Deril memandangi wajahnya dari kaca di dalam mobilnya. Pipinya bengkak, sudut bibirnya juga berdarah. Sebenarnya sakitnya itu tak seberapa bila dibandingkan dengan sakit hatinya sekarang. Deril sama sekali tidak menduga sahabatnya sendiri rela memukulinya demi seorang wanita penjual bakso saja. Persahabatan yang telah mereka bina bertahun-tahun, tidak lebih berarti dari wanita itu. Dengan begitu ringannya tangan Ryan memukulinya. Deril, kecewa sekali. “Ryan, aku tidak akan memberi maaf dengan mudah karena ini,” ucapnya geram. Setelah perasaannya tenang, Deril menghidupkan mobilnya, meninggalkan parkiran rumah sakit. Sementara itu Laras baru saja tiba di warung baksonya, sedang di interogasi Mbak Surti. “Kok bisa Ras, kok bisa?” tanya Mbak Surti gusar sembari mengangkat cintung pengaduk

