Baju Bayi Berdarah

1386 Kata
Gedung Pradipta Tower berdiri angkuh membelah langit Jakarta, sebuah monumen kaca dan baja setinggi lima puluh lantai yang menjadi simbol kekuasaan mutlak Bastian Elvano. Di lantai teratas, di dalam ruangan yang suhunya selalu diatur di angka delapan belas derajat celcius, sang Raja Bisnis sedang duduk di singgasananya. Bastian tidak sedang bekerja. Ia sedang mengamati kota di bawah kakinya dengan tatapan bosan, memutar gelas crystal tumbler berisi whisky berusia dua puluh tahun di tangannya. Cairan amber itu berputar pelan, memantulkan cahaya lampu yang redup. Bagi dunia luar, Bastian adalah kisah sukses yang inspiratif. Anak panti asuhan yang merangkak naik dari selokan, melewati jeruji penjara, dan kini menggenggam ekonomi nasional. Namun bagi Bastian, masa lalu adalah bangkai. Dan bangkai seharusnya dikubur dalam-dalam, bukan dipajang di etalase. Tok. Tok. Ketukan presisi di pintu mahoni ganda memecah lamunannya. "Masuk," perintah Bastian tanpa menoleh. Pintu terbuka. Rian, asisten pribadi sekaligus tangan kanan yang mengurus segala urusan 'kotor' Bastian, melangkah masuk. Wajah pria itu datar, namun ada ketegangan samar di sudut matanya yang terlatih. Di tangannya, ia membawa sebuah kotak persegi berukuran sedang yang dibungkus kain beludru hitam pekat. Tidak ada pita. Tidak ada kartu ucapan di luar. Hanya aura misterius yang menguar dari benda itu. "Maaf mengganggu waktu istirahat Anda, Tuan," suara Rian bergema di ruangan luas itu. "Ada paket prioritas. Kurir khusus mengantarnya ke lobi lima menit yang lalu. Dia bersikeras ini harus sampai ke tangan Anda langsung tanpa melalui pemindai sinar-X keamanan." Bastian memutar kursi kulitnya perlahan, akhirnya menatap asistennya. Alis tebalnya terangkat satu. "Dan kau membiarkannya lolos?" tanya Bastian, nadanya rendah namun berbahaya. "Protokol keamanan sudah memeriksa luarnya. Tidak ada bahan peledak, tidak ada racun kimia, tidak ada perangkat penyadap elektronik," lapor Rian cepat. "Tapi kurir itu mengatakan kode yang menarik. Dia bilang, 'Ini adalah kepingan yang tertinggal di kardus mie instan'." Gerakan tangan Bastian yang hendak meletakkan gelas terhenti di udara. Hening. Udara di ruangan itu seolah tersedot keluar, meninggalkan kehampaan yang mencekik. Kardus mie instan. Itu adalah detail spesifik tentang bagaimana Bastian ditemukan tiga puluh tiga tahun lalu di depan panti asuhan. Detail yang hanya diketahui oleh segelintir orang: Ibu Panti yang sudah meninggal, Mr. X, dan Bastian sendiri. Bastian meletakkan gelasnya dengan bunyi klak yang keras di atas meja marmer. "Buka," perintahnya. Rian meletakkan kotak itu di meja kerja Bastian. Dengan menggunakan pisau lipat kecil, ia mengiris segel perekat di sisi kotak. Tutup beludru itu terangkat. Bau apek menyeruak keluar. Aroma debu, usia tua, dan... sesuatu yang metalik. Seperti karat besi. Atau darah kering. Bastian condong ke depan, menatap isi kotak itu. Di atas bantalan sutra merah yang mewah, tergeletak sepotong kain kumal. Itu adalah baju bayi. Warnanya yang dulu mungkin putih kini telah berubah menjadi kekuningan, termakan usia puluhan tahun. Kain itu kasar, murahan, jenis kain yang biasa dibeli di pasar tradisional. Namun, yang membuat mata Bastian menyipit bukanlah kualitas kainnya. Melainkan noda-noda coklat tua yang mengeras di bagian d**a dan punggung baju mungil itu. Bercak darah. Darah yang sudah mengering selama tiga dekade. Bastian tidak menyentuhnya. Ia hanya menatapnya dengan tatapan jijik, seolah sedang melihat bangkai tikus di piring makan malamnya. Memorinya tidak bisa mengingat baju ini, tentu saja, ia masih bayi merah saat itu. Tapi narasi hidupnya selalu dimulai dari sana ‘Bayi berdarah di dalam kardus’ Di samping baju itu, terselip sebuah kartu tebal berwarna krem dengan tulisan tangan tegak bersambung yang sangat indah, ditulis menggunakan tinta emas. Bastian mengambil kartu itu dengan dua jari, membacanya. "Kau tidak lahir dari sampah. Darah di baju ini adalah bukti bahwa kau diinginkan, namun dirampas." Bastian membaca kalimat itu sekali. Dua kali. Lalu, sebuah tawa lolos dari bibirnya. Tawa yang kering, pendek, dan tanpa humor. "Orang gila," gumam Bastian. Ia melempar kartu itu kembali ke dalam kotak dengan kasar. "Orang gila mana yang punya waktu luang untuk menggali sampah masa laluku dan mengirimnya kemari?" Bastian tidak terlihat terguncang. Tidak ada setitik pun rasa takut di wajahnya. Yang ada hanyalah rasa tersinggung karena privasinya diusik oleh lelucon murahan. Baginya, ini hanyalah taktik psikologis dari pesaing bisnis yang ingin menggoyahkan mentalnya. "Apa perlu saya lacak kurirnya, Tuan?" tanya Rian. "Atau kita tingkatkan keamanan Nyonya di Penthouse? Bisa jadi ini ancaman terselubung" "Tidak perlu panik. Itu yang mereka inginkan," Bastian mendengus. Ia membuka laci mejanya, mengambil sebuah pemantik api S.T. Dupont emas kesayangannya. Ia berdiri, mengambil baju bayi bau apek itu dengan ujung jari, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi di atas asbak kristal besar di mejanya. Cklik. Api biru menyala. Tanpa keraguan sedikitpun, Bastian membakar ujung baju itu. Kain tua yang kering itu terbakar dengan cepat. Api melahap serat-serat benang, menjalar naik, memakan bercak darah kering itu hingga menjadi abu hitam. Bau hangus memenuhi ruangan mewah itu, bercampur dengan aroma parfum mahal Bastian. Bastian menatap api itu menari di matanya. Ia tidak peduli apakah itu baju aslinya atau palsu. Ia tidak peduli apakah darah itu darah ibunya atau darah hewan. Ia adalah Elvano Pradipta. Ia menciptakan takdirnya sendiri, bukan diwariskan oleh sepotong kain bekas. "Aku benci nostalgia," desis Bastian saat menjatuhkan sisa kain yang masih terbakar itu ke asbak, membiarkannya menjadi onggokan abu tak berbentuk. Ia menuang kembali whisky-nya, meneguknya sekali habis untuk membilas rasa pahit di lidahnya. "Bersihkan sampah ini," perintah Bastian dingin, menunjuk kotak dan abu di mejanya. "Jangan sampai ada debu yang tersisa." "Siap, Tuan. Dan mengenai pengirimnya?" Bastian berjalan menuju dinding kaca, memunggungi Rian. Ia menatap pantulan dirinya yang samar di kaca. Sosok pria yang berdiri di puncak dunia, yang tidak boleh memiliki celah kelemahan. "Cari dia," suara Bastian terdengar bosan namun kejam. "Cek CCTV lobi, lacak plat nomor kendaraan kurir itu, cari tahu siapa yang membayar jasanya. Aku mau nama, alamat, dan siapa yang ada di belakangnya." Bastian berhenti sejenak, membayangkan seseorang diluar sana yang berani menertawakannya. "Dan kalau kau sudah menemukannya... jangan bawa dia ke hadapanku," lanjut Bastian datar. "Patahkan saja jarinya. Satu per satu. Biar dia tidak bisa menulis kartu ucapan sampah seperti itu lagi seumur hidupnya." "Dimengerti, Tuan." Rian bergerak cepat membereskan kekacauan di meja. Ia menutup kembali kotak beludru itu, menyembunyikan abu masa lalu Bastian di dalamnya. Suasana kembali hening. Bastian merasa sudah menang. Ia pikir ini hanyalah gangguan kecil di hari Selasa yang membosankan. Namun, tepat saat Rian hendak melangkah keluar membawa kotak itu, saku jas asisten itu bergetar panjang. Rian berhenti di ambang pintu, merogoh ponselnya. Ia melihat nama penelepon di layar, Kepala Keamanan Unit Medis. Kening Rian berkerut. Panggilan dari unit ini jarang terjadi kecuali keadaan darurat level satu. "Tunggu sebentar," Rian mengangkat telepon itu. "Ya? Lapor." Bastian tidak berbalik, tapi telinganya yang tajam menangkap perubahan nada napas Rian. Dari tenang menjadi tegang. "Kapan?" tanya Rian singkat. "Bagaimana kondisinya?" Hening sejenak. "Baik. Amankan lokasi. Jangan biarkan pers tahu sebelum saya tiba." Rian mematikan sambungan telepon. Ia berdiri kaku di dekat pintu, menatap punggung bosnya dengan tatapan ragu. Bastian merasakan ketegangan itu. Ia berbalik perlahan, wajahnya kembali datar tanpa ekspresi. "Ada apa lagi?" tanya Bastian malas. "Jangan bilang saham anjlok hanya karena rumor murahan." Rian menelan ludah. Ia tahu betapa Bastian membenci ketidakbecusan, tapi berita ini menyangkut satu-satunya orang luar yang dipercaya Bastian untuk menyentuh istrinya. "Bukan saham, Tuan," jawab Rian hati-hati. "Ini tentang Dokter Prasetyo." Alis Bastian menukik tajam. "Dokter ginjal Aira? Kenapa dia? Dia telat mengirim laporan mingguan?" Rian menggeleng pelan. "Dokter Prasetyo baru saja mengalami kecelakaan di Tol Jagorawi, Tuan. Mobilnya ditabrak truk kontainer dari arah berlawanan." Mata Bastian menyipit berbahaya. "Kecelakaan?" "Rem blong, menurut laporan awal polisi," lanjut Rian, suaranya memberat. "Mobilnya hancur total. Dia tewas di tempat." Bastian terdiam. Baju bayi berdarah. Pesan tentang masa lalu. Dan sekarang, dokter kepercayaan yang memegang rahasia medis istrinya mati secara tragis di hari yang sama. Ini bukan kebetulan. Ini bukan lelucon orang gila. Ini adalah deklarasi perang. Senyum sinis di wajah Bastian lenyap seketika, digantikan oleh topeng dingin sang pembunuh. "Rem blong..." ulang Bastian, suaranya pelan namun mengerikan. "Kebetulan yang sangat rapi." Bastian berjalan mendekati Rian, menatap mata asistennya itu dengan intensitas yang membuat Rian ingin mundur. "Siapkan mobil," perintah Bastian. "Kita ke rumah sakit untuk melihat jenazah, Tuan?" "Bukan," jawab Bastian tajam. "Kita pulang. Aku harus memastikan Aira ada di kamarnya." "Dan Rian..." Bastian menahan pintu sebelum Rian keluar. "Ya, Tuan?" "Cari penggantinya. Cari dokter ginjal terbaik di negara ini untuk Aira. Tapi kali ini, lakukan seleksi dengan caraku. Aku tidak mau dokter yang lemah. Aku mau dokter yang bisa kujadikan anjing penjaga." "Baik, Tuan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN