Pemulung Itu Suamiku

1116 Kata
Semuanya berawal dari ajakan Mas Kunto di suatu pagi saat aku menyiapkan keranjang besar yang biasa dibawanya saat mulung. "Sum, lusa kita diundang datang ke rumah Lina, ibu juga ada di sana," ujar Mas Kunto, dalam nadanya sarat dengan rasa rindu pada ibunya. Aku maklum, sudah hampir empat tahun kami tak bisa pulang kampung, bukan karena virus ini tapi asli karena kami tak punya uang untuk pulang. "Iya, mas, kita usahakan datang, Dika sama Diki juga pasti kangen neneknya," ujarku, mencoba tersenyum agar suamiku sedikit lega. "Kata Mas Jono lusa kita harus ada di sana, suruh bantuin persiapan acaranya," kini suamiku terlihat menerawang. Pasti dia bingung, secara rumah Leni tak begitu jauh dari kontrakan rumah kami, pun dengan rumah Lani, adik kedua mas Kunto, jika ditempuh dengan kendaraan pribadi hanya kira kira tiga puluh menitan saja. Tapi tak sekalipun mereka pernah mengunjungi kami, mungkin keduanya malu punya kakak yang hanya menjadi pemulung di Jakarta. Rumah kami pun hanya gubuk, yang mungkin tak layak huni, tapi alhamdulillah baik aku, suami dan anak-anak tak pernah ada yang mengeluh. Sikap Leni juga yang membuat kami segan untuk hadir di acaranya itu. Mudah-mudahan kali ini tidak, Mas, waktu mungkin saja merubah sifat sombong adik-adikmu itu. Harapku saat ini. . . Ba'da dhuhur kami mempersiapkan diri, Mas kunto membeli beberapa biji jeruk lemon untuk membersihkan tangan dan kuku-kuku kami yang mengitam, karena seringnya mengais s****h mencari barang yang bisa kami jual ke pengepul. Mas Kunto tampak gagah dengan memakai kemeja biru yang warnanya mulai pudar, kopiah hitam yang warnanya mulai berubah menguning, bahkan separuhnya sudah kemerahan terpaksa tetap digunakannya, mau bagaimana lagi hanya itu pakaian layak yang kami punya, di masa sulit ini bisa makan saja bagi kami sudah hal yang sangat luar biasa, membeli pakaian adalah kebutuhan ke sekian yang tak pernah ada dalam daftar kebutuhan kami. Bahkan mas Kunto menggunakan singlet dari kaos salah satu calon presiden yang kami terima beberapa tahun lalu yang lengannya sengaja kami potong. "Kamu juga bawa ganti ya Sum, kan kita pasti menginap di sana," ucapnya, mengingatkanku. "Pasti mas, baju Dika dan Diki pun sudah kumasukan," ujarku. "Apa Deni tidak ikut?" Tanya Mas Kunto. "Tidak mas, katanya dia mau di ajak mbok Warti nyiapin lapak nasi uduk di pasar, nanti dibeliin sepatu baru katanya," "Seharusnya bantu orang jangan ngarep upah Sum, biar nanti seikhlasnya saja, sayang pahalanya dituker sepatu baru," ujar mas Kunto. "Deni gak minta mas, itu mbok Warti yang bilang, sudah dua hari soalnya Deni bantuin dia bawain barang-barang." Jelasku. "Alhamdulillah kalau gitu, Sum, biar kita susah jangan sampe anak anak kita ngemis atau belajar palak memalak, aku sedikit khawatir karena Deni sekarang punya banyak teman preman di pasar." "Tenang saja mas, insya Allah, Deni masih rajin ibadah kok, masih ngerjain tugas-tugas sekolahnya, mudah-mudahan dia lulus dengan nilai bagus," "Aamiin" ucap Mas Kunto. Dika dan Diki nampak senang saat kami menaiki angkot menuju rumah bibinya. "Asik, kita ketemu nenek," ucap mereka bersamaan. Mau tak mau kami ikut bahagia melihatnya. Aku melihat sesatu yang aneh pada wajah suamiku, walaupun dia berusaha menyembunyikannya, tapi aku tau dia panik, dan cemas. Bismilah, Mas, mudah-mudahan setelah sekian lama kita tak bertemu dengan saudara-saudaramu hubungan kekeluargaan kita akan semakin baik. Aku juga tau betapa mas Kunto merindukan ibunya. Apalah daya hasil dari memulung tak cukup untuk bekal kami mudik, bahkan untuk hidup dengan tiga anak saja sudah kembang kempis, hanya syukur dan sabar yang membuat kami tetap bisa menjalani hidup sesulit ini. Pemulung itu tetap terlihat gagah, dengan wibawa dan kasihnya pada kami, bukan seberapa besar hasilnya, tapi seberapa kuat dia mencari nafkah itu untuk kami. Mas Kunto, terima kasih Ya Allah, telah menghadirkan pria istimewa ini dalam hidupku! . . Kami tiba di sana saat waktu mendekati ashar. Ibu nampak bahagia melihat kami datang, matanya basah, dia terus menerus memeluk tubuh suamiku. "To, kemana saja kamu, Le, ibu kangen!" ucapnya dengan air mata berlinang, lalu dia menarikku ke pelukannya, juga kedua cucunya. "Mana Deni, kok cuma dua saja yang dibawa?" Tanya ibu, matanya mencari cari sosok cucu laki-lakinya. "Deni tidak ikut Bu, sibuk sekolah daring," jawabku. "Anak itu memang beda, ibu yakin suatu saat nanti Deni pasti jadi orang hebat," ucap ibu, tulus dan penuh kepastian. Aku dan Mas Kunto mengaminkan apa yang ibu ucapkan. "Halah, mana bisa jadi orang suskes, wong kerjanya tiap hari cuman mulung kok, malu maluin keluarga saja," ujar Tri, adik bungsu Mas Kunto. Dialah anak satu-satunya anak yang masih tinggal dengan ibu. Kami terhenyak, bagaimana bisa Tri bicara kasar seperti itu di depan kakaknya, padahal Tri yang kukenal dulu cukup sopan dan baik. "Iya, di Jakarta jadi pemulung, lebih baik pulang kampung," kini Leni ikutan bicara. "Pasti jadi omongan orang sekampung," ucap Lina. Kini tiga adik perempuan mas Kunto mengeroyok suamiku, mereka mengeluarkan unek-uneknya perihal pekerjaan kami. "Ngotor-ngotorin derajat keturunan saja, anak Pak de Waskito kok mulung?" Dengus Tri. Dia mencebik padaku. "Memangnya kenapa kalau kami mulung di Jakarta? Apa ada yang salah dengan pekerjaan itu? Apa karena itu pekerjaan kotor, lantas jadi hina di mata kalian? Ingat yang hina di mata manusia belum tentu hina di mata Allah, kami mulung, halal, bukan korupsi, maling, atau menipu," kini aku angkat bicara. Tak rela suamiku begitu direndahkan oleh keluarganya sendiri. "Mulung ya mulung saja, ndak usah macem-macem," ujar Tri lalu ngeloyor pergi, begitu juga dengan Leni dan Lina. "Alhamdulillah kami masih bisa bekerja, tidak harus minta-minta pada keluarga, tidak merepotkan orang lain, dan yang terpenting mulung itu halal," tandasku. Ibu mengangguk. "Mulung kok bangga, aneh!" Kini Tri yang pergi meninggalkan kami, dengan mendengus kasar. Raut suamiku seketika berubah, rahangnya mengeras, seketika kupegang tangannya, kuusap usap agar kemarahannya reda. Aku tau kalau pun dia marah hanya akan marah pada dirinya sendiri, dan itu semakin membuatku terluka. Harga dirinya benar-benar terkoyak, aku tau itu! Alhamdulillah, mas Kunto mengusap wajahnya lalu membaca istighfar. Ibu memandangnya penuh iba, lalu menuntun kami ke sebuah kamar, rupanya itu kamar ibu selama tinggal di rumah Leni. "Sabar yo, Le, kamu anak sulung, harus bisa menahan amarah, ingat pesan bapakmu, jaga adik-adikmu, jaga ikatan keluarga kita," ujar Ibu mengusap punggung tangan mas Kunto. Mata tua itu menatapku sekarang. "Sum, terima kasih sudah jadi pendamping yang baik untuk Kunto, ibu yakin kamu perempuan baik, hingga Kunto memilihmu, yang kuat ya Nduk, yang sabar, orang sabar insya Allah subur!" ucapnya dengan mata basah. Kami sabar bu, sabar sekali, biar Allah saja yang tau bagaimana hidup kami di Jakarta. "Sum, ayo turun, kok ngelamun," mas Kunto menarik tanganku, lalu membayar angkot yang kami tumpangi. "Oh, iya Mas," aku tergagap. Bayangan itu sirna seiring kami tiba di tempat tinggal kami yang sebenarnya. Alhamdulillah kami bisa pergi dari neraka dunia itu akhirnya. Semoga berkenan, thanks semuanya yang sudah subscribe dan follow akunku, love you all!!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN