Awan mengepalkan tangannya kuat saat melihat Senja dan Pandu menyebrang di depannya, Awan mengusap wajahnya dengan kasar. Hatinya saat ini tengah memberoktak gila, apakah dia cemburu saat ini? Apakah rasa cintanya dengan Senja masih sama? Awan kini tenggelam dalam perasaan yang sulit ia pahami. "Sial!" Umpat Awan. Setelah lampu berubah menjadi hijau, Awan lalu menancap gas mobilnya dengan kecepatan tinggi membawa semua amarah yang berada di kepalanya. Apa kini Senja benar-benar telah menggantikan posisinya dengan Pandu? Tidak, tidak boleh. "Arrghh," Awan kembali menjambak rambutnya lagi, ia semakin meningkatkan laju mobilnya. Ia sudah tidak berfikir panjang dengan kemungkinan yang mungkin terjadi bila Awan mengendarai mobil seperti orang kesetanan seperti ini. Selang lima belas menit,

