Jam digital di nakas menunjukkan pukul 02.14 dini hari ketika pintu kamar utama terbuka tanpa suara.
Bastian melangkah masuk seperti hantu yang lelah.
Kemeja putihnya yang tadi pagi licin sempurna kini kusut di bagian lengan yang digulung asal-asalan. Dasinya sudah hilang entah ke mana, dan kancing teratas kemejanya terbuka, mengekspos lehernya yang berkeringat. Aroma hujan, tembakau, dan bensin yang samar masih menempel di tubuhnya, sisa-sisa dari ekspedisi gilanya ke kaki Gunung Salak.
Ia baru saja kembali dari neraka.
Yayasan Cahaya Bunda telah rata dengan tanah. Api yang ia sulut telah melahap habis gedung tua itu beserta semua arsip busuk di dalamnya. Namun, kepuasan yang ia harapkan tidak kunjung datang. Justru, rasa hampa yang semakin besar menganga di dadanya. Membakar gedung itu ternyata tidak membakar pertanyaan di kepalanya: Siapa yang mengirim kunci itu? Dan siapa sebenarnya Raden Mas Elvano Cakradara?
Bastian menatap ranjang besar di tengah ruangan. Di sana, di bawah selimut duvet tebal, Aira tertidur dengan damai. Cahaya lampu tidur yang temaram menyinari wajah istrinya, membuatnya terlihat seperti malaikat yang tersesat di sarang iblis.
Pemandangan itu seharusnya menenangkan. Namun malam ini, ketenangan Aira justru memicu sesuatu yang liar dalam diri Bastian. Rasa iri. Rasa takut. Dan kebutuhan mendesak untuk merasakan sesuatu yang nyata, sesuatu yang bukan abu atau masa lalu.
Bastian mendekat, lututnya menekan tepi kasur hingga tilam itu melesak.
Aira menggeliat pelan. Kelopak matanya mengerjap, lalu terbuka perlahan. Mata cokelatnya yang jernih langsung menemukan sosok suaminya dalam keremangan.
"Bas?" bisik Aira, suaranya serak khas bangun tidur. "Kau baru pulang?"
Bastian tidak menjawab. Ia mencondongkan tubuh, mengurung Aira dengan kedua lengannya yang kekar. Tatapannya gelap, intens, dan lapar. Bukan lapar akan makanan, tapi lapar akan validasi eksistensi.
"Bas, ada apa? Kau terlihat..."
Bastian membungkam pertanyaan itu dengan bibirnya.
Ciuman itu tidak lembut. Tidak ada pemanasan manis atau rayuan puitis. Itu adalah ciuman yang menuntut, mendesak, dan sedikit kasar. Bastian melumat bibir Aira dengan d******i mutlak, seolah ingin menyerap nafas kehidupan dari paru-paru istrinya untuk mengisi kekosongan di jiwanya sendiri.
Aira tersentak sejenak, namun ia tidak menolak. Ia bisa merasakan keputusasaan di balik agresi suaminya. Tangan Aira terangkat, melingkar di leher Bastian, menarik pria itu semakin dekat, memberikan akses yang diminta.
"Aku mencintaimu, Aira," geram Bastian di sela-sela ciuman panas mereka yang basah. "Demi Tuhan, aku sangat mencintaimu sampai rasanya sakit."
Bastian menarik selimut itu kasar, melemparnya ke lantai. Tangannya yang besar dan kasar merobek kancing piyama sutra Aira, tidak sabar untuk menyentuh kulit istrinya.
"Kau milikku," bisik Bastian, menelusuri rahang Aira dengan bibirnya, meninggalkan jejak panas di sana.
"Hanya milikku. Tidak ada yang boleh mengambilmu. Tidak masa lalu, tidak masa depan."
Aira mendesah saat sentuhan Bastian semakin intens. Malam ini suaminya berbeda. Ada badai di dalam dirinya yang sedang mencari pelabuhan. Dan Aira, dengan segala kerapuhannya, bersedia menjadi pelabuhan itu.
Saat mereka menyatu, ritmenya cepat dan dalam. Bastian bergerak dengan urgensi yang menakutkan, seolah dunia akan kiamat besok pagi dan ini adalah kesempatan terakhir mereka untuk bercinta. Ia menatap mata Aira lekat-lekat, mencengkeram jemari istrinya, menautkannya di atas bantal.
"Katakan kau tidak akan pergi," tuntut Bastian dengan napas memburu, keringat menetes dari pelipisnya jatuh ke wajah Aira.
"Aku di sini, Bas... aku tidak ke mana-mana," jawab Aira tersengal, mengikuti irama suaminya yang membara.
Di tengah gelombang kenikmatan yang memabukkan itu, pikiran Aira melayang pada satu hal. Pada botol obat yang sudah ditukarnya tadi pagi. Pada permen mint yang ia telan, bukan racun kontrasepsi.
Setiap dorongan Bastian, setiap erangan pria itu, bagi Aira adalah sebuah doa.
Tumbuhlah, batin Aira memohon pada rahimnya. Jadilah benih. Jadilah nyawa.
Ironi itu begitu kental. Bastian sedang berusaha menanamkan dominasinya untuk memastikan Aira tetap miliknya tanpa gangguan, sementara Aira sedang menyambut benih itu untuk menciptakan "gangguan" yang paling Bastian takutkan.
"Aira...!"
Bastian mencapai puncaknya dengan erangan panjang yang tertahan, tubuhnya menegang hebat, menumpahkan segala frustrasi dan benih kehidupannya ke dalam rahim Aira. Ia ambruk di atas tubuh istrinya, napasnya tersengal berat, jantungnya berdegup kencang beradu dengan detak jantung Aira.
Aira memeluk punggung suaminya yang basah oleh keringat, mengusap rambut hitam pria itu dengan sayang. Ada senyum kemenangan tipis di bibirnya. Malam ini, tidak ada penghalang kimiawi di antara mereka. Alam telah mengambil alih.
Tiga puluh menit berlalu.
Napas Bastian sudah teratur. Pria itu telah jatuh ke dalam tidur yang dalam dan tanpa mimpi, atau setidaknya, Aira berharap demikian. Kelelahan fisik dan mental telah merobohkan benteng pertahanan sang Raja Bisnis.
Bastian tidur menyamping, lengan kirinya masih memeluk pinggang Aira posesif, seolah takut istrinya menguap jadi asap. Namun, ada yang aneh dengan tangan kanannya.
Tangan kanan Bastian terkepal erat di samping bantal, buku-buku jarinya memutih karena tekanan. Aira, yang masih terjaga karena adrenalin dan harapan, menatap kepalan tangan itu. Ia perlahan memiringkan tubuhnya, mengamati wajah suaminya yang biasanya dingin kini terlihat rapuh dalam tidur. Alis Bastian berkerut, seolah sedang bertarung melawan monster di alam bawah sadarnya.
"Jangan..." gumam Bastian dalam tidurnya. Suaranya serak, nyaris tak terdengar. "Bakar... bakar semuanya."
Aira mengerutkan kening. Bakar apa?
Mata Aira kembali tertuju pada kepalan tangan kanan Bastian. Ada benda logam yang menyembul sedikit dari sela-sela jari telunjuk dan jari tengahnya. Benda itu berkilau redup tertimpa cahaya lampu tidur.
Rasa penasaran, yang merupakan penyakit lama Aira, mulai menggelitik.
Bastian tidak pernah tidur memegang barang. Ia selalu meletakkan jam tangan, ponsel, dan cincinnya di nakas. Apa yang begitu berharga sampai ia bawa ke alam mimpi?
Dengan gerakan sangat pelan, menahan nafas agar tidak menimbulkan suara, Aira mengulurkan tangannya. Ujung jarinya menyentuh punggung tangan Bastian yang kasar.
Ia mencoba mengelus jari Bastian agar genggamannya melonggar.
Sedikit demi sedikit, jari Bastian terbuka. Benda itu jatuh ke sprei sutra dengan bunyi tung yang sangat pelan.
Sebuah kunci.
Mata Aira menyipit mengamatinya. Itu bukan kunci mobil sport Bastian yang canggih. Bukan pula kartu akses penthouse. Itu adalah kunci besi tua yang terlihat kuno, berkarat di bagian ujungnya, dengan ukiran angka 104 yang pudar di gagangnya. Kunci itu terlihat kotor, kontras dengan kemewahan kamar ini.
Kenapa Bastian membawa kunci rongsokan ini tidur?
Tangan Aira terulur lagi, kali ini hendak mengambil kunci itu untuk melihatnya lebih jelas.
Namun, tepat saat kulit ujung jari Aira bersentuhan dengan besi dingin kunci itu…
"JANGAN SENTUH!"
Bastian tersentak bangun dengan gerakan refleks yang mengerikan. Matanya terbuka lebar, liar dan merah. Tangannya menyambar pergelangan tangan Aira dengan kekuatan penuh, mencengkeramnya begitu kuat hingga Aira menjerit kesakitan.
"Sakit, Bas!" pekik Aira, wajahnya memucat ketakutan.
Bastian seperti orang yang baru bangun dari mimpi buruk perang. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Ia menatap Aira dengan tatapan asing, bukan tatapan suami, melainkan tatapan seorang pembunuh yang tertangkap basah.
Ia menarik kunci itu kembali ke genggamannya secepat kilat, menyembunyikannya di balik punggung.
"Apa yang kau lakukan?!" bentak Bastian, suaranya menggelegar di kamar yang sunyi itu. "Siapa yang menyuruhmu mengambilnya?! Siapa?!"
Aira gemetar hebat. Ia mundur hingga punggungnya menabrak kepala ranjang, menarik selimut menutupi tubuh polosnya. Air mata langsung menggenang di pelupuk matanya. Selama dua tahun menikah, Bastian memang dominan dan kadang dingin, tapi dia tidak pernah membentak Aira dengan kemarahan fisik sebuas ini.
"A-aku... aku hanya ingin melihatnya..." isak Aira, suaranya pecah. "Kau mengigau... tanganmu terkepal... aku takut kau kesakitan..."
Mendengar isak tangis itu, kesadaran Bastian perlahan kembali ke tubuhnya.
Kabut amarah dan paranoia yang menyelimutinya perlahan menipis. Ia melihat wanita di hadapannya bukan musuh, bukan hantu masa lalu, melainkan Aira. Istrinya. Ratunya.
Dan dia baru saja menyakitinya.
Bastian melihat pergelangan tangan Aira yang memerah, meninggalkan bekas jari-jarinya di kulit putih itu.
"Tuhan..." bisik Bastian, wajahnya berubah horor.
Kunci itu ia lempar sembarangan ke lantai. Ia merangkak mendekati Aira, namun Aira menyentakkan tubuhnya menjauh, masih trauma dengan bentakan tadi.
"Maaf... maafkan aku, Ra. Demi Tuhan, maafkan aku," Bastian meraih tangan Aira dengan lembut kali ini, menciumi pergelangan tangan yang memerah itu berkali-kali dengan bibir yang gemetar. "Aku tidak bermaksud... aku kaget... aku pikir kau..."
"Kau pikir aku siapa?" tanya Aira lirih, air matanya menetes jatuh ke pipi. "Musuhmu?"
Bastian menggeleng frustasi, membenamkan wajahnya di telapak tangan Aira. "Aku mimpi buruk. Mimpi yang sangat buruk. Aku tidak sadar. Maafkan aku, Sayang. Jangan menangis. Kumohon jangan takut padaku."
Bastian memeluk Aira erat, menyembunyikan wajahnya di d**a istrinya. Tubuh pria itu bergetar. Aira bisa merasakan detak jantung Bastian yang menggila, seolah baru lari maraton menghindari kematian.
Aira terdiam dalam pelukan itu. Tangan kanannya secara naluriah mengusap rambut Bastian yang basah oleh keringat dingin. Rasa takutnya perlahan surut, digantikan oleh kebingungan yang mendalam.
Ini bukan sekadar mimpi buruk.
Kunci tua itu. Baju bayi berdarah yang ia dengar dari desas-desus pelayan kantor. Kecelakaan Dokter Prasetyo. Sikap Bastian yang semakin protektif dan paranoid. Obat-obatan aneh itu. Dan sekarang, ledakan amarah yang tidak beralasan ini.
Ada puzzle yang hilang. Puzzle yang sangat besar dan gelap.
Bastian mengangkat wajahnya, menatap Aira dengan mata yang memelas, penuh penyesalan. "Kau boleh memukulku. Kau boleh marah. Tapi jangan diam saja, Ra."
Aira menatap mata suaminya dalam-dalam. Ia melihat kelelahan yang teramat sangat di sana. Kelelahan seorang pria yang memanggul dunia sendirian.
Aira tidak memukulnya. Ia justru menangkup wajah Bastian dengan kedua tangannya, memaksanya untuk tidak berpaling.
Inilah saatnya. Keberanian yang ditanamkan Elena, ditambah dengan insting istrinya, membuat Aira akhirnya berani menyuarakan gajah di pelupuk mata.
"Bas," panggil Aira lembut namun tegas.
"Ya, Sayang?"
"Kita perlu bicara. Bukan tentang kunci itu. Bukan tentang mimpi burukmu."
Aira menarik napas panjang, mempersiapkan dirinya untuk mendengar jawaban yang mungkin akan menyakitkan.
"Dua tahun ini... kau berubah. Kau semakin gelisah. Kau semakin sering marah tanpa sebab. Kau membangun tembok tinggi di sekeliling rumah ini, dan di sekeliling hatimu sendiri."
Jari Aira mengusap kerutan di kening Bastian.
"Kau bilang kau melindungiku dari dunia. Tapi rasanya... kau sedang berperang sendirian melawan sesuatu yang tidak aku lihat."
Aira menatap lurus ke dalam manik mata obsidian itu.
"Ada apa sebenarnya, Bas? Siapa yang sedang kau lawan? Dan kenapa rasanya... kau begitu takut kehilangan aku, sampai-sampai kau rela menyakiti kita berdua?"
Pertanyaan itu menggantung di udara, berat dan menuntut kejujuran. Bastian terpaku.