Aku gemetaran antara takut karena Kak Langit kebut-kebutan dan cemas dengan kondisi Kak Raya di sana. Tapi akhirnya ini tak berlangsung lama. Kebut-kebutan berakhir saat Kak Langit menepikan mobilnya, mengikuti apa yang dilakukan oleh mobil depan. "Aku turun ya, Kak," ujarku saat mobil baru saja berhenti. "Bentar," cegah Kak Langit yang membuatku urung membuka pintu mobil. "Kenapa? Nanti keburu mereka ngapa-ngapain Kak Raya," tanyaku heran. Kak Langit menoleh. Ia berkata, "Tunggu sebentar. Kita harus memastikan kalau mereka nggak menyadari kehadiran kita. Biar mereka nggak mengurungkan niat awal mereka. Jadi kita bisa pergoki mereka." Oke, sekarang aku mengerti. Jadi aku ikuti saja kata-kata Kak Langit. Dia memang sudah lebih berpengalaman dariku dalam hal

