“Baik, silakan, Pak Fernando!” Halim mengangkat tangannya. Fernando memimpin dan berjalan di posisi terdepan, beberapa saat kemudian, dia sampai ke gerbang. "Kalahkan dia!" "Pukul dia dengan keras!" Pada saat ini, Irfan sedang berdiri di depan pintu, dia memegang kantong es di tangannya dan berteriak keras-keras. "Pukul satpam sialan ini!" "Apakah dia layak menyuruhku meminta maaf?!" Satpam, yang dikepung oleh lima orang berbadan besar yang memegang batang besi, tidak henti-hentinya meratap. "Sembarangan!" Terdengar teriakan dingin. "Kakek!" Irfan menoleh dan melihat Halim, matanya berbinar. "Kenapa Kakek di sini?" Setelah itu, Irfan melihat Fernando lagi dan dia langsung terkejut. "Kakek, apakah Kakek mengajak bocah ini juga? Bocah inilah yang meny

