"benarkah?"tanyaku sambil menatap tajam matanya berharap aku bisa menemukan kesungguhan di kedua matanya,dan ya.. tak kutemui sedikitpun keragu-raguan di kedua matanya.
"aku tidak seperti sarah,dia cantik dan penampilannya sopan sekali,lihat aku, aku jauh jika dibandingkan dengannya bukan?"tanyaku lagi masih dengan nada suara yang sedikit bergetar
"siapa yang bilang begitu,itu cuma di fikiranmu saja ras,begini ya.. meskipun kamu tidak berhijab dan tidak tertutup penampilannya,dan lihat rambut kamu ini,macam pelangi saja, gonta-ganti melulu warnanya, tapi aku yakin seyakin yakinnya hati kamu baik dan dan tentu saja cantik seperti wajah ini". jelas samudra sambil membelai pipiku dengan senyum yang selalu menghiasi bibirnya
"mas,sam lebih suka perempuan sepertiku atau perempuan seperti sarah?" tanyaku lagi seolah tidak puas dengan jawaban samudra yang cukup panjang lebar tadi.
"yang jelas aku mencintaimu dengan seada-adanya kamu,kamu yang keras kepala tapi di sisi lain juga begitu penyayang dan kamu yang childish meskipun aku tahu kamu bukan anak kecil lagi dan kamu yang terbaik yang Tuhan pilihkan untukku,jadi sudah ya ras hentikan fikiran kamu yang aneh-aneh ini,aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku dan juga perasaanku sama kamu".
aku terdiam lagi mendengar ucapan samudra,bagaimana bisa aku mengabaikan seorang lelaki sebaik ini, sungguh kesabaran yang begitu luar biasa besar dalam menghadapi sikapku ini, dan bagaimana mungkin aku tidak tersentuh karenanya.
akhirnya keragu-raguan itupun sirna dari kepalaku dan aku pun tertidur dalam dekapan samudra,dan ini untuk pertama kali setelah beberapa bulan menikah aku begitu dekat dengannya.
pagi-pagi aku sudah terbangun,aku mendapati aku masih dalam pelukan samudra ketika aku membuka mataku tadi,tak terasa tersungging senyuman di bibirku ketika aku memandangi wajah yang berjarak begitu dekat denganku saat ini,sepertinya justru aku yang kini telah sejatuh cinta ini pada sosok tampan di hadapanku yang bernama samudra.
aku menggerakkan tubuhku pelan-pelan takut membangunkan samudra yang masih terlelap,aku sengaja bangun lebih dulu dan entah kenapa tiba-tiba aku ingin melakukan sesuatu yang tidak pernah kulakukan sebelum ini,ya aku ingin berperan sebagaimana mestinya sebagai seorang istri,merawat suamiku dengan baik,sungguh aku tidak ingin memberi celah untuk wanita manapun masuk di antara aku dan samudra.
aku menuju dapur,aku lihat bunda telah berada di sana sedang menyiapkan masakan, dan dengan antusias aku menghampiri dan menyapapanya.
"bun,aku bantuin ya,aku mau belajar masak sama bunda"
"sudah bagun ras?bunda malah seneng ada kamu di sini,ya sudah kamu mau masak apa sayang,nanti kita masak bareng-bareng ya".
aku tersenyum senang mendengar jawaban bunda,sungguh aku sangat beruntung menjadi bagian dari keluarga yang super baik ini.
"aku mau masak makanan kesukaan mas sam bun, tapi emmss...tapi yang sederhana saja dulu ya bun soalnya aku tidak pintar memasak".kataku malu-malu, semoga bunda tidak marah mendengar pengakuanku yang bodoh ini,tapi lagi-lagi bunda menanggapinya hanya dengan tersenyum dan tentu saja beliau sama sekali tidak menunjukkan raut yang tidak menyenangkan terhadapku.
akhirnya aku dan bunda selesai masak juga,dan semua hasil karyaku yang tentu saja ada campur tangan bunda juga sudah terhidang rapi di atas meja, selesai menyiapkan semuanya aku bergegas masuk ke kamar dan kemudian langsung membangunkan samudra untuk sholat subuh dulu.
aku mendekati tempat tidur dan duduk di samping samudra sambil pelan-pelan membangunkannya
"mas,bangun sudah pagi,mas sam gak mau sholat subuh dulu,sudah jam 5 lebih loh".
"astaghfirullah,aku kesiangan"
samudra langsung saja terbangun menyadari dirinya hampir kesiangan dan terlambat untuk sholat subuh.
"ya sudah aku sholat dulu ya ras takut kehabisan waktu"
ucapnya sambil berlalu dari hadapanku dengan terburu-buru,dan aku merasa lucu melihatnya yang bertingkah gugup seperti itu.
"kamu sudah sholat ras?"
tanya samudra setelah dia menyelesaikan sholatnya, dan menghampiriku yang masih terduduk di atas tempat tidur sembari terus memperhatikannya dengan serius, aku hanya menganggukkan kepalaku menjawab pertanyaannya tadi.
"tumben kamu bangun pagi-pagi, terus kenapa tidak membangunkanku juga tadi?"
"maaf mas,aku lupa tadi soalnya aku pagi-pagi sekali sudah di dapur bantuin bunda masak". jawabku dengan malu-,malu,sementara samudra tersenyum lebar mendengar jawabanku
"jadi tadi kamu masak ya,hemms... aku penasaran seperti apa ya rasanya?"
aku merasa tidak enak mendengar ucapan samudra,jelas sekali gelagatnya, pasti dia tidak percaya dengan yang sudah kulakukan mengingat selama berumah tangga dengannya belum pernah sekalipun aku memasak untuknya.
"mas,aku minta maaf ya". ucapku lirih
"loh..loh,..kamu kenapa jadi rajin sekali meminta maaf ras,aku jadi tidak enak kan kalau kamu seperti ini". ucap samudra sambil meraih tanganku
"aku merasa buruk sebagai seorang istri, dan mas selalu sesabar itu menghadapiku".
samudra kembali lekat menatap wajahku, dibelainya lembut dengan kedua tangannya,lagi-lagi dia hanya tersenyum dan "cup.." satu kecupan mendarat mulus di bibirku dan ini ciuman pertamanya kepadaku.
"semua butuh proses ras,dan aku tidak keberatan dengan itu".
akupun tersenyum puas mendengar jawabannya,bukan samudra, melainkan aku yang sungguh beruntung memilikinya dalam hidupku,dan entah dari mana datangnya keberanianku, tiba-tiba aku membalas ciumannya tadi, kali ini lebih lama dan basah tentunya, aku melihat samudra seolah tidak percaya dengan yang kulakukan tapi tak urung dia pun juga menikmatinya.
"jadi,...apa sekarang aku boleh meminta hakku?" tanyanya lirih di telingaku,sontak saja mampu membuat pipiku merona seketika karenanya,dan aku pun mengangguk dengan malu-malu sebagai jawaban atas pertanyaannya tadi.
"apa itu artinya,iya...boleh?' tanyanya lagi meyakinkan jawabanku
"kita kan sudah menikah aku tidak akan menolaknya lagi".ucapku lirih
"meskipun aku sangat menginginkannya, maksudku bohong jika sebagai laki-laki aku tidak menginginkannya,tapi seperti yang kubilang,aku tidak akan menyentuhmu misal kamu belum siap, aku tidak akan memaksa sebelum kamu yang menyerahkannya dengan kesadaran diri kamu sendiri".
aku terdiam mendengar penuturannya, dia yang begitu menghargaiku meskipun dia tahu dia berhak mendapatkan apa yang diinginkannya namun dia tidak memaksa dan tidak egois sedikitpun.
"sudah...sudah jangan di difikirkan, yuk sarapan dulu,ga sabar ingin nyicipin masakan istri".
ucapnya sambil mengajakku keluar dari kamar,tapi ketika samudra hendak melangkah aku menghentikannya sebentar,kuraih tangannya dan kucium dengan perasaan yang bercampur aduk.
"aku mencintaimu mas,maaf aku baru menyadarinya sekarang".
aku lantas berdiri menghadap samudra dan sekali lagi aku yang berinisiatif memeluknya terlebih dahulu.
"ahh..larasati,jangan coba-coba memancingku sekarang,karena aku tidak akan melepaskanmu saat ini juga".
tiba-tiba aku merasakan tangan samudra mulai aktif menyentuhku membuat mataku seketika membola karenanya
"iya...mas aku nyerah,tapi tidak sekarang ya,kita mandi dulu terus kita sarapan dulu habis itu dilanjut lagi,ga enak sama bunda kalo kelamaan nunggunya".
merasa lucu akhirnya kami pun tertawa bersama menertawakan kebucinan yang tiba-tiba muncul di dalam hubungan kami.
akhirnya kami memutuskan untuk mandi dan sarapan terlebih dulu,mengingat ini masih terlalu pagi juga untuk melakukan ritual suami istri yang sempat terpending dari beberapa bulan yang lalu.
...
...
dan akhirnya setelah sekian waktu,aku menyadari bahwa semua hal tidak bisa terjadi dengan begitu instan, harus saling belajar dan saling memahami, tidak mudah dan mungkin butuh proses yang panjang,tapi tak apa selama ada kemauan untuk tetap belajar memperbaiki diri.
sejak saat itu aku pun mulai belajar dan berusaha menjadi istri yang baik untuk suamiku "samudra", aku yang dulu begitu tidak peduli tapi sekarang sedikit demi sedikit sudah mulai berubah, dengan bangun pagi-pagi membuatkannya sarapan,membuatkannya bekal untuk dibawanya kerja dan menyiapkan segala keperluannya,aku tahu mungkin aku belum sempurna tapi aku akan berusaha dan akan terus belajar.
aku sungguh bersyukur dipersatukan dalam ikatan suci dengan lelaki sebaik samudra,semoga selamanya...
end.