Marco berdiri tidak jauh dari dua orang yang terlihat dimabuk asmara itu sedang sarapan dengan saling menyuapi persis seperti sepasang pengantin baru. Abhiyaksa dengan wanita itu. wanita yang sempat dilihatnya dikantor ayahnya beberapa bulan yang lalu. sedang apa mereka disini. di restoran hotel. jangan bilang Abhiyaksa baru saja check in dan sarapan bersama selingkuhannya disini. sambil mengambil sarapannya sendiri Marco memperhatikan gerak gerik dua sejoli tersebut.tak terlihat sungkan sama sekali.dasar edan! rutuknya dalam hati. ingatannya melayang pada wanita manis pemilik toko roti dan cafe di sebrang kantornya. seingatnya wanita tersebut adalah istri sah Abhiyaksa. dasar lelaki buaya, sudah punya istri masih juga suka jajan diluaran. sebagai lelaki biasa yang berorientasi pada fisik Marco akui bahwa selingkuhan Abhiyaksa terlihat jauh lebih cantik dari istrinya. tapi itu bukanlah pembenaran buat sebuah perselingkuhan. sekali lihat Marco juga tahu bahwa wanita yang sedang bersama Abhiyaksa sekarang bukanlah tipe wanita tulus seperti istrinya. aura kedua wanita itu jauh berbeda. untuk dijadikan istri tentu Marco akan memilih wanita seperti istri Abhiyaksa, sepertinya Abhiyaksa juga... tapi untuk selingkuhan? Marco berani bersumpah tidak akan melakukannya jika kelak dia menikah. cukup ibunya saja yang menderita selama ini karena penghianatan ayahnya. dia tidak akan melakukan hal yang sama pada istrinya nanti. tiba-tiba perasaan marah menyusupi hati kecil Marco pada Abhiyaksa yang jelas-jelas bukan siapa-siapanya. perasaan simpati pada istri Abhiyaksa mendorongnya untuk memotret kedua orang tersebut.
***
Devan memasuki ruangan kerja Abhi dengan langkah terburu-buru. tiga hari Abhi menghilang tanpa kabar. awalnya dia fikir bos yang juga temannya itu sedang sakit karena cuma menitipkan pesan pada sekretarisnya agar dia menghandle pekerjaannya selama dia tidak masuk kerja. tapi asumsinya langsung terbantahkan saat Marco yang juga temannya menyampaikan berita yang membuatnya sakit kepala. Marco mengatakan melihat Abhi sedang bersama selingkuhannya di hotel. meski sempat tak percaya namun akhirnya sukses membuatnya menganga demi melihat siapa wanita yang sedang bersama Abhi.
" bisa jelaskan kenapa kamu bisa bersama Mona di hotel?" tanyanya tanpa basa basi. dengan tergesa dia duduk didepan meja kerja Abhi. Abhi menganggkat wajahnya dari Laptop yang sedari tadi dipekurinya.
" kamu tahu darimana?" Abhi balik bertanya dengan senyum tipis terselip dibibirnya.
" nggak penting tahu dari siapa jawab saja kenapa kalian bisa bersama, kamu rujuk dengan dia?" Abhi mengangguk.
" apa? kenapa bisa? lalu Laras bagaimana?"
" Laras ya gak gimana-gimana ini keputusan kami bersama kok demi anak-anak" jawabnya enteng.
" aku kok gak yakin Laras baik-baik saja..." gumamnya pada diri sendiri. sedikit menyentil ego Abhi.
" Jangan terlalu mencampuri urusan rumah tanggaku" ucap Abhi tak suka.
" Santai bro... aku gak bermaksud ikut campur aku hanya peduli pada kalian"
" terima kasih tapi gak perlu"
Devan terkejut dengan reaksi Abhi yang terlihat sangat santai dengan apa yang dia lakukan.apa benar Laras setuju untuk dipoligami. Devan tahu kalau Laras wanita yang baik dan tidak neko-neko tapi apa ia dia mau dipoligami? Dia akan mencari tahu lewat istrinya nanti. Laras dan Narni istrinya lumayan dekat sejak dulu.
" kamu yakin dengan apa yang kamu lakukan?" tanya Devan masih belum puas dengan kenyataan yang terjadi," jangan mudah terbawa suasana yang nanti kamu sesali. kamu sudah fikir masak-masakkan?"
Devan melihat raut muka Abhi dengan seksama. mencari jejak kebenaran dari wajah teman akrabnya yang cenderung pendiam itu. tak bisa Devan pungkiri bahwa sejak tadi aura yang terpancar adalah aura kebahagiaan."sejak kapan Mona kembali?" selidiknya lagi.
" sekitar dua minggu yang lalu"
" baru dua minggu tapi kamu sudah sangat yakin buat kembali padanya??" tanpa sadar Devan membelalakkan matanya pada Abhi.
" kami sudah kenal sejak lama. kamu gak lupa kan kalau dia pacar pertama dan juga mantan istri pertamaku"
Devan tersenyum mengejek" aku ingat, sangat ingat kalau dia adalah orang yang sama yang pernah membuat kamu hancur dulu" sarkas Devan.
" kamu tahu banyak hal tentang kami kan? jadi kamu juga pasti tahu dengan apa yang telah terjadi".
" tapi dia sudah me.."
" dia ingin memperbaiki semuanya. aku hanya memberikan dia kesempatan untuk lebih dekat dengan anak-anak. apa aku salah?"
Devan diam. Abhi memang benar dengan argumennya tapi tetap saja rasanya kurang adil bagi Laras.
" kalau setiap orang tidak bisa mendapatkan kesempatan kedua, apa kami fikir sekarang kamu masih bisa bersama anak dan istrimu? kalau saja Narni tidak memaafkan kesalahanmu dulu apa Reza akan ada didunia ini?"
tajam. tipikal Abhi sekali. dengan mudahnya membuat Devan harus kembali diingatkn dengan kesalahannya yang sempat terlena diawal pernikahannya. rumah tangganya sempat diambang kehancuran tapi beruntung mereka bisa melewatinya dengan baik. tetap saja untuk kasus Abhi sekarang rasanya ada yang mengganggu fikiran Devan. rasanya aneh dengan keputusan yang Abhi ambil. seingatnya Abhi tipikal pria yang setia. Apa selama ini dia tidak cukup tahu siapa Abhi yang sebernarnya sampai-sampai dia tidak bisa menerima dengan Abhi yang sekarang. yang rela mempoligami istri yang sudah sukarela mengasuh anak yang bukan darah dagingnya. semua teman dilingkungannya pasti setuju betapa beruntungnya Abhi memiliki Laras. apa dengan rela nya Laras dipoligami termasuk salah satu keberuntungannya juga?
" tapi Bhi aku merasa..."
" kamu gak ada kerjaan ya?" potong Abhi cepat", revisi penawaran yang kemarin belum kamu kerjakan"
Devan tahu itu bentuk pengusiran Abhi padanya. Menghela nafas pasrah Devan bangkit dari kursinya.
" jangan lupa tutup pintunya" ingat Abhi menambah kejengkelan Devan.
***
" pagi Dea..." sapa Marco begitu masuk kedalam toko.
" pagi Marco" balas Dea dengan senyum teramat manis. melihat Marco mengedarkan pandangannya kesekeliling toko Dea juga ikut mencari objek yang ingin dilihat Marco.
" mau sarapan disini atau bungkus?" tanyanya.
" disini saja, moccacino dan tiramisu" jawab Marco. dia memang punya kebiasaan sarapan dengan kue manis tersebut.
Dea mengangguk, menyebutkan pada salah satu pelayan dan ikut bergabung dengan Marco duduk disudut ruangan.
" kamu sendirian..?"
melihat Dea mengerutkan dahinya Marco merubah pertanyaannya dengan berdehem kecil".teman kamu gak masuk ya?".
" oh Laras?"
Marco mengangguk.
" mungkin masih dirumah, dia bisa datang kapan saja. maklum dia kan bosnya.." jawab Dea sambil tersenyum. Marco juga tersenyum kecil.
" kamu gak naksir sama dia kan?" tanya Dea menggoda. Marco sempat terkejut tapi buru-buru merubah ekspresi wajahnya.
" aku bercanda kok.." ucap Dea" gak mungkin juga kamu naksir sama dia. memang sih dia manis kebangetan tapi dia sudah tidak avalaible lagi karena sudah punya suami..." kekeh Dea.
" yang ready stock cuma aku..." sambungnya ngakak. Marco ikut tertawa bersama Dea. Dea yang tipikal ceplas ceplos mampu mencairkan suasana.
suara kedatangan orang membuat tawa dua orang beda gender itu berhenti. Laras masuk kedalam toko bersama Rara yang masih berseragam sekolah.
" tumben cepat pulangnya?" sambut Dea. Laras tersenyum sekilas pada teman bicara Dea.
" iya cuma ngambil nilai mid semester aja" jawab Laras.
" gimana nilainya baguskan?" tanya Dea pada Rara. Rara mengangguk.
" bisa kita bicara sebentar?"
Laras dan Dea saling pandang.
" ada yang ingin saya tanyakan, gak lama kok..." kata Marco membuat Laras dan Dea semakin heran. Dea mengangguk pada Laras.
" biar Rara sama aku dulu" putusnya sambil membawa Rara keruangan mereka. Laras berjalan kearah Marco, duduk dikursi yang tadi diduduki oleh Dea.
Marco mengulurkan tangannya dan disambut oleh Laras sambil menyebutkan nama masing-masing.
" maaf kalau lancang, sebenarnya saya sudah tahu siapa mbak Laras sebelumnya. kebetulan lingkungan kerja saya sering bersinggungan dengan pak Abhiyaksa suami mbak.." Laras mengangguk sambil mereka-reka akan dibawa kemana arah pembicaraan mereka nantinya.
" berita yang mau saya sampaikan ini pasti akan melukai perasaan mbak Laras. tapi setelah saya pertimbangkan tetap akan saya sampaikan... sekali lagi maaf kalau lancang..." kata Marco.
Laras bisa melihat keseriusan dari wajah Marco. tapi dia tidak tahu apa yang akan pria itu sampaikan. Marco mengeluarkan hpnya membuka aplikasi galeri dan menyodorkan pada Laras. raut wajah Laras mengeras, tertangkap oleh indra penglihatan Marco sekilas. namun sejenak kemudian kembali keraut biasa.
" dia suami mbak Laraskan?" tanya Marco hati-hati. Laras mengangguk sekali.
" mbak kenal wanita itu?". Laras diam. sepertinya hidupnya akan berubah mulai sekarang. pandangan orang mulai mengasihaninya akhirnya dia lihat juga. dia tahu akan jadi begini. sudah sering dia lihat diterima oleh ibunya. yah, ayahnya juga sempat berpoligami dahulu. awal petaka masa kecilnya dimulai sejak ayahnya menikah lagi. dulu dia bertekad tidak akan mau seperti ibunya. tapi sekarang dia juga mengalami apa yang ibunya alami. menangis diam-diam tengah malam juga sudah dia alami. terlihat tegar hanyalah kamuflasenya didepan suami dan anak-anaknya. belum genap seminggu dimadu tapi sudah membuatnya lelah batin. bayangan wajah dan penderitaan almarhumah mamanya sering datang dimimpinya. satu persatu luka batinnya mulai terkuak kembali.
" mbak Laras..."
" dia Monalita..istri Mas Abhi juga". jawaban lemah Laras mampu menghempas Marco. wajahnya terlihat tak percaya dengan apa yang didengarnya.
" jadi pak Abhiyaksa punya dua istri?"
Laras mengangguk, segera berdiri dari duduknya " maaf saya kebelakang dulu, permisi..." . dengan tergesa Laras berjalan kedalam. bukan keruangannya tempat Dea dan Rara berada. tapi menuju toilet. menangis tersedu. sakit. dia tidak akan pernah sanggup melihat orang lain mengasihaninya seperti ini. dia merasa sangat lemah dan tidak diinginkan dalam waktu yang bersamaan. sedari kecil dia hidup dalam lingkaran yang seperti itu. rendah diri bila berada ditengah keramaian. mentalnya memang bermasalah karena keluarga yang broken home. tidak ada sosok ayah selama masa pertumbuhannya. hidupnya mulai stabil justru saat bertemu dengan Abhi. dia merasa dibutuhkan dengan kehadiran Rara dan sinta. dia tidak lagi mengasihani dirinya sendiri. semua energi negatif dia ubah menjadi positif dengan menjadi ibu yang menyayangi dua bidadari kecilnya. sikap Abhi yang sangat ketergantungan padanya juga membuat Laras pelan-pelan sembuh dari mental illnessnya. meski tidak pernah ke psikolog atau psikiater tapi Laras tahu ada yang salah dengan mentalnya selama ini. sekarang rasanya dia kembali terlempar jauh kemasa lalu.