***
Adrian baru saja pulang dari kantor. Tapi, sudah dihadapi dengan pilihan yang membuatnya tidak suka. Nek Ami memaksanya untuk segera menikah dengan perempuan asing yang baru saja dibawa oleh neneknya itu. Adrian sudah menolak mentah-mentah, karena sampai kapanpun ia hanya akan mencintai Nabila. Bahkan Adrian sendiri sudah membuat keputusan sebelumnya, ia tidak akan pernah mau untuk menikah lagi. Namun nyatanya Adrian tidak bisa bersikeras dengan keputusannya itu. Karena semua orang sudah memaksanya hingga membuatnya merasa kalah.
Adrian duduk di atas ranjang, memegang kepalanya pening dengan wajah frustasi. Nek Ami melangkah masuk, lalu duduk di samling Adrian, cucu kesayanganya.
"Nenek tau, ini berat Adrian. Tapi tolong, menikahlah dengan dia. Tolong bantu nenek untuk menjaganya."
"Kenapa harus aku? Dia bisa menikah dengan siapapun!"
"Adrian. Tolong penuhi permintaan nenek. Bagaimanapun, ibunya sudah menyelamatkan nyawa nenek. Nenek harus menjaganya, tapi kamu tahu sendiri, nenek sudah semakin tua. Tidak mungkin jika nenek bisa selamanya menjaga dia. Nenek hanya percayakan kamu untuk menjaganya, Adrian."
"Tapi tidak dengan menikahinya, nek!"
Adrian membuang nafas jengah. Berusaha menahan emosi yang hampir meledak.
"Apa nenek pernah menuntut sesuatu darimu selama ini? Nenek cuma menginginkan kamu menikahinya. Tolong, tolong penuhi permintaan nenek."
"Aku sudah memenuhi permintaan nenek, apa itu masih belum cukup?"
"Tapi kamu harus menyayanginya, menikahinya saja tidak cukup, Adrian."
Adrian tertawa sarkastis saat mendengarnya. Bisa-bisanya neneknya berbicara seperti itu. Padahal, memenuhi permintaan itu saja benar-benar sudah membuat Adrian merasa gila. Apalagi harus memberikannya kasih sayang, sebuah perlakuan yang sepantasnya hanya untuk Nabila.
Nek Ami tahu, kalau Adrian sangat keras kepala. Tapi ia sangat yakin kalau Adrian pasti akan bisa mencintai Kania dengan mudah. Bagaimana tidak, perempuan lembut itu saja sudah berhasil meluruhkan hati tante Sonia dan juga om Alex. Apalagi Amel, anak itu justru bisa langsung akrab dengan Kania.
"Nenek sudah memaksaku untuk menikahi wanita asing itu, sekarang juga memintaku untuk menyayanginya? Permainan konyol apa ini!" Adrian menggeleng, tidak habis pikir dengan jalan cerita hidupnya sekarang. Hatinya masih sangat terluka atas kepergian Nabila, sekarang harus berpesta ria dengan melangsungkan pernikahan lagi. Adrian tidak sudi seperti itu.
"Apa susahnya. Itu tidak seberapa dibandingkan dengan pengorbanan ibunya. Jika bukan karena ibunya, nenek tidak mungkin bisa bernafas sampai detik ini."
"Itu karena nenek merasa berhutang budi. Tapi, kenapa harus aku yang membayarnya?!"
Dada nek Ami terasa di hantam saat Adrian berbicara seperti itu, hatinya menangis. Tidak menyangka Adrian akan berbicara seperti itu.
"Kalau bukan marena aku menghormati nenek, aku tidak akan pernah sudi menikahi dia."
Nek Ami memicingkan matanya, dadanya kian terasa menusuk, membuatnya kekurangan oksigen untuk bernafas. Tangan kirinya langsung memegang d**a kanan, rasanya kian menjalar begitu cepat dan membuat nek Ami melemas, sepertinya serangan jantung sudah kembali menyerang. Ini terjadi untuk kedua kalinya.
Kedua mata Adrian terbelalak saat menatap wajah nek Ami yang pucat pasi, jika Adrian tidak segera menangkap tubuh nek Ami, mungkin perempuan itu sudah terhempas ke atas ubin yang keras.
"Nenek!"
Adrian memekik, lalu mengangkat tubuh ringkih nek Ami yang sudah tidak sadarkan diri. Adrian merasa sangat bersalah. Tidak seharusnya tadi membentak neneknya hingga kaget seperti itu. Adrian hanya merasa emosi karena dipaksa seperti itu. Ia sangat menyesal.
"Adrian, apa yang terjadi?" tante Sonia yang sedang duduk di atas sofa bersama Kania langsung berdiri. Berlari mendekati Adrian ya g sedang menggendong nek Ami.
Adrian tidak menjawab apa-apa, dia hanya berlalu begitu saja dengan cepat. Tidak ingin berlama-lama dan nyawa nek Ami melayang.
Tante Sonia mengerti lalu ikut menyusul Adrian. Tante Sonia tidak ingin sesuatu buruk terjadi pada ibunya. Sementara Kania masih diam di tempatnya. Ikut menghawatirkan keadaan perempuan tua itu.
***
Adrian dan tante Sonia masih berdiri di depan ruangan UGD, keadaan keduanya sama-sama panik. Bahkan tante Sonia sudah menangis, hampir sepuluh menit dokter masih belum keluar dari ruangan itu, rasanya ingin membuat tante Sonia meneremobos masuk, mendesak dokter untuk menangani ibunya dengan cepat.
"Apa yang terjadi Adrian, kenapa nenek bisa kayak gini."
"Ini semua kesalahanku." Adrian menjawab datar dengan raut muka penuh penyesalan. Kalau saja tadi ia tidak membuat nek Ami marah dan kaget, mungkin sekarang neneknya itu akan baik-baik saja. Adrian sangat menyesal, bagaimanapun Adrian sangat menyayangi neneknya. Jadi, Adrian akan memenuhi permintaannya meski atas dasar keterlaksaan.
"Apa maksud kamu?" nafas tante Sonia memburu, menatap putranya tidak bersahabat.
"Aku yang menyebabkan nenek seperti ini."
"Kurang ajar! Kenapa kamu lakuin ini, Adrian. Kamu ingin membunuh nenek kamu sendiri?"
Adrian memutar wajahnya ke samping, menatap tante Sonia yang berdiri di depan pintu. Adrian mengerutkan keningnya, ia sama sekali tidak punya maksud seperti itu.
Saat pintu terbuka, emosi tante Sonia langsung mereda. Membalikan tubuhnya menatap orang yang keluat dari balik pintu. Raut wajah tante Sonia sangat cemas.
"Gimana kondisinya, Dok?"
"Untung kalian segera membawanya ke sini. Ibu anda mengalami serangan jantung ringan. Jadi, beliau tidak bisa mendengar kabar-kabar yang mengejutkan, yang akan membuat jantungnya kembali anfal."
Sonia mendesah resah, "sekarang. Gimana kondisinya, Dok?"
"Untuk saat ini, beliau masih belum sadarkan diri. Saya sarankan, sebaiknya untuk beberapa hari, beliau harus di rawat. Setidaknya sampai jantungnya kembali normal."
Sonia mengangguk, ia akan memenuhi apapun keputusan dokter, asalkan ibunya baik-baik saja.
***
Kania masih saja merasa cemas, karena sejak tadi tante Sonia belum memberinya kabar. Pikirannya sudah kemana-mana, takut nek Ami mengalami hal yang buruk. Apalagi, permintaan nek Ami yang terkesan aneh saat menjodohkannya dengan Adrian, cucu laki-lakinya yang tampan, seseorang yang sudah membuat Kania jatuh hati. Sikap kedewasaan yang ia perawakan benar-benar membuat Kania terkagum-kagum.
Kania berkali-kali melirik jam dinding yang sudah menunjukan pukul lima sore. Kalau Kania hafal seluk bekuk kota jakarta, mungkin ia akan nekat jalan kaki ke rumah sakit itu, memastikan kondisi nek Ami.
"Ikut aku."
Kania terpegun mendengar suara berat itu. Adrian tiba-tiba saja muncul, nyaris membuat Kania kehilangan jantungnya karena merasa organ itu melompat keluar.
"Ke--kemana?" Kania masih sangat canggung, bahkan merasa gugup saat berdekatan dengan pria itu. Meski Kania tahu peria itu calon suaminya, tapi sedikitpun Kania belum berkomunikasi dengannya. Bahkan Kania belum tahu jawaban laki-laki itu, menerima atau justru menolak pernikahan itu.
"Tidak usah banyak tanya. Ikut saja."
Kania menelan ludahnya dengan susah payah, lalu mengangguk dengan gerakan kaku.
"Waktumu hanya lima menit, jika kamu tidak kembali dalam lima menit. Aku akan meninggalkanmu."
Adrian berucap santai, lantas kembali keluar. Menunggu Kania di sana. Perempuan itu membuka mulutnya, sesingkat itukah?
Kania tidak punya waktu yang banyak, ia mepergunakan waktu yang ada dengan sangat singat. Setelah itu, Kania masuk di dalam mobil. Duduk di belakang tanpa memperdulikan Adrian.
"Aku bukan supirmu. Duduk di depan!"
Mulut Kania benar-benar bungkam. Ia sama sekali tidak bisa memprotes apa-apa. Mengukuti perintah Adrian adalah opsi paling balik. Selama perjalanan, Adrian tidak mengajaknya bicara apa-apa, membuat Kania merasa risih. Apalagi Kania juga bingung harus berbicara apa dengan pria itu.
Kania berdeham kecil. Sebelum memberanikan diri untuk bicara.
"Kita mau kemana?" tanya Kania basa-basi, setidaknya itu bisa membunuh suasana yang bisu.
Adrian sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari depan.
"Sudah kubilang, tidak usah banyak tanya."
Kania mengigit bibir bawahnya. Seolah kebahabisan kata-kata. Ia juga tidak memiliki kebaranian apa-apa untuk mengajak Adrian berbicara. Bahkan, ini kali pertamanya Kania bisa duduk berdampingan sangat dekat dengan seorang laki-laki.
***
Kini Adrian dan juga Kania sudah berada di dalam lift yang akan membawa mereka ke lantai lima rumah sakit. Sekarang Kania mengerti Adrian sengaja membawanya ke sini untuk bertemu nek Ami.
"Nanti, apapun yang dikatakan nenek. Kamu penuhi saja."
"Nenek baik-baik aja kan?"
"Kalau kamu ingin dia baik-baik saja, turuti apa kemauannya."
Kania mengangguk memgerti. Mereka hanya berdua di dalam sana. Membuat jantung Kania berdetak lebih kencang. Bahkan kedua tangan Kania langsung berkeringat, terlalu gugup ketika berdekatan seperti itu.
Adrian sendiri sebenarnya sangat tidak menginginkan berdekatan dengan Kania. Perempuan asing yang begitu di sayangi neneknya itu. Jika bukan karena takut terjadi hal buruk dengan nek Ami, Adrian tidak akan pernah mau menjemput perempuan itu dan menduduki tempat yang biasanya Nabiala tempati.
'Maafkan aku Nabila. Bukannya aku tidak mencintaimu lagi. Aku memilih memenuhi permintaan nenek hanya semata-mata sebuah bukti kalau aku berbakti padanya. Menikahinya bukan berarti aku menggantikan dirimu dengan dia.'
Ketika sudah sampai di lantai lima, Adrian kekuar dari dalam lift, sedikitpun tidak berbicara pada Kania. Perempuan itu hanya bisa mengikutinya dari belakang tanpa memiliki keberanian untuk berjalan berdampingan. Kania merasa Adrian tidak menyukai kehadirannya, jika memang begitu Kania tidak mungkin bisa memenuhi permintaan nek Ami untuk menikah dengan Adrian.
Adrian masuk ke dalam kamar inap nek Ami, di sana Sonia sedang memberikan obat untuk perempuan tua itu. Wajah nek Ami langsung berseri saat melihat kedatangan Kania dan juga Adrian. Nek Ami melihat mereka berdua benar-benar sangat cocok. Tidak sabar menyaksikan mereka berdua menjadi sepasang suami-istri.
"Gimana kondisi nenek?"
"Nenek baik-baik saja Kania. Apalagi kamu dan Adrian berada di sini."
"Syukurlah nek. Tadi, aku khawatir banget liat nenek pingsan."
Kania akhirnya bisa bernafas lega.
Adrian memilih diam, duduk sendirian di atas sofa. Ia belum yakin atas keputusannya tadi. Menikah secepat itu dengan Kania. Jujur, Adrian benar-benar engan melakukannya. Diam-diam Adrian melirik Kania, sama sekali tidak merasakan apa-apa, semuanya biasa saja, terasa sangat hambar. Tidak ada dalam dirinya yang mampu membuat Adrian merasa jatuh hati.
"Bagaimana perjalananmu ke sini bersama Adrian?" tanya nek Ami setengah berbisik, menengar pertanyaan nek Ami yang konon jenaka itu, membuat Kania malu sendiri. Ia hanya sibuk dengan rasa canggung dan kikuk saat berdekatan dengan Adrian. Apalagi tadi Adrian juga tidak banyak menjangajaknya berbicara. Jadi, apa yang harus Kania katakan?
"Ha?"
"Sudah nenek duga," nek Ami tertawa, membuat kening Kania bersikerut bingung. Memangnya apa yang diduga nek Ami?
"Adrian belum bicara sama kamu?" tanya tante Sonia, curiga. Kemudian menatap Adrian yang duduk santai dengan kedua tangan yang dilipat di atas d**a.
Adrian hanya megangkat bahunya acuh, tidak memberikan jawaban apa-apa.
"Bicara apa, tante?"
"Adrian udah mutusin, dia bakal nikahin kamu dalam minggu ini."
Kedua bola mata Kania terbelalak kaget, nyaris keluar dari dalam tempatnya lalu menggelinding di atas lantai. Kania sangat shock dengan pengakuan tante Sonia, secepat itukah dia harus menikah?
"Minggu depan? Apa nggak terlalu cepat, nek. Gimana sama kuliah aku? Aku kan pengen lanjutin kuliah aku."
"Kamu tidak usah khawatir Kania. Adrian akan membebaskanmu, dia akan membiarkanmu tetap melanjutkan pendidikanmu, bukan begitu Adrian?"
Nek Ami memakingkan kepalanya ke kiri, melihat Adrian agar anak itu memberikan jawaban.
Adrian hanya mengangguk, lagipula ia juga tidak memerdulikan bagaimana nanti Kania akan melanjutkan hidupnya.
Kania masih was-was, belum percaya akan menikah dalam waktu mendadak seperti itu. Apakah ia siap menjadi seorang istri? Padahal, untuk menjadi perempuan yang berbakti pada suaminya sangat sulit, Kania hanya ingin menjadi istri yang bisa memenuhi apapun permintaan suaminya, tidak akan pernah membantah sedikitpun. Kania juga merasa ragu, bagaimana kalau pernikahan itu tidak didasarkan cinta? Kania belum tahu isi hati Adria.
"Tolong, jangan menolak Kania. Nenek tidak mau mati sebelum bisa melihat kalian menikah."
Nek Ami benar-benar berharap, agar keputusan Kania mau menerima pernikahan itu. Nek Ami hanya benar-benar ingin Kania jatuh pada laki-laki yang baik. Seperti cucunya, seorang kelaki yang ia percaya tidak akan pernah menyakiti hati gadis itu.
***
Adrian dan Kania kini sedang berada di kantin rumah sakit. Sedikitpun Adrian tidak mau berbicara, itu semua membuat Kania merasa tidak nyaman, ditambah Adrian juga tidak pernah tersenyum kepadanya. Membua Kania yakin, kalau Adrian sama sekali tidak pernah berniat menerima pernikaha itu.
Apalagi Kania tahu, usia Adrian dan juga diri ya terpaut cukup jauh. Mana mungkin laki-laki dewasa seperti Adrian mau menerima gadis kecil seperti dia, dari segi fisik saja Kania merasa tidak pantas. Adrian begitu tampan, terlahir dari keluarga yang utuh, dibesarkan dengan kasih sayang yang berlimpah dan juga harta yang banyak. Tidak seperti Kania yang sangat menyedihkan. Seorang gadis yang lahir dari keluarga yang sudah tidak utuh, karena ayahnya sudah lama meninggal, lalu begitupun ibunya. Kania juga tidak terlahir dari keluarga yang kaya. Kania tidak ingin, kehadirannya justru menjadi beban untuk laki-laki itu.
"Kak, apa kakak nggak suka sama kehadiran aku di sini?"
Adrian menghentikan aktifitas makannya sejenak.
"Maksudmu?"
"Aku cuma nggak mau, kakak terpaksa nikahin aku."
Adrian tertawa sarkastis, lalu menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?"
"Tidak usah banyak tanya. Terpaksa atau tidaknya, itu bukan menjadi urusanmu."
Mulut Kania bungkam seketika. Jawaban lai-laki itu begitu sinis, mebuat hati Kania sedikit terasa nyeri.
***
Bersambung