya dari dalam tasnya dan mulai mencari kontak Sarah. Begitu kontak itu di dapatnya, dia langsung menekan opsi dial pada layar ponselnya.
“Sar, makan siang yuk,” ucap Mariana begitu Sarah mengangkat panggilan teleponnya.
“Ayok. Aku tunggu di depan loby sekarang ya. Jangan lama. Lu hutang banyak cerita sama aku loh.”
“Iya. Aku ke sana sekarang,” jawab Mariana kemudian menutup panggilan teleponnya.
Marina melihat ke arah pintu ruangan Nicholas. Menunggu kedatangan Roy yang sedang mengantarkan makanan untuk Nicholas.
Tak lama kemudian Roy terlihat keluar dari dalam ruangan Nicholas.
“Saya mau makan siang. Pak Roy mau barengan?” tanya Mariana. Dia segan jika tidak izin dengan Roy yang lebih senior darinya.
“Silahkan duluan saja, Bu Mariana. Saya akan makan siang sebentar lagi,” jawab Roy.
“Baik kalau begitu. Saya duluan ya, Pak.”
“Silahkan Bu.”
Mariana berjalan meninggalkan meja kerjanya menuju ke lift dan turun ke loby. Baru saja pintu lift Mariana terbuka, wajah Sarah sudah langsung terlihat di depannya.
“Gilaa! Kamu nungguin aku di depan lift begini, Sar?” ucap Mariana terkejut.
“Buruan. Kita nggak punya waktu. Jam makan siang nggak akan cukup untuk kita, Mar!” Sarah langsung menarik tangan Mariana yang baru saja melangkahkan kakinya keluar dari dalam lift.
Sarah melangkahkan kakinya begitu cepat, bahkan terkesan setengah berlari sambil terus menarik tangan Mariana.
“Sar, yang bener deh. Seharian ini aku udah kayak atlet olimpiade lari loh. Emang semua orang yang kerja di sini dilatih untuk gerak cepat seperti ini ya kayak Pak Nicho?” omel Mariana sambil terengah-engah.
“Oke. Kamu duduk aja di sana. Biar aku yang pesan makanannya. Ntar lama kalau pakai pilih-pilih lagi,” ucap Sarah begitu mereka tiba di kantin kantor.
Mariana duduk di sebuah kursi yang ada di kantin itu. Matanya menatap kagum ke sekitarnya. Itu bukan seperti sebuah kantin namun sudah hampir mirip kafe mewah yang begitu cozy. Semua ada di sana. Mulai dari makanan berat, snack sampai buah tinggal pilih.
“Pantesan semua berlomba mau menjadi karyawan di sini. Ternyata perusahaan ini begitu mewah,” gumam Mariana dalam hati sambil terus memindai sekelilingnya.
“Mar, bantuin nih,” panggil Sarah yang terlihat memegang sebuah baki yang berisi penuh makan dan minuman untuk dua orang.
Mariana bergegas berdiri dan membantu Sarah membawakan sebagian makanan dan minuman dari tangannya.
“Ini semua gratis ya, Sar?” tanya Mariana.
“Gratis dong. Kamu pesan aja apa yang kamu mau asalkan habis. Di sini bebas. Itu salah satu nilai plus kerja di perusahaan ini selain gajinya yang lebih gede dari perusahaan lain. Tapi ya itu, kamu harus siap kerja cepat dan dibawah tekanan kesempurnaan,” jawab Sarah sambil duduk berhadapan dengan Mariana.
“Jadi gimana ceritanya kalian bertemu?” tanya Sarah sambil mulai menikmati makan siangnya.
“Malam dimana aku bertanya tentang Pak Nicho padamu itu pertama kali aku bertemu dengan Pak Nicho. Malam itu Pak Nicho duduk di pinggir jembatan sendirian. Aku pikir dia mau terjun dari jembatan itu, jadi dengan cepat aku tarik tangannya. Bukannya mundur ke belakang, Pak Nicho malah terkejut dan terhentak ke arah depan,” ucap Mariana menjelasakan kronologi pertemuanya dengan Nicholas.
Sarah tersedak seketika mendengar cerita Mariana. Dengan cepat diraihnya air minum yang ada di depannya dan meneguknya beberapa kali.
“Jadi Pak Nicho jatuh ke jurang? Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun!” ucap Sarah serius. Kedua matanya membulat sempurna karena begitu tegang mendengar cerita Mariana.
“Nggak gitu, Sarah. Kalau Pak Nicho udah lewat pasti satu perusahaan ini udah heboh dari kemarin. Pak Nicho pegangan ke tangan aku dan aku menariknya ke atas. Kamu bisa bayangin nggak gimana tubuh sekecil ini mengangkat tubuh kekarnya Pak Nicho?”
“Wah, habis itu bagaimana?” tanya Sarah.
Percakapan mereka semakin seru samapi mereka lupa dengan makanan dan minuman yang ada di depan mereka.
“Pak Nicho terkejut melihat wajahku. Terus dia menawarkan pekerjaan sebagai sekretaris sekaligus pengasuh anaknya waktu aku bilang kalau aku hari itu gagal seleksi kerja. Dan kamu tahu apa yang paling mengejutkan dari itu semua?” Mariana menatap tajam sahabatnya.
“Apaan? Buruan!”
“Ternyata wajah mendiang istri Pak Nicho mirip dengan wajahku.”
“Mirip banget?” tanya Sarah sambil mengernyitkan keningnya.
Mariana menganggukkan kepalanya, “Aku melihat fotonya sendiri sebelum Pak Nicho memperkenalkan anaknya padaku.”
“Loh kok bisa mirip? Jangan-jangan kamu punya saudara kembar lagi, Mar?”
“Jangan ngawur, Sar. Aku anak tunggal di keluargaku. Mana mungkin punya saudara kembar. Kan emang di dunia ini katanya kita punta tujuh orang yang wajahnya mirip dengan kita,” jawab Mariana.
“Aku belum pernah ketemu satupun.”
“Mungkin kamu limited edition, Sar. Nggak diproduksi banyak-banyak,” jawab Mariana enteng sambil mulai menikmati makan siangnya yang sudah mulai dingin.
“Jangan-jangan Pak Nicho mau jadiin kamu sebagai pengganti istrinya loh Mar.”
Makanan yang baru saja masuk ke dalam mulur Mariana tiba-tiba tersembur begitu saja keluar. Sarah menatap datar Mariana.
“Aku punya makan siang sendiri, Mar. nggak perlu dibantuin begini,” ucap Sarah sambil mengambil tisu dan mengelap wajahnya yang terkena semburan Mariana.
“Ya ampun, Maaf Sar. Kamu sih ngomong yang bikin kaget. Ya mana mungkinlah tujuan Pak Nicho begitu,” ucap Mariana.
“Ya mungkin aja kali. Kan wajah kamu mirip dengan mendiang istrinya. Logikanya ya, Nggak mungkin Pak Nicho nggak merasakan getaran-getaran jiwa setiap kali dia menatap wajah kamu, Mar.”
Mariana seketika terdiam. Hal itu belum pernah terlintas di pikirannya sejak kemarin.
“Ah, nggak mungkin. Bu Yoana pasti lebih cantik dari aku. Pak Nicho seleranya tinggi kali, Sar,” bantah Mariana.