"Baik!" Fernando mengangguk dan turun ke pintu vila. Jok belakang Mercedes-Benz penuh, dan saat bagasi dibuka juga penuh. "Ayah, Ayah tidak berencana psini, kan!" Fernando melihat-lihat, di dalamnya berisi selimut, pakaian, perlengkapan teh dan kebutuhan sehari-hari lainnya. "Omong kosong, jika aku bukan ptuk apa aku kesini? Apa kamu tidak tahu bahwa keinginan terbesar Ayah Mertuamu adalah tinggal di Gunung Idaman?" Tazuddin memutar matanya pada Fernando: "PT. Nando Jaya memberi putriku sebuah vila, tentu saja aku harus kesini, tetapi terlalu mudah untukmu yang tidak berguna ini, membiarkanmu merasakan tinggal di sebuah vila." Fernando menggelengkan kepalanya tanpa daya dan mulai membanyak barang. "Kamu ppelan-pelan, aku akan masuk untuk minum teh, sekalian meliha

