PO || 10

1585 Kata
"Jangan salahkan aku untuk hal ini Al... Karena kau yang hadir dalam hidupku." perkataan Zach seolah berputar di kepala Aleandra. Gadis itu melamun di dalam taksi memikirkan perkataan dari Zach. Hingga dia tak sadar bahwa dirinya sudah sampai di depan rumah. Dia membayar biaya perjalanannya dan keluar dari taksi lalu masuk ke dalam kamar dan merebahkan dirinya di atas ranjang. "Bocah itu sungguh berbahaya... Bagaimana bisa dalam sehari dia memindahkan obsesinya kepadaku?" Aleandra membalik posisinya dari terlungkup menjadi terlentang. Dia menatap langit-langit kamarnya. "Apa aku harus mengatakannya pada Marvin?" gumam Aleandra, namun dia kembali mengingat perkataan Zach yang menanyakan dirinya dan Marvin memiliki hubungan apa. Aleandra kembali terlungkup dan menenggelamkan kepalanya di bawah bantal dan berteriak. Hingga kakaknya masuk dan melihatnya. "Ada apa Al?" Aleandra mengangkat kepalanya. "Tak ada apa-apa," jawab Aleandra. "Kau berteriak, membuatku terkejut." "Oh... Apa terdengar sampai luar?" tanya Aleandra bingung, karena dia sudah menutup wajahnya dengan bantal baru berteriak. "Apa kau berteriak dalam hati?" tanya Leanor mengejek. Aleandra langsung tersenyum menampilkan deretan giginya. "Apa kau ada masalah? Ceritakan padaku Al...." Leanor duduk di samping ranjang Aleandra. Wanita hamil itu duduk dengan perlahan, perutnya yang sudah sangat besar membuatnya sulit bergerak. "Apa ini sudah bulannya ka?" tanya Aleandra mengelus perut kakaknya. "Jawab pertanyaanku dulu Al! Kau selalu begitu... Aku ini kakakmu, kau tak bisa menyembunyikan masalahmu dariku. Katakan... Apa anak sulung Marvin merepotkanmu?" tanya Aleandra. "Hmm.... Dia memang sangat merepotkan, tapi aku sudah berjanji pada Marvin untuk membantu anaknya itu. Jadi aku harus bersabar, Marvin sudah banyak membantu," ujar Aleandra. Dia berbaring di samping perut kakaknya. "Jangan memaksakan dirimu, katakan pada Marvin apa saja yang terjadi. Agar dia bisa membantumu harus bagaimana menghadapi Zach." "Marvin justru sudah hampir menyerah dengan anaknya itu. Dia bahkan bilang, ibunya tak bisa menasehatinya," ujar Aleandra. "Kalau begitu lakukan dengan caramu, aku yakin setiap hati manusia akan melunak jika kau memperlakukannya dengan baik." "Itu dia masalahnya ka, jika aku berbuat baik terus padanya. Aku takut, dia akan...." "Jatuh cinta padamu?" tebak Leanor dan Aleandra mengangguk. "Bukankah bagus? Kau dengan Zach terlihat cocok." Aleandra kembali membalik tubuhnya menjadi terlungkup, menyembunyikan wajahnya di balik bantal. "Aku tak mau ka... Dia memiliki masalah dengan hatinya. Dia baru saja merelakan wanita pujaannya pergi,” ungkap Aleandra. "Apa dia melakukan itu karenamu?" "Tentu bukan... Dia ingin berubah untuk Marvin. Dia ingin membanggakan ayahnya... Maka dari itu, aku hanya ingin dia fokus dengan itu. Dan jangan melibatkan hatinya denganku." "Jadi kau merasa serba salah?" tanya Leanor dan Aleandra kembali mengangguk. Leanor hanya tersenyum dan berniat beranjak. "Hanya itu?" tanya Aleandra, dia mengharapkan sebuah jawaban dari kakaknya. "Ikuti kata hatimu saja Al... Katakan apa yang ingin kau katakan pada Zach. Jangan menyimpannya hingga membuatnya salah paham," ujar Leanor. Wanita hamil itu sudah mengerti kemana hati adiknya akan berlabuh, namun dia ingin adiknya belajar sesuatu. "Dan.... Siapkan hatimu Al... Karena cinta juga bisa menyakitimu atau orang yang kau cintai," ujar Leanor sebelum keluar dari kamar Aleandra. "Hah... Apa yang kakak bicarakan? Siapa yang membicarakan cinta di sini? Dasar wanita hamil yang labil." Aleandra bergerutu lalu beranjak dari ranjangnya dan bersiap untuk ke kantor. Lalu sesuai janjinya dia kembali ke rumah sakit sambil membawa pekerjaannya. Dia mengerjakan semuanya di depan Zach yang terlihat bosan hanya memperhatikan Aleandra yang bekerja dan mengabaikannya. Gadis itu bahkan meminta tolong perawat untuk membantu Zach makan, karena lelaki manja itu dengan sengaja meminta Aleandra untuk menyuapinya. Aleandra hanya mengatakan Zach seperti bayi besar. "Al...." Rengek Zach untuk kesekian kalinya. "Apa Zach?! Tak bisakah kau tidak menggangguku? Lihatlah... Ini sudah jam berapa? Dan pekerjaanku masih menumpuk, belum tugas kuliahku!" Zach beranjak dari ranjangnya dan bergabung dengan Aleandra yang duduk di sofa. "Kemarikan tugas kuliahmu," ujar Zach terlihat menjadi serius. Lalu Aleandra memperlihatkannya pada Zach. Pria itu mulai memberitahukan cara menyelesaikan tugasnya,  dan selesai dengan cepat. Begitu juga pekerjaan kantornya, Zach mengerjakannya dengan cepat dan benar hanya dalam waktu setengah jam. "Apa masih ada lagi?" Aleandra menggeleng, dia kagum dengan kepintaran Zach. "Kau pandai, tapi kenapa selama ini kau malas mengerjakan pekerjaanmu?" "Karena waktuku tersita oleh Anna, dia meracuni otakku." "Sekarang kau sudah sadar?" "Ya, karenamu...," ujar Zach menatap Aleandra dalam. Aleandra menoleh dan menoyor kepala Zach. "Hentikan tatapanmu itu! Aku tak akan terpesona!" "Kau yakin?" Aleandra memutar bola matanya. "Hei itu tak sopan!" protes Zach. "Itu pengecualian karena kau menyebalkan!" ujar Aleandra. "Kau akan ku hukum jika seperti itu!" "Aku tak takut," ujar Aleandra terlihat acuh dan kembali mengerjakan sisa tugasnya. Zach menarik lengan Aleandra hingga wajahnya ikut mendekat sangat dekat dengannya. "Aku akan menciummu, jika kau memutar bola matamu lagi!" bisik Zach terdengar serius menatap ke dalam manik mata Aleandra. Aleandra menelan salivanya berusaha untuk tetap tenang dan tak terlihat lemah di depan Zach. "Coba saja kalau kau bisa!" ujar Aleandra menantang Zach. Lalu dia beranjak dari sofa. "Mau kemana?" "Ke toilet! Apa kau akan mengikutiku buang air kecil juga?!" Zach terlihat menyeringai. "Jika kau ijinkan...." Zach beranjak dan mencoba mengejar Aleandra yang terburu-buru masuk ke toilet dan menguncinya. "Astaga... Dia sungguh berbahaya! Dasar bocah sialan!" batin Aleandra dari balik pintu toilet. *** Beberapa bulan kemudian... Kegiatan Aleandra dan Zach berjalan seperti biasanya. Yang berbeda hanya, Zach yang semakin terang-terangan menggoda Aleandra. Bahkan saat Marvin datang berkunjung, pria itu jelas-jelas mengatakan sedang berusaha meruntuhkan pertahanan Aleandra. Seperti hari ini, mereka berkunjung ke rumah Aleandra. Padahal ini adalah hari minggu, seharusnya Aleandra bisa bersantai dengan bermain bersama keponakan kecilnya yang sudah lahir. "Maaf merepotkanmu Leanor, harusnya kau bisa beristirahat hari ini," ujar Marvin pada Leanor. "Tak apa, aku senang ada tamu. Seringlah mampir ke sini." Leanor tersenyum menanggapi Marvin. Sementara Aleandra sedang bermain dengan Jason, keponakannya. Zach menemani, atau lebih tepatnya mengganggu kesenangan Aleandra. "Hai Jason... Kenalkan aku Zach, panggil aku uncle Zach, kelak jika besar nanti kau harus setampan aku," ujar Zach membuat Aleandra memutar bola matanya lagi. "Kau sengaja melakukan itu kan?" "Melakukan apa?!" tanya Aleandra berpura-pura tak tau. "Memutar bola matamu agar aku menciummu! Bukan begitu?!" Aleandra kembali melakukannya. "Itu! Kau melakukannya lagi! Aku akan menghukummu nanti!" ujar lagi Zach. "Astaga Zach! Bisakah kau tak membahasnya di sini! Jangan di depan keponakanku?! Kau bisa meracuni otaknya!" tiba-tiba terdengar suara Jason menangis. Aleandra hendak menggendongnya, namun masih menangis juga hingga Zach yang mengambil alih, dan Jason langsung tertawa. "See... Bayi saja bisa memilihku!" ujar Zach. "Kau—" "Ada apa Al?" tanya Leanor dari pintu, dan Marvin berada di belakangnya. "Dad, lihatlah... Apa aku dan Ale sudah cocok memiliki satu yang seperti ini?!" "Aduh! Sakit Al!" pekik Zach mendapat pukulan di kepalanya dari Aleandra. "Siapa yang mau memiliki anak darimu!" "Kau! Jika kau tak mau, aku akan memaksa!" "Marvin... Lihat anakmu," ujar Aleandra merengek. "Sudahlah... Ayo kita makan siang," ujar Marvin. "Kalian saja, Joe akan datang.  Jadi aku tak bisa pergi," ungkap Leanor. "Baiklah... Ayo Al." ajak Marvin lalu Aleandra langsung keluar menyenggol bahu Zach yang sudah memberikan Jason kepada Leanor. Aleandra langsung mengambil duduk di samping Marvin yang berada dikursi kemudi. Pria itu memang tak mengajak Frank ke sana, karena memang dia hanya berkunjung sebentar. "Dad... Aku saja yang menyetir," ujar Zach. Sebelum Marvin membuka pintu mobil. "Tak apa, aku saja." "Oh ayolah... Aku ingin menggoda Aleandra," ujar Zach membuat Marvin terdiam sejenak, dan hendak membalas ucapan Zach. Namun Zach sudah menerobos masuk ke kursi kemudi. "Jadi kita akan makan apa Marvin?" tanya Aleandra yang tak memperhatikan Marvin dan Zach yang tadi belum masuk ke dalam mobil, dia sibuk memainkan ponselnya. "Terserah kau saja Al," jawab Marvin, suaranya terdengar dari belakang. "Zach?! Kenapa kau yang membawa mobil?" tanya Aleandra menoleh ke Zach dan Marvin secara bergantian. "Kau tak suka aku yang di sampingmu?" tanya Zach. "Sangat! Dan kau tau itu Zach!" "Mulai sekarang biasakan, karena aku akan mengantar-jemput kemanapun kau pergi." Zach menjalankan mobilnya. Aleandra menoleh pada Marvin yang hanya mengedikkan bahunya. Lalu terlihat Aleandra yang memasang wajah cemberut, dan Marvin hanya bisa memperhatikannya. Zach yang terus menggoda dan Aleandra yang terus kesal dan marah saat Zach menggodanya. Aleandra memainkan ponselnya mengabaikan celotehan tak jelas dari Zach. Dia mengirim pesan pada Marvin yang terlihat diam melihat ke jalan. 'Katakan padanya untuk diam dan jangan menggangguku terus!' Marvin membuka ponselnya saat suara sebuah pesan masuk. Lalu dia membalaskan pesan itu. 'Jangan merusak kesenangannya Al, tolong... Lakukan yang terbaik untuknya.' Aleandra membaca pesan balasan dari Marvin. Dia menarik napas merasa kesal. "Balasan apa itu?! Sungguh menyebalkan!" batin Aleandra memilih menutup ponsel. Lalu sebuah pesan kembali masuk. 'Jangan marah padaku Al.... Aku memang pria tua yang banyak maunya.' Aleandra kembali hanya menutup pesan dari Marvin setelah dia membacanya. Hingga mereka tiba di sebuah restoran. Aleandra terus diam mengabaikan kedua pria itu. "Yang satu terlalu berobsesi yang satu terlalu bodoh untuk menyadarinya!" batin Aleandra kesal, dia memilih berjalan lebih dulu untuk masuk ke dalam. Zach setengah berlari untuk menyusul Aleandra. Pria itu meraih pinggang Aleandra dan menarik tubuh ramping itu untuk merapat. Tentu saja Aleandra terus menolak dan melepaskan tangan Zach yang akan kembali meraih pinggangnya. Marvin yang memperhatikan tingkah Zach, merasa tak bisa melarangnya. Zach terlihat bahagia dengan Aleandra. Dan dia tak ingin merusak kebahagiaan anak itu, walau anak itu bukanlah anak kandungnya. Zach dan Aleandra sudah duduk bersebelahan, Marvin sengaja duduk di seberang mereka. "Dad, bagaimana? Apa kau merestui jika aku dengan Aleandra?" Aleandra yang terus melepaskan rangkulan tangan Zach, tiba-tiba menatap Marvin serius seolah berkata 'jangan katakan ya, atau aku akan membencimu!'. "Dad...." Zach kembali membawa Marvin ke dunia nyata. "Eherm! Hm... Ya, jika Aleandra mau. Aku tak akan melarangmu," ujar Marvin mengalihkan tatapannya dari Aleandra. "Aku memang bodoh! Semoga aku tak menyesal telah mengatakan hal itu barusan," batin Marvin. **  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN