Episode 7. Kampus Hantu

2265 Kata
Raya dan Fandi berada dalam satu mobil, sedangkan Rahmat mengikuti memakai sepeda motor. Mereka menuju rumah untuk menenangkan diri. Sesampainya di rumah, Raya langsung mandi karena tubuhnya sudah sangat menyengat bau sampah. Rahmat pun berniat ikut mandi juga. "Kak, gue ikut mandi ya di sini. Gue juga mau pinjem kaos deh," pinta Rahmat pada Fandi. "Kenapa lu gak balik aja ke kostan? " ujar Fandi. "Tanggung Kak, gue udah di sini. Terus kalian kan janji ama gue, mau ceritain yang tadi. Gue udah mau bantu Raya loh, dengan sepenuh hati, " seru Rahmat memelas. "Iya deh, nanti gue pinjemin lu kaos. Udah sana mandi, lu, bau jurig lu, " pekik Fandi. "Sialan, " ucap Rahmat melengos ke kamar mandi. Fandi hanya tertawa usil pada Rahmat. Setelah selesai beberesih, mereka pun duduk di teras. Tidak lupa ditemani es teh manis dan beberapa toples camilan. Jam makan siang masih lama, mbok Minah hanya menyodorkan beberapa camilan itu. Lumayan untuk mengganjal perut. Kali ini Rahmat membuka suara, memberanikan diri untuk bertanya pada Raya. "Ya, lu tuh sebenarnya kenapa? Gue masih heran, lihat tingkah lu yang aneh dari pagi, " "Intinya, gue tuh setelah bangun dari koma bisa melihat jurig (hantu) , Mat. Gue juga gak begitu ngerti kenapa bisa begini. Mungkin gara-gara tidur panjang, " "Ya Alloh Ya, dari tadi lu tuh ngomong sama jurig? Bukan ngomong sama sampah? " "Sialan lu, dikira gue sinting apa?! " "Habisnya lu tuh gak ada bilang apa-apa. Tapi yang gue heran kenapa lu bisa ke tempat tadi sih? " "Tadi pagi ada hantu yang samperin gue terus, ternyata hantu itu mau minta tolong sama gue buat menemukan jasadnya. Jasad yang ada di tempat tadi itu, " "Ya Alloh gusti, serius itu? " "Ya kali gue bohong, " "Jadi lu tuh beneran disamperin hantu pagi tadi? " samber Fandi. "Iya, begitulah kira-kira. Gue juga gak nyangka bakal menemukan jasadnya, kasian mana ada di bawah tumpukan sampah, " "Lu tanya gak, dia matinya kenapa? " ucap Fandi "Kagak, gak mau gue nanya begitu. Bukan urusan gue, yang penting gue ngelakuin apa yang dia mau aja, " "Bener juga, malah repot nanti urusan sama polisinya. Biar polisi aja yang mengurus begituan mah, " ujar Rahmat. "Tumben lu ngobrolnya nyambung, " ledek Fandi. "Ya kadang-kadang aja Kak, " sahut Rahmat polos. "Hahaha, pantes aja begitu kelakukan lu, " "Berisik mulu kalian, kayak orang pacaran, " "Dih, amit-amit gue masih normal kali, punya pacar juga, perempuan tulen, " pekik Fandi. "Apalagi gue, masih sangat normal meski gak punya pacar, emangnya si itu? " Mereka bertiga tertawa lepas. Terlihat pancaran rona wajah Raya yang sudah terlihat bahagia setelah kejadian hari itu. Dalam hati, Fandi sangat bersyukur bahwa adiknya sudah baik-baik saja meskipun sekarang mempunyai penglihatan ajaib. Satu jam sudah berlalu, di meja makan sudah tertata rapi masakan mbok Minah. Kemudian, mbok Minah pun memanggil mereka untuk makan siang. Setelah selesai makan siang, Raya dan Rahmat kembali pergi. Kali ini benar-benar pergi ke kampus. Banyak yang harus dilakukan untuk administrasi masuk kuliah lagi. Mereka sudah berada di depan kampus, namun Raya merasa gugup untuk kembali ke kampus. Takut menjadi bahan omongan orang lain, karena kejadian yang dulu. Takut menjadi bahan olokan orang lain, Raya belum sanggup untuk menghadapinya. Namun, si Rahmat teman yang paling setia sudah sigap menggandeng lengan Raya, dengan maksud supaya Raya tidak takut atau gugup. "Heh, lu apa-apaan ini? " ucap Raya seraya melepas tangan Rahmat yang sudah melingkar di lengannya. "Biar lu gak takut, gue gandeng, " jawab Rahmat jujur. "Kesempatan banget, ogah, sana jaga jarak, " "Bener, yakin mau sendiri? " "Ya gak gitu juga kali, " "Tetep mau ditemenin gue kan? " "Iya bawel, " "Haha, santai aja, tarik nafas. Teman-teman gak akan ghibahin lu, " "Iye, " Mereka berdua berjalan memasuki kampus setelah memarkirkan motor milik Rahmat. Kampus sangat ramai hari ini, banyak mahasiswa beraktivitas. Ada yang sedang berdiskusi di lorong kelas, ada yang sekadar nongkrong di kantin, ada yang duduk-duduk santai di taman, dan ada juga yang sedang melakukan kelas. Maksudnya sedang berkuliah. "Rayaaaaaaa," panggil Anne dengan bahagia, berjalan mendekati Raya. "Hei, Anne, kangen banget gue, " ucap Raya memeluk Anne. "Gue juga, kangen banget. Lu gimana kabarnya sekarang? Udah baikan? " "Alhamdulillah, gue udah baikan sekarang. Nih gue mau urus administrasi buat lanjut kuliah lagi. Sepertinya gue barengan ama adik kelas ini, " "Asik, lu mulai kuliah lagi? Seneng banget gue dengernya, Gak apa deh lu barengan adik kelas juga, mayan cuci mata lihat brondong, " "Haha, ogah gue harus sama brondong. Nanti brondong meledug lagi, " "Itu kompor, bukan brondong, " "Sama aja, hahaha, " "Bebas deh, kumaha lu aja, (gimana kamu aja), " "Udah kangen-kangennya?" tanya Rahmat. "Belum, " jawab Raya dan Anne serempak. "Buset, bentar lagi tutup loh Tata Usahanya, nanti aja lanjut, " Rahmat mengingatkan. "Iya deh, anterin gue yuk, Anne, " ucap Raya. "Yuk, gue ikut aja, " jawab Anne. Mereka bertiga melanjutkan jalannya menuju ruang tata usaha. Namun belum sampai ke sana, Raya berhenti mendadak di lorong. Dia diam mematung. Anne memandang heran pada Raya, lalu bertanya pada Rahmat. "Mat, dia kenapa? " "Gak tau, tapi sepertinya dia melihat sesuatu, " "Maksud lu apaan? Jangan bikin gue takut, " "Gue aja udah merinding ini, " "Ih nyebelin banget sih lu, " "Emang bener kok, " "Raya, lu kenapa? " tanya Anne menyadarkan. "Eh Anne, sorry. Gak ada apa-apa kok, yuk jalan lagi yuk cepetan yuk, " ajak Raya. Anne dan Rahmat tak bisa berbuat banyak, mereka berdua hanya mengikuti apa yang Raya bilang. Akhirnya mereka sampai di ruang tata usaha, Raya diterima dengan baik oleh petugas tata usaha. "Wah, ada Raya. Sudah sehat? Lama sekali tidak bertemu ya, " tanya ibu Onah, petugas tata usaha. "Alhamdulillah, Bu. Saya sudah sehat. Saya mau melakukan administrasi untuk melanjutkan kuliah saya, " jawab Raya. "Boleh, ini beberapa persyaratannya. Kalau sudah dilengkapi nanti kasih saya lagi, besok juga gak apa-apa, " "Baik Bu, terimakasih banyak, " "Sama-sama, " ucap bu Onah dengan senyum ramah. Raya dan teman-temannya keluar dari ruangan itu, namun lagi-lagi Raya terlihat aneh. Sekarang Raya menutup matanya sambil berjalan dengan cepat. Rahmat dan Anne dengan buru-buru mengikuti Raya yang berjalan sedikit berlari. Setelah melewati lorong, Raya bernafas dengan lega dan sejenak berhenti. "Lu gak apa-apa, Ya? " tanya Anne. "Gak ada, yuk lanjut jalan aja. Kita ke kantin, " ajak Raya. Rahmat dan Anne pun mengikuti. Setelah sampai di kantin, Raya mengedarkan pandangannya untuk mencari bangku yang kosong dan sedikit sepi. Oleh karena itu, Raya memilih bangku di pojokan agar tidak terlalu ramai. Raya pun memberanikan diri untuk memberitahu yang sebenarnya terjadi. "Gue lihat beberapa mahluk di lorong tadi, kaget sih gue juga. Lumayan banyak, " ucap Raya. "Maksud lu, mahluk apaan? " tanya Anne. "Hantu maksudnya, " samber Rahmat. "Serius? Kok bisa? " tanya Anne kembali. "Bisa, sejak gue bangun dari koma itu, gue jadi bisa melihat mahluk. Ya hantu maksud gue, " "Serius? Sumpah lu? Demi apa coba? " ceroscos Anne. "Beneran Anne, gue aja tadi pagi diajak sama dia ke kolong jembatan yang ada mayat perempuan. Nah mayat itu jadi hantu gentayangan, minta si Raya buat menemukan jasadnya, gila kan?? " jelas Rahmat. Bruggg... Tiba-tiba Anne jatuh pingsan, tubuhnya jatuh ke lantai. Sontak membuat Raya dan Rahmat panik. "Anne, bangun dong Anne. Ah lu sih Mat, bacot mulu jadi aja dia pingsan kan, " "Idih kenapa gue jadi yang salah, gue udah menjelaskan yang sebenarnya dong. Dianya aja payah, masa gitu aja pingsan. Gue aja tadi gak pingsan menemukan jasad perempuan itu, " "Berisik kampret, udah sana cari kayu putih minta Ibu Kantin, " "Yaelah, gue lagi, " ucap Rahmat menggerutu, beranjak meninggalkan mereka berdua. Anne tergeletak di lantai dan paha Raya menjadi bantalan untuk kepalanya. "Duh Anne, kenapa lu yang pingsan, padahal gue yang lihat mahluk itu, " gumamnya, Tidak lama Rahmat membawa kayu putih untuk menyadarkan Anne dari pingsan. Berhasil memang, Anne sadar dari pingsannya. "Gimana Anne, lu Okay? Ada yang sakit? " tanya Raya. "Enggak, gue gak apa-apa kok. Cuman gue kok kunang-kunang ya tadi, dengar si Mamat cerita gitu. Beneran itu, Ya? " ucap Anne. "Iya bener sih, tapi kenapa lu yang pingsan, mestinya kan gue, gue yang lihat mahluk itu, " ujar Raya sembari senyum. "Sepertinya gue telat makan, beberapa hari ini gue diet, maaf ya jadi merepotkan, " jawab Anne dengan lemas. "Ya Gusti, drama apa lagi ini??? Gara-gara diet jadi pingsan dan menyusahkan gue? Lu tau gak, tadi gue sampai lari terkencing-kencing nyari minyak kayu putih. Mana gue tadi yang disalahkan, padahal nih bocah kurang gizi doang, apes banget gue bareng sama kalian," protes Rahmat. "Haha, ya maaf dong Mat. Gue kira dia pingsan gara-gara bacot lu tadi, lu sih lebay amat, " pinta Raya. "Sialan emang lu, " jawab Rahmat. "Maaf dong Mat, gue gak tau bakal pingsan loh, sumpah deh, " ucap Anne memelas. "Sue deh, " pekik Rahmat. "Udah bantu Anne bangun dong, biar duduk lagi di kursi. Daripada bacot mulu, " "Iya deh iya, gue tuh kan baik banget jadi kawan kalian, camkan itu baik-baik, " "Lebay, njirrrrr, " protes Anne. Mereka pun tertawa usai mendengar ocehan Rahmat yang memang lebay. "Lu mau pesan apa, Anne? Makan dulu ya, biar gue yang bayar, " tawar Raya. "Gue juga ditraktir ya, " sambung Rahmat. "Loh, bukannya lu tadi makan siang di rumah gue? Belum kenyang emang? " tanya Raya. "Lapar lagi gue, " jawab Rahmat jujur. "Buseet dah perut karung apa ya. Iya, deh gue traktir kalian, bebas deh mau makan apa aja, " ucap Raya dengan enteng. "Yes, gue mau pesan yang banyak, cihuyyyyy, " pekik Rahmat. "Gue mah apa aja deh, samain aja kayak lu aja, Ya, " pinta Anne. "Gue gak makan, masih kenyang. Gue mau ngemil siomay aja sih, " jawab Raya. "Makan kali itu, " protes Rahmat. "Serah gue dong! Anne, gue pesankan nasi soto aja ya, biar perut lu anget, " ucap Raya. "Boleh deh, makasih Ya, " jawab Anne. "Baiklah, kalian makan dulu. Nanti gue bakal ceritain apa yang gue lihat, " ucap Raya beranjak dari kursi. "Makan dulu, biar si bocah kagak pingsan lagi, " ledek Rahmat. "Iya dodol, " jawab Raya melengos. Raya pun memesan makanan ke dalam dan bertemu dengan bu Lilis, ibu kantin langganannya. Raya sedikit berbincang dengan bu Lilis, melepas kangen. Mereka cukup dekat karena dari awal masuk kuliah, Raya hanya makan di kantin bu Lilis saja. Oleh karena itu, setelah bertemu dengan bu Lilis, Raya melepas kangen dengannya. Ibu kantin yang baik hati dan sangat ramah, suka mengizinkan mahasiswa untuk mengutang makan di sana. Alhasil, kantinnya sangat ramai pengunjung. Rahmat yang sedikit rakus memesan sendiri makanannya, karena Raya sudah duluan ke masuk ke dalam. Dengan cuek, Rahmat memesan beberapa camilan, siomay dan lumpia basah. Tidak lupa dengan es teh manisnya. Selang beberapa menit, pesanan mereka pun sudah sampai di meja. Raya sudah kembali dan duduk di bangku. Mereka bertiga langsung melahap makanannya. Seusai makan, Rahmat pun membuka obrolan tentang hantu di lorong. "Ya, tadi apa yang lu lihat? Gimana aja sih bentuk mereka? " tanya Rahmat penasaran. "Jadi pas gue ke lorong itu, yang pertama gue lihat adalah mahluk perempuan. Lagi duduk di kursi kayu yang panjang itu. Dia hanya nunduk aja, terus, pas langkah gue maju lagi, ternyata banyak juga yang sama. Bahkan ada laki-laki nya. Memakai pakaian lusuh, warna putih dan abu-abu. Gak ngerti juga sih, kenapa mereka di sana, " jelas Raya. "Kira-kira ada berapa orang hantunya? " tanya Rahmat kembali. "Ada sembilan atau sebelas gitu, gak terlalu jelas juga. Gue gak hitung jelas keburu takut, tapi di sana suasananya seperti ada kejadian apa gitu. Ramai banget pokoknya, " jelas Raya kembali. "Gue jadi takut lewat sana, " Anne membuka suaranya yang sedari tadi hanya menyimak saja. Tanpa mereka sadari, ternyata bu Lilis mendengar obrolannya. "Neng, tadi lihat hantu di lorong tata usaha? " tanya bu Lilis penasaran. Mereka bertiga langsung diam mematung. Bukan langsung menjawab, Rahmat malah keselek minumannya setelah mendengar ucapan bu Lilis. "Eta gera (loh kok), malah pada diem. Si Mamat lagi malah kabesekan (keselek), " ucap bu Lilis. "Eh maaf, Bu, " ucap Raya tidak enak. "Jadi bener, kalian lihat hantu di sana? " tanya kembali bu Lilis. " Bukan kita Bu, tapi Raya aja, " jelas Anne. "Oh berarti benar ya, mereka masih gentayangan, kasihan mereka, " ucap bu Lilis sedih. "Ibu tau memang? Mereka siapa? Kok bisa di sana? " tanya Raya nyeroscos. "Iya, ibu tau. Mereka korban kebakaran. Kejadiannya sudah lama sekali. Ada mungkin sekitar sepuluh tahun yang lalu, ibu masih ingat jelas kejadian itu, " tutur bu Lilis. "Ibu bisa jelaskan semua kejadiannya? " potong Rahmat. "Jadi saat itu, hari selasa sore ada hujan besar. Ada petir yang sangat kencang, sehingga menyambar beberapa tiang listrik. Kemudian gak tau gimana, ada sengatan listrik atau ada konsleting gitu, tiba-tiba langsung terjadi kebakaran. Ibu tidak di sana saat pertama kejadian itu, ibu ada di kantin ini, " jelas bu Lilis. "Terus kita yang ada di kantin melihat kobaran api dari gedung satu itu, dari lantai duanya. Api sangat cepat menjalar, " tuturnya. " Terus udah gitu gimana bu, siapa aja yang ada di dalam sana? " tanya Anne. "Kita langsung panik menuju ke sana, mencoba memadamkan api secara manual. Waktu itu kita terlambat untuk menghubungi pemadam kebakaran. Api terus menjalar kemana-mana, dari lantai atas hingga ke lantai satu. Ternyata, katanya waktu itu ada beberapa mahasiswa yang sedang melakukan sidang di lantai atas. Mereka terjebak di sana, cuman ibu tidak mengetahui siapa saja yang terjebak, " tutur bu Lilis penuh haru. Menitikkan air mata dengan spontan. Raya dan teman-temannya pun mendengarkan dengan seksama. Suasana sedih menyelimuti, bahkan Anne menangis sesenggukan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN