Bismillah!
Yuk follow akunnya dulu biar kita lebih dekat dan akrab ya moms
.
.
"Nyonya siapa ya?" tanyaku lagi, setelah dia merenggangkan pelukannya.
"Ya ampun, bu, saya maminya Riska, itu teman Deni di sekolah, kita pernah bertemu saat pembagian raport tahun lalu, masa lupa sih sama orang cantik kayak saya?" Lalu dia tertawa kecil.
"Becanda bu, eh iya jangan panggil saya nyonya, biasa aja, santai bu," lanjutnya tersenyum kembali.
"Ya Allah, maap nyonya ... eh bu, saya lupa," kataku, menahan malu.
"Tapi saya enggak lupa sama wajah ibu, dulu setelah acara beres saya cari-cari malah enggak ada, padahal saya pengen ngobrol banyak sama ibu," ujarnya.
"Saya harus segera pulang, kebetulan saat itu kedua adiknya Deni sedang tidak enak badan," terangku.
Wanita cantik itu tersenyum kembali sambil menganggukkan wajahnya.
"Iya, Riska pernah bilang kalau Deni suka cerita ayahnya kadang cari barang bekas di sekitar komplek sini, makanya saya bilang ke Si Mbok kalau ada pemulung kasih apa aja, takutnya itu bapaknya Deni," jawabnya.
"Oalah bu, segitunya," ujarku, terharu.
"Eh iya sampe lupa, ayo masuk dulu, pak, bu," tawarnya.
"Tidak usah bu, kami kotor begini," jawab Mas Kunto.
"Tidak apa-apa, jangan sungkan, ayo bu," mami Riska menarik tanganku.
Kami diajak masuk ke rumah besar itu, rasanya sungkan sekali, karena pakaian kami tak layak ada di sana.
"Duduk dulu, nanti biar Mbok Mir bikin minum," ucapnya ramah, dia tak sungkan duduk dekat dengan kami
Wajahnya nampak tulus, penuh kebaikan.
Tapi tetap saja kami merasa tak nyaman, sadar diri dengan keadaan.
"Loh bu, duduk di atas, jangan dibawah gitu, anggap rumah sendiri," dia memaksa kami duduk di sofa mewah dan empuk miliknya.
Duh, takut rasanya baju kami mengotori benda mahal ini, seolah mengerti Mami Riska menarikku untuk duduk di sofa mewahnya.
Aku dan Mas Kunto akhirnya memberanikan diri duduk di sana.
"Sebenarnya kami dari dulu pengen ketemu bapak dan ibu, tapi saya malu, saya dan Riska mengucapkan terima kasih pada ibu dan bapak," ucapnya.
"Terima kasih untuk apa bu?" tanyaku heran, karena merasa tak pernah melakukan apapun padanya.
"Asal bapak dan ibu tau atas bantuan Deni lah Riska bisa lulus dengan nilai yang baik, Riska berubah sikap menjadi lebih sopan dan rajin beribadah, semuanya karena berteman dengan Deni, anak ibu,"
"Alhamdulillah kalau begitu, bu," jawabku, tak menyangka jika Deni bisa punya teman seperti Riska, dia tak pernah cerita tentang teman perempuan pada kami, sepulang sekolah dia langsung ikut bekerja, guna menambah penghasilan keluarga, Deni juga jarang minta uang saku, karena sering mendapatkan upah dari pekerjaannya.
"Saya salut sama Deni, apa rahasia sih bu, punya anak soleh begitu? Padahal teman-teman di lingkungan kami jarang ada anak yang mau ibadah, bekerja, dan giat belajar, Deni itu paket komplit, saya aja yang bukan ibunya bangga sekali sama dia," ucap maminya Riska terdengar tulus saat memuji anak kami.
"Biasa aja bu, mungkin karena Deni tau kami itu hanya orang miskin, susah, jadi dia gak berani macam-macam," ucapku, merendah, sedangkan mas Kunto hanya diam, sesekali dia menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataanku.
"Riska itu tergolong anak yang susah gaul bu, dia juga agak sulit menerima pelajaran, bisa masuk SMP yang sekarang saja karena bantuan saudara, kebetulan kepala sekolahnya sepupu suami saya, hehe, jadi malu saya bu," dia terkekeh sendiri, mungkin merasa malu kalau anaknya bisa masuk SMP pavorite karena sistem kekerabatan.
"Tapi alhamdulillah, sepupu saya bilang nilai Riska naik signifikan setelah sering belajar bareng sama Deni, makanya saya senang sekali bisa ketemu ibu, kalau bisa sih saya mau Deni dan Riska masuk SMA yang sama, biar mereka tetap bareng," ujarnya.
"Tapi pasti ibu enggak mau ya, merepotkan Deni saja nantinya," lanjutnya.
"Kalau saya sih terserah Deni saja, bu, kami juga masih bingung dia melanjutkan ke mana, mudah-mudahan bisa segera daftar takutnya keburu tutup sekolahannya," jawabku.
"Kalau begitu biar nanti saya bicara sama Riska untuk ngajak Deni liat liat sekolahan bareng, kalau setuju nanti saya bantu daftarin Deni juga," tawarnya.
"Ah, jangan bu merepotkan saja, Riska pasti masuk ke sekolah yang mahal, kami mau nyari sekolah yang standar saja, yang mau menerima beasiswa Deni," jawab Mas Kunto.
Maminya Riska terdiam sejenak. Tapi kemudian dia berkata.
"Tapi tolong ijinkan Riska satu sekolah dengan Deni ya Pak, saya sangat berharap mereka satu sekolah kembali, ini saya benar-benar memohon, minta tolong sama ibu dan bapak," ujarnya merapatkan kedua telapak tangannya.
"Insya Allah bu, kami ijinkan, asal Deni mau saja," ujar suamiku.
"Terima kasih, pak, bu, kalian memang baik hati, pantas punya anak sesoleh Deni," jawab Maminya Riska.
Kami pun memilih untuk pamit.
"Nanti dulu ya, Pak, bu, sebentar saya ke belakang dulu,"
Tak berapa lama maminya Riska kembali kini bersama ART setengah baya yang tadi menemui kami.
"Tuh kan mas, majikan saya baik kok," ujar ART itu, kami tersenyum menanggapinya.
Maminya Riska memberikan beberapa dus dan bungkusan besar.
"Ini ada sedikit oleh-oleh, sebagai tanda terima kasih kami pada ibu dan bapak, jangan sungkan mampir kesini kalau bapak lagi keliling komplek sini, pintu rumah saya selalu terbuka untuk keluarga bapak dan ibu, ijinkan juga kalau nanti saya bertandang ke rumah kalian," ucapnya menjabat tanganku erat.
"Sampaikan terima kasih saya pada Deni ya, bu," dia kembali memelukku erat, matanya berkaca.
Dia mengantarkan kami dengan pandangan bahagia, melambaikan tangan dan tak berhenti mengucapkan agar nanti kami mau singgah lagi ke rumahnya ini.
Sepanjang perjalanan pulang aku tak henti berpikir,
Kenapa orang lain mau mendekat dan akrab dengan kami, sedangkan adik dan saudara yang seharusnya dekat sama sekali tak mau mengenal kami.
"Darah lebih kental dari pada air"
Ah istilah itu tak berarti untuk keluarga mas Kunto.
.
.
Aku membagikan barang-barang dan makanan pemberian maminya Riska pada tetangga sekitar, mereka senang menerimanya, rasanya hati bahagia bisa membagi rejeki dengan orang sekitar.
Seandainya saja aku sekaya maminya Riska, tentu akan berbagi setiap hari seperti ini, batinku.
"Kalau kita kaya, pasti enak ya mas, bisa shodaqoh dan berbagi tiap hari,"ucapku sambil memberikan kopi dengan sedikit gula kesukaan mas Kunto.
"Berbagi, shodaqoh yo ndak usah nunggu kaya, Sum, perbuatan baik, senyum, berwajah manis juga shodaqoh, itu jadi amal baik, berbagi juga semampunya saja, mampu segelas air putih ya ndak apa-apa,: jelas Mas Kunto.
"Yo aku tau, tapi kalo berbagi makanan itu beda rasanya, apalagi tetangga sekitar kita semuanya orang susah, pasti seneng kalau ada orang yang tiap hari ngasih mereka makanan," jawabku, terkekeh.
"Yo wiss, berdoa pada Allah, banyak banyak baca sholawat, agar Allah segera mengabulkan apa yang kita minta," saran Mas Kunto.
"Siap bosku!" Aku mengangkat jempol, mas Kunto mencubit pipiku.
Kami tertawa bersama, rasanya kesulitan hidup itu hilang seketika.
"Sum, ojo lali loh, sisakan sebagian untuk ibu, mas akan minta Jono untuk membawa ibu ke rumah kita, sekarang kita tak lagi harus berbohong pada ibu, toh ibu sudah tau semuanya," kata mas Kunto.
"Sudah mas, buah-buahan, makanan, kue-kue yang paling enak sudah kusiapkan untuk ibu, juga beberapa bungkus kue kering yang bisa ibu bawa untuk pulang kampung, jarang-jarang kan kita ngasih ibu kue kue mahal kayak gitu," jawabku.
"Alhamdulillah, rejeki ibu, ya Sum, aku ndak sabar kepengen ibu datang dan menginap barang sehari dua hari di rumah kita," ujar Suamiku. Wajahnya nampak tak sabar menunggu kedatangan ibunya.
Aku tersenyum, pantesan seharian tadi dia nampak sibuk membetulkan ranjang bekas pemberian satpam komplek sebelah, ternyata itu disiapkan untuk ibu tidur nanti.
Lalu mas Kunto kembali merapikan kursi goyang yang kakinya sudah patah, pasti untuk ibu istirahat nanti.
Ah, seandainya saja kami punya rumah layak, pasti aku akan meminta ibu untuk tinggal bersama kami.
.
.
Aku menghidangkan beberapa potong sosis dan nugget ayam pemberian maminya Riska yang kusisakan setelah dibagikan pada tetangga, Deni, Dika dan Diki ikut sholat berjamaah dengan ayahnya.
Setelah sholat pasti mereka lapar, pikirku.
Baru saja aku hendak menuangkan air pada gelas besar milik mas Kunto, terdengar ucapan salam dari balik pintu.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam," jawabku, lalu membuka pintu, nampak di sana seorang pria mengenakan jaket hitam.
"Mas Jono, ada apa mas?" Tanyaku, Mas Jono itu sepupunya mas Kunto, hanya dialah saudara yang sering mengunjungi rumah kami, mungkin karena nasibnya tak jauh beda, sekarang dia bekerja di rumah Leni, jadi sopir suaminya.
"Iki Sum, ono surat dari ibunya Kunto," mas Jono menyerahkan sebuah amplop.
"Buat mas Kunto?"
Mas Jono menggelengkan kepalanya.
"Buat kamu Sum,"
"Buat saya?"
Lagi-lagi dia mengangguk.
Lalu pamit dengan alasan buru-buru, katanya Leni tak tau kalau dia sering mampir ke rumah kami.
Padahal aku sudah memintanya untuk masuk dan menunggu mas Kunto pulang dari mesjid.
Perlahan aku membuka surat dari ibu, penasaran apa isinya, kenapa ibu mengirimkan surat ini padaku bukan pada mas Kunto, anaknya.
Assalamualaikum.
Sum, mantuku.
Ibu minta maaf kalau ibu pulang tanpa pamit, bukan karena ibu tak mau mengunjungi rumah kalian, tapi karena Leni melarangnya, dan tiba-tiba saja Tri mengajak ibu pulang hari ini.
Padahal ibu ingin sekali datang ke rumah kalian, menginap dan tidur bersama cucu-cucu ibu.
Sampaikan salam ibu pada Kunto, katakan juga ibu sangat berterima kasih padanya, ibu tak bisa membayangkan jika ibu tak punya anak laki-laki sehebat dia.
Sum, terima kasih juga untuk kamu yang sudah mau menemani dan mendampingi anak ibu, Kunto.
Kini ibu faham, mengapa Allah mempertemukan kalian di Jakarta.
Kamu adalah perempuan yang tangguh, ibu yakin kamu kuat, kamu bisa bertahan hingga suatu hari nanti kalian bisa hidup yang jauh lebih baik dari sekarang.
Ibu tak akan berhenti untuk menengadahkan tangan pada-Nya, meminta agar kalian sehat, panjang umur dan selalu dalam lindungan-Nya.
Ibu mohon pamit, Nduk! Ingatlah doa ibu selalu ada di sisi kalian semua.
Wassalam.
Aku menangis, membaca berulang kali tulisan tangan yang sepertinya dibuat dengan tergesa itu.
Tega sekali kamu, Len,kamu melarang seorang ibu untuk berkunjung ke rumah anaknya, hanya karena kamu membenci kami.
Bersambung.
Du dudu ... si Leni harus diapain ya biar sadar???