Mantan Manusia

1005 Kata
Pusat Penelitian Christoff Seorang pria paruh baya terus mondar-mandir, raut cemas sekaligus gelisah tergambar jelas di wajahnya. Berulangkali dia mengecek layar Handphone, berharap menemukan notifikasi dari nomor yang dia inginkan dari ribuan nomor yang masuk ke gawainya. 'Profesor Alfonso' Begitulah yang tertulis di tag namenya, menunjukkan bahwa dia bahwa dia adalah salah satu profesor di pusat penelitian ini. Akhirnya kesabarannya yang memang sudah di ujung tanduk habis, dia lalu melangkah menuju meja kerjanya, menekan tombol merah yang ada disana. Tak lama pintu ruangannya diketuk, menandakan seseorang sudah ada di depan sana. "Masuk" Pintu lalu terbuka, di sana berdiri seorang pria yang masih sangat muda. Postur tubuhnya tegap, dengan ekspresi tegas cenderung dingin. Alfonso memandang pria di depannya. Tanpa sadar dia menghela nafas, tak menyangka bahwa saat ini akan tiba, saat dimana dia harus menggunakan objek penelitiannya sendiri. "A1" "Ya, tuan" Pria yang dipanggil A1 itu menyahut dengan suara yang mirip seperti tentara kepada atasannya. "Pergi dan temukan Jason. Bocah bebal itu.." Alfonso memandang ke arah gawainya lagi. Pikirannya benar-benar campur aduk sekarang, antara melanjutkan produksi vaksin atau mencari keberadaan anak semata wayangnya yang tak pernah menurut sedikitpun. "Baik Tuan" A1 menjawab tegas, lalu menaikkan tangannya, membentuk isyarat memberi hormat. Saat dia hendak berbalik dan meninggalkan ruangan, suara Alfonso menahannya "Jangan biarkan satupun orang di pusat penelitian ini tahu" Alfonso memandang A1 lekat-lekat. A1 adalah salah satu objek penelitian tersembunyi milik pusat penelitian Christoff yang sudah berada dibawah naungannya beberapa tahun ini. Awalnya A1 adalah objek penelitian milik peneliti lain yang terkenal kejam dalam memperlakukan objek penelitiannya sebelum Alfonso memutuskan untuk mengambil alih karena tak tega melihat penderitaan A1. Sudah sejak lama sebenarnya pusat penelitian Christoff telah melakukan penelitian terselubung yang tak terendus otoritas keamanan. Mulai dari pembuatan mutasi virus, hingga rekayasa genetika untuk mendapatkan manusia 'ideal' yang diinginkan klien mereka. Pusat penelitian Christoff selalu menyembunyikan keburukannya dengan cara memproduksi produk biologi yang dapat digunakan masyarakat banyak. Alfonso memandang A1 yang masih berdiri tegap memandanganya lalu menghela nafas berat, dia teringat saat pertama kali A1 datang kesini. Seorang anak kecil polos yang matanya selalu dipenuhi tanda tanya. Nama aslinya adalah Andreas, seorang anak yatim piatu yang berhasil tertangkap oleh radar pusat penelitian ini. Sebagai anak yatim piatu dan dibesarkan di panti asuhan, Andreas tak memiliki keluarga sama sekali. Seperti kebanyakan anak kecil lainnya, Andreas juga sangat aktif dan hobi bermain dengan teman-temannya. Tapi, sepertinya malang tak bisa dia hindari, pusat penelitian Christoff tak sengaja melihatnya saat bermain dan menyadari keistimewaan yang dia miliki. Panti asuhan yang menaunginya tentu saja dengan senang hati menyerahkan Andreas, apalagi mereka menerima tawaran dana besar dari pusat penelitian Christoff. Dia masih ingat bagaimana dulu Andreas menjerit kesakitan atau mencoba melarikan diri saat awal mula penelitian dilakukan. Tentu saja pusat penelitian ini kejam. Tak ingin siapapun mengetahui praktek gila mereka, pusat penelitian ini terus memanipulasi ingatan Andreas, baik dengan metode hipnotis maupun metode obat-obatan. Hingga akhirnya terbentuklah A1 yang kini berdiri di depannya. Kaku, tak ada ampun dan hanya tunduk kepada perintah. "Pergilah" A1 hanya mengangguk lalu meninggalkan Alfonso sendirian yang lagi-lagi dihantam berbagai pikiran berat. Matanya tak sengaja menangkap salah satu koran dengan headline besar di sana 'Huru Hara Kota Akibat Munculnya Mayat Hidup' Alfonso memejamkan matanya. Lagi-lagi dia hanya bisa menghela nafas, akhirnya yang terburuk akan terjadi juga *** Sial! Rasanya aku benar-benar ingin pingsan saja sekarang. Latihan berat yang diberikan oleh Janson dan Leah benar-benar menguras daya energiku hingga titik 0. Berkali-kali aku kepayahan mengatur nafas, mencoba menyelesaikan perintah sit up 30 kali yang Leah berikan. Ini benar-benar gila, kalau begini aku beneran lebih baik dimakan zombie saja. "Semangat dong, Nels" Kata-kata Selena yang justru lebih mirip cemoohan terdengar di telingaku. Aku langsung memandang Selena sebal. Di luar ekspektasi, Selena ternyata bisa mengikuti latihan gila Leah yang menargetkan kami mempunyai kemampuan menembak walaupun tak begitu hebat dalam waktu 3 hari. Bayangkan bagaimana lelahnya. Bukan hanya berlatih menembak, Leah juga menyuruh kami melatih tubuh. Kalau begini sih yang ada tubuhku remuk duluan, bahkan sebelum menghadapi para zombie. Aku memandang Selena lagi, kali ini dengan tatapan 'dasar pengkhianat'. Awalnya aku pikir Selena akan menentang usulan Leah agar kami melatih tubuh walaupun hanya sedikit. Tapi Selena justru dengan cepat mengangguk dan menyetujui ucapan Leah, meninggalkanku sendiri yang mau tak mau mengikuti keinginan mereka. Sedangkan Jason hanya diam saja, memandangi perdebatan kami sekaligus penderitaanku (ya walaupun aku yakin dia hanya datang untuk mengecek keadaan Selena), sebelum akhirnya kembali berpatroli. "Jason kenapa nggak latihan" Tanyaku ngos-ngosan. Aku langsung membaringkan tubuh begitu menyelesaikan semua latihan yang Leah berikan. Kalau begini lama-lama aku bisa jadi anggota tentara. Ya tuhan, sudah berapa banyak energi yang sudah kuhabiskan seharian ini?. Diantara kami hanya Jason yang tidak ikut melatih tubuh. Bahkan Leah sebagi instruktur juga ikut berlatih. Memang sih sedari tadi Jason berpatroli, memastikan keamanan di sekitar kami. Tapi bukankah tidak adil kalau Jason tidak ikut berlatih?. Leah meneguk minumannya sebentar sebelum menjawab dengan penuh antusias "Jason sih jangan di tanya lagi. Bahkan kalau dia ikut pertandingan menembak internasional, dia pasti jadi pemenangnya" Leah melipat tangannya, lalu dengan bangga berkata "Kalau soal stamina jangan tanya, sekalipun badan Jason sebelas duabelas dengan papan cucian, tapi staminanya luar biasa. Belum lagi kecepatan lari Jason di atas rata-rata" Tiba-tiba Leah menghentikan ucapannya. Tangannya kini beralih memeluk tubuh "Kalau tiba-tiba dia jadi zombie, matilah kita" Lanjutnya dengan nada ngeri. Aku ikut bergidik saat membayangkan ucapan Leah. Kalau apa yang dikatan Leah benar, maka sudah pasti kami bakalan ikut menyusul menjadi zombie tak lama setelah Jason menjadi zombie. Apalagi aku yang kemampuan larinya saja mungkin di bawah kura-kura. Seketika aku bersyukur, kalau saja malam itu Leah tak menarik tanganku dan memaksaku untuk berlari, mungkin aku sudah termasuk jajaran para zombie yang kini berkeliaran di dalam hutan. "Tinggal tembak kepalanya aja, apa susahnya sih" Aku dan Leah langsung memandang Selena yang membalas tatapan kami dengan ekspresi santai. "Kita bertiga tinggal tembak kepala Jason, selesai" Lanjutnya lagi. Bersamaan dengan ucapan Selena, Jason memasuki ruangan sepertinya telah selesai berpatroli. Suasana mendadak canggung, lagi-lagi aku dan Leah hanya bisa bertatapan yang seakan berkata 'duh Jason, malangnya nasibmu nak'.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN