Bab.10 Pengangguran

1195 Kata
  "Betul, Fernando, kamu harus belajar banyak dari Kakak iparmu!"   "Meskipun kamu tidak punya uang dan pekerjaan, tapi setidaknya kamu harus tahu bagaimana cara menempatkan diri dalam masyarakat! Kakak iparmu sudah berjasa besar dalam masalah ini, kamu jangan berdiri di sana dan berpura - pura bodoh, setidaknya kamu harus berterima kasih!”   Semua orang mengkritik Fernando yang sedang terdiam.   Fernando melirik kerabatnya, tetapi dia masih tidak mengatakan sepatah kata pun.   "Huh, dasar tidak tahu diri!"   "Anak ini masih terlalu muda, kurasa jiwa pemberontak dalam hatinya masih begitu kuat!"   Tepat pada saat itu, ponsel Fernando berdering.   Fernando meninggalkan kamar dan menerima telepon.   “Tuan Muda, Cabang Timur Indonesia mengatakan bahwa semua sudah selesai diurus, Pak Casril telah menelepon Pak Mahmud, pegawai Biro Kesehatan Kota Lautan Timur, dan memintanya untuk mengurus hal ini,” kata Bapak Yasri.   “Apakah di rumah sakit sana, Tazuddin telah pindah kamar?"   "Sudah dipindahkan, maaf sudah merepotkan Bapak Yasri." kata Fernando dengan tenang.   “Baguslah kalau begitu,” jawab Bapak Yasri.   Setelah menutup telepon, Fernando kembali ke kamar.   "Ayah sudah sadar!"   Sarah tiba - tiba berteriak.   Semua orang melihat ke arah ranjang, mereka mendapati Tazuddin perlahan membuka matanya dan sadar kembali, tetapi dia masih terlihat sedikit lemah.   "Ayah, bagaimana perasaan Ayah?"   Mereka semua mengelilingi Tazuddin dengan cemas.   “Lumayan, hanya saja dadaku terasa sedikit sesak.” Tazuddin terbatuk ringan. “Di rumah tadi, aku sedang merokok menggunakan pipa giok yang diberikan oleh Hadi. Entah kenapa, dadaku tiba - tiba terasa sakit dan kemudian tidak sadarkan diri."   "Ayah, pada dasarnya kondisi jantung Ayah tidak baik, kurangilah merokok!" kata Sarah.   “Untunglah sekarang sudah sadar, baguslah kalau sudah sadar!” semua orang menghela nafas lega.   "Semua berkat Hadi, Ayah segera sadar begitu dipindahkan ke kamar VIP!" kata Yana.   "Betul! Kondisinya sangat berbeda, kamar sebelumnya sangat berisik!"   "Udaranya pun tidak begitu bagus!"   Semua kerabat setuju.   “Kamar VIP? Apa yang terjadi?” Tazuddin bertanya penasaran.   Yana segera menceritakan apa yang sudah terjadi.   Setelah mendengarkan, Tazuddin terdiam beberapa saat, lalu tiba-tiba menatap Fernando sambil mencibir.   "Haha, aku tidak menyangka orang payah sepertimu ternyata masih berguna, demi aku kamu bersedia mengeluarkan uang 200 juta."   "Meskipun uang itu pasti milik Sarah, tapi aku menerima niat baikmu, dan aku akan membayarmu kembali di masa depan!"   Setelahnya, Tazuddin menatap Hadi, dia tersenyum dengan lembut.   "Hadi, semua ini berkat kamu! Kalau tidak, aku mungkin tidak akan sadar lagi!"   “Ayah, kita semua adalah keluarga, ini adalah kewajibanku!” Hadi menjawab dengan senyum.   Tazuddin mengangguk, "Kalian semua keluar saja, aku merasa lelah, ingin berbaring sebentar."   "Baiklah, Ayah!"   Semua orang keluar dari kamar, agar tidak mengganggu Tazuddin.   “Pak Hadi, silakan Anda lihat, ini adalah penyebab penyakit pasien.” seorang dokter datang menghampiri sambil tersenyum, dia menyerahkan laporan itu kepada Hadi.   Kepala Rumah Sakit baru saja melaporkan bahwa Hadi memiliki hubungan dengan pegawai Biro Kesehatan, yaitu Mahmud Wachidi, itu sebabnya Hadi harus diperlakukan dengan sebaik - baiknya.   Hadi menerima laporan tersebut dan melihat penyebab penyakit Tazuddin, matanya pun terbelalak.   "Pasien diduga telah menghirup zat beracun, ditambah lagi dengan kondisi jantungnya yang tidak baik, sehingga menyebabkan penyakit jantung beliau kambuh. Pada saat yang sama, kami menemukan residu tembakau di mulut pasien."   "Jadi, kemungkinan besar pasien mengisap rokok beracun yang menyebabkan serangan jantung."   "Rokok yang beracun......"   Hadi dalam sekejap langsung menyadari, Tazuddin merokok dengan pipa giok pemberiannya, tembakau itu menjadi berjamur, menyebabkan Tazuddin tiba - tiba terkena serangan jantung.   “Tidak bisa, hanya aku saja yang boleh mengetahui masalah ini, apabila tersebar maka akan sangat memalukan.” Hadi dengan tenang memasukkan laporan itu ke dalam tasnya sambil tersenyum.   "Maaf sudah merepotkan Dokter."   “Tidak masalah, sudah seharusnya!” dokter itu balas tersenyum.   “Karena Ayah juga sudah bangun, kalian pulanglah.” Hadi berkata kepada semua orang. “Aku hari ini tidak sibuk, semua pekerjaan sudah diserahkan kepada bawahan, malam ini aku akan menginap di sini untuk menjaga Ayah!"   "Hadi benar - benar berbakti!"   “Dengan meluangkan waktu sehari untuk menjaga Ayah mertua, Hadi pasti sudah kehilangan beberapa persen dari gajinya!"   "Ah, kasih sayang keluarga bagaimana bisa dibandingkan dengan gaji? Sekali lihat pun sudah tahu Hadi adalah laki - laki yang berbakti dan menjaga keluarga!"   "Bila membandingkan Fernando yang tidak berguna dengan Hadi, perbedaannya sangatlah jauh! Sampai sekarang, Fernando bahkan tidak mengucapkan sepatah kata pun!"   Semua orang mengagumi Hadi.   Karena Hadi ingin merawat Tazuddin, Fernando pun tidak mengatakan apa - apa, dia berdampingan dengan Sarah meninggalkan rumah sakit, bersiap untuk pulang naik taksi.   Fernando melihat jam, sekarang sudah lewat jam tujuh malam, Kota Lautan Timur diselimuti oleh lampu warna - warni, lalu lintasnya ramai, penuh kebisingan dan terlihat begitu makmur.   "Hei, Sarah, apakah itu kamu?"   Begitu tiba di pintu masuk rumah sakit, tiba-tiba terdengar suara orang yang memanggil, nadanya terdengar ragu-ragu.   Fernando menoleh dan melihat Audi A4L hitam berhenti, seorang pria terlihat menjulurkan kepalanya dari jendela mobil.   Lelaki itu memiliki rambut dengan belahan samping, kulitnya bersih cerah, sangat tampan memesona, dan memakai setelan Versace yang sangat berkelas. Sosoknya yang terbalut jas tersebut terlihat sangat berotot, jelas sekali bahwa dia sering berolahraga dan menjaga tubuhnya agar tetap prima.   Pria seperti ini bisa memesona para wanita dari segala usia.   “Edie?"   Sarah memandang pria di depannya, ekspresinya terlihat seperti mengingat-ingat, dia kemudian memanggil nama Edie.   "Ini aku, Edie! Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini, Sarah!"   Edie yang terkejut segera menjawab, pandangan matanya dia arahkan ke Fernando yang berdiri di samping Sarah, Edie pun mengerutkan kening tanpa sadar.   Pria di sebelah Sarah terlihat agak kurus, meskipun dia memiliki karakteristik yang spesial, tetapi baju yang dikenakannya, apabila dijumlahkan harganya sepertinya tidak lebih dari empat ratus ribu rupiah.   Mengapa orang semacam itu bisa berjalan dengan Sarah?   "Sarah, dia adalah......"   Edie menatap Fernando tanpa ekspresi, di matanya terpancar jelas ekspresi permusuhan.   “Ini Fernando, suamiku.” Sarah menggandeng lengan Fernando dengan mesra.   "Kamu…...sudah menikah?!"   Edie terkejut dan mematung.   "Betul." Sarah langsung menjawab.   "Haha, selamat, ya."   Edie kembali tersadar, setelah tertawa, dia berkata. "Tidak kusangka, baru saja aku pergi ke luar negeri satu tahun, ketika aku kembali kamu tiba - tiba sudah menikah, padahal aku berencana untuk terus mengejar kamu…...di mana Pak Fernando bekerja?”   "Aku seorang pengangguran." jawab Fernando dengan jujur.   “Pengangguran?” Edie tercengang dan kemudian terkekeh. “Pak Fernando benar-benar pria bernyali besar, seorang pria yang sudah berkeluarga bisa - bisanya menjadi pengangguran dan hidup bergantung pada istri.”   Muncul ekspresi menghina di mata Edie.   “Edie, jaga kata - katamu.” Sarah segera membalas. “Bahkan jika Fernando tidak memiliki pekerjaan, aku akan menafkahinya! Ini adalah urusan kami, kamu tidak perlu berkomentar!"   “Ya, ya, ya, Sarah, aku memang salah, tidak seharusnya aku berkata seperti itu.” Edie langsung tersenyum, tetapi penghinaan di matanya terlihat semakin jelas.   "Sarah, satu tahun aku tinggal di luar negeri demi mempelajari administrasi bisnis. Sekarang aku telah kembali ke Indonesia dan sedang bersiap untuk membuka sebuah perusahaan, tujuanku datang ke rumah sakit umum ini untuk mendiskusikan bisnis dengan penanggung jawab rumah sakit…..."   “Aku tidak tertarik dengan alasan mengapa kamu datang ke sini.” Sarah berkata tanpa ekspresi.   "Baik!"   Wajah Edie dipenuhi rasa kecewa, dia pun berkata. "Apakah kalian akan pulang? Kebetulan kalau begitu, aku antar pulang saja!"   Edie melihat kursi penumpang di sebelahnya, lalu melihat ke arah Sarah, dan mengabaikan Fernando.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN