Tinggal di kamar sendirian pada tempat baru sungguh tidak menyenangkan. Aku bingung harus melakukan apa. Di kamar ini tidak ada televisi, buku bacaan, atau majalah. Sementara jika memutuskan untuk tidur, ini masih terlampau sore.
Baru pukul delapan malam. Satu setengah jam dari kepergian Rain dan anak buahnya. Belum ada tanda-tanda mereka akan kembali.
Aku gelisah sendiri di sini. Dari kata-kata yang terlontar tadi sore, sepertinya Rain dan anak buahnya akan memerangi pengacau yang juga penganiaya Bang Tigor.
Hatiku masih bimbang untuk melakukan apa. Tiba-tiba mata ini tertuju pada sebuah buku tebal di nakas kamar ini. Ketika kutengok, ternyata sebuah kitab suci umat Islam.
Pada halaman pertama tertulis nama almarhumah Bik Yati. Pasti ini punya beliau. Akhirnya, hati ini sedikit tercerahkan. Untuk membunuh waktu, aku akan mengaji saja.
Walau pun bukan seorang penghapal Al Quran. Namun, aku cukup lancar membaca kitab suci ini. Kebetulan masih dalam keadaan suci sehabis sholat Isya satu jam lalu, sehingga tidak perlu berwudhu lagi. Aku cukup kembali mengenakan mukena saja.
Usai membaca basmallah, mulailah bibir ini mengalun bacaan ayat-ayat suci tersebut. Hati yang damai membuatku ingin terus membaca kalam suci tersebut. Namun, aktivitas itu harus terjeda saat mendengar raungan suara mesin motor.
Buru-buru aku melepas mukena. Melipatnya asal, lalu menaruhnya pada meja rias. Tangan ini lekas membuka pintu kamar, kemudian melesat cepat ke depan.
Langkahku terhenti, saat melihat Iqbal dan Itong tengah memapah Bang Tigor. Baju lelaki plontos itu tampak bersimbah darah. Iqbal merebahkan pria berumur sekitar akhir tiga puluh tahun itu pada sofa ruang tengah.
"Ambilkan kota obaaat!" Rain berteriak. Lelaki itu duduk tidak jauh dari Bang Tigor.
Bibir Rain terlihat mendesis. Seolah tengah menahan sakit. Ketika kutengok lengannya, bulu kudukku langsung meremang. Ada luka memanjang sekitar lima centimeter. Merah penuh darah.
Seorang preman seusia di atas Iqbal sedikit tergopoh-gopoh menuju ruang kerja Rain. Tidak lama dia kembali dengan kotak obat dan dua pack tisu di tangan. Dia langsung menyerahkan benda tersebut pada Iqbal.
Perlahan Iqbal membuka kaos Bang Tigor yang sudah dipenuhi darah. Aku kembali dibuat terperanjat melihat luka yang menganga lebar pada perut sebelah kiri Bang Tigor. Pantas saja wajah Bang Tigor pucat pasi seperti itu. Pasti dia kehilangan banyak darah.
Dengan sigap Iqbal membersihkan luka Bang Tigor dengan tisu. Helai demi helai kertas putih itu berubah menjadi merah. Semua berserakan di lantai.
"Tahan ya, Bang," ujar Iqbal menepuk pundak Bang Tigor. Pria plontos itu mengangguk sambil tetap memejamkan mata.
Iqbal mengambil sebuah botol yang kutahu berisi garam fisiologis atau NaCL 0,9%. Perlahan Iqbal mulai membersihkan luka Bang Tigor dengan cairan pembersih luka tersebut.
"Sssttt!" Bang Tigor tampak mengernyit. Pastinya dia tengah menahan perih.
Usai membilas luka dengan cairan pembersih, Iqbal lantas mengoles luka tersebut dengan betadine. Lagi-lagi aku dibuat melihat ekspresi wajah Bang Tigor yang tengah menahan sakit. Kedua tangannya tampak mencengkeram sofa.
Kini Iqbal mulai mengambil sebuah jarum dan juga benang. Tanpa banyak bicara, dia mulai mengerjakan tugasnya untuk menjahit luka Bang Tigor.
"ARGHHH!" Bang Tigor menjerit saat jarum itu mulai menusuk perutnya.
Namun, Iqbal tidak peduli. Pemuda itu terus membuat sulaman pada daging yang tersayat itu. Sementara Rain dan anak buahnya hanya menatap dalam diam. Pastinya mereka sudah terbiasa melihat adegan seperti ini. Hanya aku yang membuang muka lantaran tidak tega melihatnya.
Setengah jam berlalu, Iqbal telah berhasil menjahit luka Bang Tigor. Dia kembali memberi betadine pada permukaan jahitan luka. Kemudian dirinya menutup luka dengan kasa steril, perban, dan juga plester.
"Ahhhh ... selesai juga."
Iqbal menghembus napas panjang yang lega. Dia menarik sehelai tisu lagi untuk membersihkan keringat yang membasahi pelipisnya. Dirinya bangkit berdiri, lalu menuju wastafel yang menempel di dinding ruang tengah ini. Iqbal mencucinya tangannya dengan sabun.
"Ran, ambilkan Bang Tigor air minum!" suruh Iqbal usai mencuci tangan.
Aku hanya mengangguk. Kebetulan di ruang tengah ini ada dispenser, sehingga aku tidak perlu beranjak ke dapur. Sementara belas berkaki yang menggantung di minibar kuambil, baru mengisinya dengan air dispenser.
"I-ini, Bal." Agak sedikit terbata saat menyodorkan gelas berkaki ini pada Iqbal. Sebab masih ngeri melihat luka. Bang Tigor. Walau pun sudah tertutup perban. Karena perban putih itu sudah berubah menjadi merah.
Iqbal menerima gelas dariku. "Minum, Bang," suruh Iqbal sambil mendekatkan gelas tersebut pada bibir Bang Tigor.
"Te-terima kasih," ucap Bang Tigor usai menyuruput air putih tersebut.
Tangan Iqbal kembali membuka kotak P3K. Dia mengambil sebuah botol kecil yang ternyata tinggal satu butir lantas memberikannya pada Bang Tigor. "Minum aspirin ini, Bang. Biar sedikit mengurangi rasa sakitmu."
Kembali dengan telaten Iqbal menyuapkan pil tersebut pada mulut Bang Tigor. Tidak lupa pula memberikan minuman untuk pria usianya paling senior di situ.
"Sekarang tugas kamu untuk mengobati lukanya Bang Rain, Kiran," suruh Iqbal tenang.
"A-a-pah?" Aku tergagap kaget. Ketika kulirik Rain, pria itu tampak acuh tak acuh. "Ta-tapi kenapa mesti aku, Bal? Aku sama sekali gak ... gak bisa jahit luka," protesku agak tersendat.
"Luka Bang Rain gak perlu dijahit, cukup obati saja," sahut Iqbal tenang, "aku sendiri mau beli aspirin sama mantau keadaan di luar."
"Tapi, Bal ...." Aku masih keberatan.
"Cuma balut luka pasti kamu bisa," ujar Iqbal meyakinkan. Pemuda itu mendekat, lantas memegang kedua pundakku. "Dulu mengobati luka itu adalah tugasnya Bik Yati. Setelah dia pergi, aku mempelajarinya. Dan sekarang itu menjadi tanggung jawab kamu."
Aku menunduk dalam bimbang.
"Mulai sekarang kamulah dokter yang nanti akan merawat jika kami terluka."
"Aku gak bisa, Bal.
"Cuma balut luka pasti bisa." Iqbal kembali meyakinkan. "Yodah kita cabut, Guys!" ajak Iqbal kemudian. Ketika dia beranjak pergi, anak-anak yang lain mengikuti.
"Bawa Tigor ke kamar tamu dulu!" Rain memberi perintah.
Dua pria yang kuketahui bernama Ayon dan Itong, lantas memapah Bang Tigor. Mereka berlalu menuju kamar tamu. Meninggalkan aku dan Rain berdua saja di ruangan ini.
"Kamu gak denger perintah Iqbal barusan?" sindir Rain kemudian.
Aku kian dibuat bingung. Perlahan aku mendekati pria dingin itu. Agak canggung saat meraih tangan Rain yang terluka.
Aneh! Saat tanganku menyentuh kulitnya, entah mengapa ada gelenyar tidak menentu seperti ini. Hal yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
"Jangan cuma dipegang, cepat obat!" sentak Rain sedikit mengagetkan.
"Ma-maaf," ucapku sambil menunduk takut.
Perlahan aku mengambil tisu untuk membersihkan luka pada lengan Rain. Sama seperti Iqbal, aku pun menaruh cairan pembersih pada luka tersebut. Pria itu memejam sembari meringis. Dapat kurasakan betapa sakitnya Rain memahan perih.
Usai membilas luka, aku mengoles betadine. Baru menutupnya dengan kasa dan plester.
"Terima kasih," ucap Rain lirih.
Aku mengangguk pelan. Ada rasa bahagia mendengar ucapan terima kasih dari Rain.
Ketika aku tengah membereskan peralatan, Rain bangkit dari sofa. Pria itu melangkah pelan menuju anak tangga. Namun, pada langkah ketiga, dia ambruk.
"Ya ampun, Bang Raiiin!" Aku langsung menghampiri lelaki itu. Mata Rain sudah terlihat sayu. Bibirnya tampak pucat bergetar.
"A-a-antarkan aku ke-ke kamar!" pinta Rain tersengal.
Next.
Jan lupa subscribe ya untuk update part terbaru ?