“Tidak Sabrina, kau tidak gila. Berpikirlah dengan jernih sekarang. Apa yang baru saja kau dengarkan tadi, adalah sebuah imajinasi dan juga halusinasi belaka. Mungkin, kau telah terlalu kelelahan atau telah terkena efek dari obat yang kau minum dari konselor itu kemarin. Kau harus tetap tenang dan membaca situasi yang terjadi kepada dirimu saat ini, Sabrina.” Aku berusaha menenangkan diriku sendiri. Jantungku berdebar begitu kencang saat aku mendengar suara itu, yang terasa sangat dekat dengan telinga dan juga otakku di sana. Bahkan, aku mulai bingung untuk mengetahui atau mencari tahu darimana asal dari suara itu sebenarnya. Apakah itu memang hanya datang langsung dari otakku atau aku memang mendengarnya secara fisik melalui telinga? Apa yang terjadi dengan diriku sekarang? “Maaf Sabrin

