"Hah?"
Fernando terkejut, tadi Haryati sangat ramah padanya, kenapa setelah kembali, dia seperti berubah menjadi orang yang berbeda?
"Kenapa tidak cepat berdiri? Kamu kira kamu pantas duduk di tempat itu?!"
Haryati menegur dengan tegas. "Satu lagi, buang gelas yang sudah kamu pakai itu ke tempat sampah! Kamu telah menggunakannya, orang lain tidak boleh minum memakai gelas itu, sebab gelas itu sudah kotor!"
Fernando masih kebingungan, namun dia tetap berdiri dan membuang gelas tersebut ke tempat sampah.
“Sudahkah kamu isi formulirnya?” Haryati duduk di hadapan Fernando, nadanya terdengar tidak sabar.
Haryati sangat kesal sekarang.
Fernando adalah orang yang dipilih langsung oleh Pak Edie, awalnya Haryati mengira bahwa Fernando memiliki hubungan baik dengan Pak Edie, setidaknya memiliki hubungan pertemanan atau kerabat dekat.
Siapa sangka, barusan Haryati pergi ke kantor Pak Edie untuk bertanya, ternyata Fernando adalah saingan cinta Pak Edie!
Dia merasa dirugikan karena tadi berusaha menyenangkan Fernando, bahkan berpikir untuk tidur dengannya!
Melihat Fernando sekarang, pakaiannya tidak melebihi 400 ribu rupiah, itu tandanya dia adalah seorang yang miskin, miskin semiskin - miskinnya!
"Sudah selesai."
Fernando menyerahkan formulir yang baru saja diisi ke Haryati.
"Baik, besok kamu sudah bisa mulai bekerja di Departemen Pemasaran. Gaji pokoknya adalah 3.600.000, jika kehadiranmu penuh dapat 600.000, tunjangan makan 300.000, ditambah komisi." Haryati melemparkan formulir Fernando ke atas meja tanpa melihatnya sedikit pun.
"Baik."
Meskipun Fernando sedikit tidak suka dengan sikap Haryati, tapi setidaknya dia berhasil mendapatkan pekerjaan sekarang, suasana hati Fernando tidak begitu buruk saat ini.
Ketika Sarah pulang dan mendengar berita ini, dia pasti akan sangat senang.
“Baiklah, kalau begitu kamu bisa pergi, besok jangan datang terlambat.” sikap Haryati sangatlah dingin.
"Baik."
Fernando pun keluar dari kantor.
Lima menit kemudian, pintu kantor dibuka dan seorang pria masuk.
Pria itu memakai jas, terlihat tampan, bertubuh tinggi, dan berotot, dia adalah Edie!
"Pak Edie…..."
Melihat Edie, mata Haryati berbinar, wanita itu menyapa Edie dengan suara lembut.
"Apa Anda sengaja menggoda saya dengan tidak memberi tahu saya bahwa Fernando adalah saingan cinta Anda?"
“Haha, terlalu memuji rasanya jika menyebut dia sebagai saingan cinta Anda.” Haryati ikut berjalan dan berkata: “Sekali lihat pun saya sudah tahu kalau Fernando adalah orang miskin, bagaimana mungkin dia pantas untuk menjadi saingan cinta Anda, Pak Edie!"
"Betul, dia memang tidak pantas."
Edie mengangguk - ngangguk. "Tapi b*jingan ini sangat beruntung bisa mempunyai istri seperti Sarah!"
Memikirkan hal ini membuat niat jahat Edie meluap ke permukaan.
"Apa yang Fernando katakan?"
“Besok dia akan datang bekerja,” jawab Haryati.
"Lalu perintah yang aku sampaikan sebelumnya ..."
“Pak Edie tenang saja, Fernando adalah saingan cinta Anda, masih berani bekerja di sini, itu sama saja dengan melemparkan dirinya masuk ke dalam perangkap. Fernando tidak akan memiliki kehidupan yang baik dengan bekerja di sini!” kata Haryati sambil menyunggingkan senyum seorang penjilat.
“Nah, itu bagus.” Edie mengangguk.
...
Setelah meninggalkan perusahaan, Fernando hendak naik taksi pulang dan menunggu giliran kerjanya besok dengan perasaan tenang.
Tidak lama kemudian, ponselnya berdering, itu adalah telepon dari Bapak Yasri.
"Halo, Bapak Yasri."
“Tuan Muda, apakah Anda sekarang ada waktu?” tanya Bapak Yasri.
“Apa ada masalah?” tanya Fernando.
“Begini, Pak Casril dari Cabang Timur Indonesia ingin mengundang Anda untuk makan dan menjamu Anda.” Bapak Yasri menjawab.
"Pak Casril mengatakan kepada saya bahwa keluarga besar telah mencabut larangan terhadap Tuan Muda. Jadi, sebagai penanggung jawab Cabang Timur Indonesia, tidak sopan rasanya jika tidak menjamu Anda. Tentu saja, jika Tuan Muda tidak punya waktu tidak apa - apa, biarkan Pak Casril yang menunggu, kita bicarakan lagi ketika Anda punya waktu."
"Sekarang aku punya waktu."
Fernando berpikir sejenak dan berkata, sekarang dia terbebas dari larangan, sudah saatnya untuk bertemu dengan anggota keluarganya.
"Baik, kalau begitu saya akan bicara dengan Pak Casril. Tempatnya berada di Aula Naga Restoran Danau Zamrud. Pak Casril telah mempersiapkan jamuan, Tuan Muda bisa pergi ke sana sekarang."
"Baiklah."
Setelah menutup telepon, Fernando menghentikan taksi dan pergi ke Restoran Danau Zamrud.
"Nak, masa depanmu begitu menjanjikan!"
Mendengar bahwa Fernando akan pergi ke Restoran Danau Zamrud, sopir taksi berseru. "Usia masih muda tapi kamu sudah bisa bekerja di Restoran Danau Zamrud, aku iri padamu!"
Restoran Danau Zamrud adalah salah satu restoran terbaik di Kota Lautan Timur yang hanya didatangi oleh orang - orang kelas atas, sekali makan paling sedikit harus menghabiskan 100 sampai 120 juta rupiah.
Karena Fernando masih sangat muda, ditambah dengan pakaian yang dikenakannya, dia sama sekali tidak terlihat seperti orang kaya, maka wajar bila si sopir berpikir bahwa Fernando bekerja di Restoran Danau Zamrud.
“Kudengar pramusaji di Restoran Danau Zamrud mendapatkan gaji enam belas sampai delapan belas juta rupiah dalam sebulan, jauh lebih besar daripada sopir taksi sepertiku!” sopir taksi tersebut memandang Fernando dan berkata sungguh-sungguh.
"Nak, sebuah berkah bagimu karena bisa bekerja di Restoran Danau Zamrud. Kamu harus menghargai kesempatan ini."
Fernando hanya tersenyum dan tidak banyak bicara.
Setengah jam kemudian, mobil berhenti di depan pintu Restoran Danau Zamrud.
Fernando turun dari mobil dan langsung masuk.
Arsitektur Restoran Danau Zamrud memiliki gaya klasik, di dalamnya ada aliran sungai kecil dan taman bebatuan, semuanya benar-benar lengkap, bahkan terkadang terdengar kicauan burung.
Restoran ini terletak di tepi Danau Gunung Zamrud di Kota Lautan Timur, di sini udaranya segar dan pemandangannya indah. Para tamu dapat menyantap makanan sambil menikmati pemandangan indah Danau Gunung Zamrud. Mereka yang masuk dan keluar dari sini juga merupakan masyarakat golongan atas.
"Aula Naga…..."
Fernando mengitari restoran dan merasa sedikit pusing. Restoran Danau Zamrud ini lumayan luas. Dia telah mencari untuk waktu yang lama tetapi masih tidak bisa menemukan Aula Naga, akhirnya dia memutuskan untuk bertanya pada seseorang.
Tepat pada saat itu, seorang gadis berjalan ke arahnya.
Gadis itu sangat cantik dan tinggi, dia mengenakan kaos ketat berwarna putih, memperlihatkan pusar kecilnya yang indah, auranya penuh dengan gairah gadis muda. Dia mengenakan celana jins pendek, pahanya sangat mulus dan putih, terlihat sangat energik.
Dia memiliki rambut hitam bergelombang yang tergerai di belakang punggung, wajahnya halus dan cerah, terkadang terlihat kejahilan di dalam matanya. Apabila menebak umurnya, sepertinya dia baru berusia sekitar dua puluh tahun, seperti gadis muda pada umumnya.
“Halo, permisi saya ingin bertanya, di mana Aula Naga?” Fernando melangkah maju dan bertanya sambil tersenyum.
Fernando harus mengakui bahwa gadis muda ini memiliki aura yang memesona.
Dia ceria, manis, dan terlihat menyenangkan…...
"Kamu hendak pergi ke Aula Naga?"
Mata gadis itu membelalak dan dia sedikit terkejut. "Kenapa kamu pergi ke Aula Naga? Mungkinkah kamu adalah pelayan di Restoran Danau Zamrud? Tidak, apabila pelayan seharusnya kamu tahu Aula Naga ada di mana!"
Mata besar gadis itu berkedip, dia sangat kebingungan.
“Aku akan pergi ke Aula Naga untuk makan, apakah ada masalah?” Fernando balik bertanya.
"Makan?"
Gadis itu terkejut, dia tertawa sambil memegangi perutnya. "Jangan mempermainkanku. Kamu? Pergi ke Aula Nagal untuk makan? Aku kenal semua orang yang makan ke Aula Naga hari ini, tidak ada yang seperti kamu! Mau menipu tapi sama sekali tidak ahli!"
"Selain itu, bukannya aku meremehkanmu. Lihat pakaianmu, satu hidangan di Aula Naga pasti seharga gajimu selama beberapa bulan. Apa kamu sanggup makan di Aula Naga?"
“Astaga.” Fernando menggelengkan kepala tanpa daya, mengapa orang - orang zaman sekarang suka menilai orang dari pakaiannya?
"Sudahlah, jangan menghalangiku, aku ingin makan."
Gadis itu berkata tergesa-gesa, tapi karena berjalan terlalu cepat, dan ditambah dengan jalan di Restoran Danau Zamrud yang berbatu, gadis itu pun jatuh karena tersandung.
"Aduh!"
Dia berteriak dan jatuh ke pelukan Fernando.