"Aku tidak percaya ini, " gerutu Rebecca di kantor. Dengan Paris dan Vetri yang berada di depan mejanya, mereka tanpa sadar duduk sambil berpegangan tangan. Sementara Rebecaa menunjuk ke arah proyektor. Jelas ia dalam kondisi tidak senang. "Lihat, kemunculannya mengalihkan semua perhatian. Tentu saja, kau sedang dalam puncak popularitas dan tiba-tiba muncul gadis yang kau peluk. Itu tidak menguntungkan perusahaan yang mengontrakmu. " Paris meremas pelan tangan Vetri agar gadis itu tau jika dia tidak menyalahkannya. Setelah gerutuan yang lumayan intens, Rebecca mulai memperhatikan Vetri. Dia tidak begitu buta hingga tidak memperhatikan mesin pencetak dolar selain Paris. "Paris, kenalkan gadis cantik itu. Dia mengacaukan pergelaran busana yang sekaligus menjadi ajang pameran berlian

