Bab.7 Kantor Cabang Timur Indonesia

1155 Kata
  "Ini saya," kata Fernando.   “Saya sangat senang mendapat telepon dari Tuan Muda, jika hari ini hari terakhir saya, saya bisa mati dengan tenang.” Bapak Yasri berkata penuh haru. “Tampaknya pembatasan dari keluarga terhadap Tuan Muda telah dicabut, kita sudah tidak berkomunikasi selama lebih dari sepuluh tahun!"   “Benar, bagaimana kondisi kesehatan Ayah? Bagaimana keadaan keluarga sekarang?” tanya Fernando.   "Ayah Anda dalam keadaan sehat, beliau sering menyebut nama Anda. Beliau menyesali perbuatannya yang telah membuat Anda menderita selama bertahun-tahun. Bisnis keluarga juga terus berkembang dan meluas," kata Bapak Yasri.   “Baguslah.” Fernando merasa lega, “Ngomong-ngomong, apakah pihak keluarga sudah punya solusi untuk penyakit saya?”   "Tenang saja, Tuan Muda, obatnya sudah selesai dipelajari ketika pembatasan Anda dicabut, obat itu akan dikirim melalui jalur udara ke Indonesia dalam waktu dua hari, dan akan dikirimkan kepada Anda secara langsung oleh Direktur Cabang Timur Indonesia." jawab Bapak Yasri cepat.   "Cabang Timur Indonesia?"   Fernando mengangguk paham, keluarganya telah mendirikan kantor cabang di berbagai daerah di Indonesia, dan Cabang Timur Indonesia adalah kantor milik Kota Lautan Timur.   Selain itu, ada Kantor Cabang Selatan Indonesia, Kantor Cabang Utara Indonesia, Kantor Cabang Timur Laut Indonesia, Kantor Cabang Barat Laut Indonesia, dan Kantor Cabang Barat Daya Indonesia, setiap pimpinan memegang tanggung jawab yang besar, jika disamakan dengan zaman dulu, mereka sama seperti kepala pejabat di setiap daerah perbatasan.   “Saya mengerti. Sampai di sini dulu, Bapak Yasri, saya tutup dulu.” ujar Fernando dengan nada pelan.   "Baik, Tuan Muda, jika ada yang ingin ditanyakan lagi, jangan ragu untuk menghubungi saya," jawab Bapak Yasri.   Setelah menutup telepon, Fernando memikirkan rencananya.   Dia memutuskan untuk mencari pekerjaan.   Sebenarnya dia tidak perlu mencari pekerjaan dengan kekayaannya saat ini, tetapi daripada menganggur, mungkin lebih baik mencari pekerjaan yang mudah.   Fernando mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi pencari kerja, dia tidak membaca persyaratan lamaran dan langsung menyerahkan daftar riwayat hidupnya ke setiap perusahaan yang tertera.   Bahkan jika tidak dapat menemukan pekerjaan, Fernando juga tidak peduli.   Seperti yang diperkirakan Fernando, hanya beberapa perusahaan yang meresponnya dalam satu hari, dan setelah mengetahui tentang jenjang pendidikan dan pengalaman Fernando, mereka semua menolaknya.   Sore harinya, tiba-tiba telepon Fernando berdering lagi.   "Sayang, gawat, Ayah dirawat di rumah sakit! Dia masuk ICU!"   Begitu panggilan terhubung, suara cemas Sarah terdengar.   “Kenapa tiba-tiba Ayah dirawat di rumah sakit? Bukankah Ayah dalam keadaan sehat?” Fernando bertanya.   “Aku tidak tahu alasan pastinya, sekarang aku sedang dalam perjalanan ke rumah sakit umum, cepat susul aku!” Sarah terdengar sedang menangis.   "Baik!"   Setelah menutup telepon, Fernando naik taksi ke Rumah Sakit Umum Kota Lautan Timur.   Meskipun Fernando tidak terlalu menyayangi Tazuddin, tetapi dia juga keluarga, dan Fernando merasa khawatir ketika Tazuddin dirawat di rumah sakit.   Karena waktu itu adalah jam pulang kantor, lalu lintas begitu macet, butuh satu jam penuh bagi Fernando untuk sampai ke rumah sakit umum.   Setelah bertanya pada perawat, ternyata Tazuddin berada di ICU lantai enam, Fernando pun bergegas masuk lift, tetapi lift itu penuh sesak.   Rumah Sakit Umum Kota Lautan Timur adalah rumah sakit terbesar dengan tingkat tertinggi di Kota Lautan Timur, dan pasiennya banyak sekali.   Fernando tidak ingin membuang waktunya, jadi dia langsung naik ke lantai enam melewati tangga.   "Huh…...akhirnya sampai."   Napasnya terengah-engah, punggungnya berkeringat, kakinya seberat batang besi, dan terasa pegal sekali sesampainya di lantai enam.   "Sepertinya aku harus lebih banyak berolahraga."   Fernando masuk dan melihat Tazuddin terbaring di kasur rumah sakit dengan selang oksigen di hidungnya, wajahnya pucat, napasnya lesu, dan matanya tertutup rapat.   Sarah, Yana dan Hadi, semuanya telah tiba di sana.   Ada juga beberapa kerabat dari Keluarga Yasmudi, ada sekitar lima sampai enam paman dan bibi yang sedang mengobrol di sana.   Semua orang menatap Fernando dengan pandangan meremehkan.   "Haha, menantu payah ini datang juga!"   "Sayang......"   Mata Sarah memerah, air matanya mengalir, dia berlari untuk memeluk Fernando. Tubuh Sarah gemetar dan suaranya tercekat.   "Dokter mengatakan bahwa kondisi Ayah sangat serius, Ayah mengalami serangan jantung......hiks......"   “Tidak apa-apa.” Fernando menepuk punggung Sarah dengan lembut sambil berusaha menghiburnya.   "Hah, menantu laki-laki yang satu ini masih sadar diri untuk datang menjenguk!"   Yana memandang Fernando dan mencibir. "Kamu dari awal bukan bagian dari Keluarga Yasmudi, sudah tahu Ayah sakit tapi masih saja datang terlambat, kamu sama sekali tidak peduli pada kondisi Ayah!"   "Kakak, jalanan begitu macet di malam hari, aku bahkan tidak naik lift tadi…..."   Fernando berusaha menjelaskan, tetapi Yana menyelanya secara langsung.   "Aku tidak peduli dengan alasanmu, aku hanya tahu kamu terlambat selama dua jam! Huh, datang begitu telat, kamu pasti menanti ayahku meninggal dulu supaya beliau tidak perlu menyalahkanmu, ‘kan?”   “Fernando, kamu tahu bahwa mertuamu sakit, tapi kamu masih saja terlambat!” Kerabat Fernando lainnya mulai mengomel.   "Bagaimanapun, kamu tidak memperlakukan Keluarga Yasmudi sebagai keluargamu sendiri."   "Tanpa Keluarga Yasmudi, kamu mungkin mati kelaparan di jalan!"   "Dasar serigala berbulu domba!"   Semua orang terus mengomel.   “Kak, bagaimana kamu bisa mengatakan itu pada Fernando! Apakah kamu tidak melihat bahwa seluruh tubuhnya berkeringat?” balas Sarah, dia merasa agak marah.   “Sudah, sudah, jangan memarahi Fernando lagi.” Hadi tersenyum.   Hadi mengenakan setelan jas, tas kulit menggantung di pinggangnya, punggungnya terlihat lebar dan berwibawa, persis seperti seorang bos.   "Fernando tidak punya mobil, jadi dia hanya bisa naik taksi, jalannya macet jadi pasti terlambat."   Hadi melirik remeh Fernando, tatapannya terlihat sangat menghina, dia pun berkata lagi.   "Karena Fernando ada di sini, dan kebetulan Ayah kita sedang tidak sadarkan diri, biarkan aku menjadi kepala keluarga untuk saat ini!"   "Izinkan aku berbicara sebentar, biaya ICU Ayah saat ini adalah enam belas juta sehari, tetapi ini hanya kamar standar. Aku dengar dari temanku bahwa rumah sakit umum memiliki kamar kelas terbaik, dan hanya pejabat kota yang boleh menempatinya, biaya sehari adalah empat puluh juta rupiah, itu tidak banyak.”   Ketika dia mengatakan ini, Hadi merasa sangat bangga, seolah-olah empat puluh juta rupiah sehari hanyalah jumlah kecil baginya.   "Aku ingin memindahkan Ayah ke kamar kelas terbaik, Ayah telah bekerja keras sepanjang hidup demi merawat anak-anaknya, dan sekarang beliau sakit, kita tentu ingin memberikan perawatan terbaik bagi beliau, bukan?"   "Dokter sudah memberitahuku, Ayah kita diperkirakan akan dirawat di rumah sakit selama setengah bulan, empat puluh juta sehari, berarti totalnya adalah enam ratus juta rupiah.”   Mendengar ini, Sarah mengerutkan kening, dia sepertinya dapat menebak apa yang akan dikatakan Hadi selanjutnya.   Fernando bisa menebaknya juga, tetapi dia hanya diam dan tidak peduli.   "Rencananya, aku ingin memindahkan Ayah ke kamar kelas terbaik yang harganya enam ratus juta rupiah, menurutku itu tidak mahal, tetapi Fernando juga menantu di keluarga ini, jadi aku harap kita berdua bisa melakukan yang terbaik!" Hadi tersenyum.   "Aku rasa Fernando tidak punya banyak tabungan, jadi aku akan membayar empat ratus juta dulu, dan sisanya dua ratus juta rupiah akan dibayar Fernando, apakah kamu sanggup Fernando?”   "Dua ratus juta rupiah!"   Mata Sarah terbelalak, tabungan di banknya hanya delapan puluh juta, dari mana mereka bisa mendapatkan dua ratus juta rupiah?   "Kenapa, Fernando? Dasar kamu payah, bahkan dua ratus juta pun tidak sanggup kamu keluarkan! Kami bahkan sudah rela mengeluarkan biaya yang lebih besar!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN