Siang ini, bibir Hans dipenuhi dengan kecupan dan lumatan nakal. Sedangkan untuk malam nanti, Hans sudah merencanakan sesuatu yang besar bagi istrinya. Sayangnya, ia lupa bahwa Aurora juga memiliki otak seksi yang dalam dan wanita bermata biru itu juga sudah memikirkan sesuatu yang mengesankan demi suaminya. "Tuan, makan malamnya sudah siap." Ratih berdiri di samping meja makan yang telah dihiasi banyak bunga. Malam ini, Hans meminta makan malam di taman milik almarhumah ibunya. "Lalu, di mana dia?" tanya Hans yang masih saja seorang diri, tanpa Aurora. "Nyonya akan segera ke sini, setelah siap," jawab Ratih dalam senyum. "Anda terlihat begitu bahagia, Tuan." "Ini juga berkatmu." Hans mengangkat kepalanya dan menatap kepala pelayan tersebut dalam-dalam. "Apa Raden menyusahkanmu?" Rati

