Bab 4. Karma Instan

1356 Kata
Ucapan Xander sangat tegas dan menggema di seluruh penjuru rumah yang biasanya diisi ketenangan itu. Jasson tidak berani mengeluarkan sepatah kata pembelaan apa pun, ia salah dan ia sadar itu. Tetapi ini jelas tak ada di bayangannya, hidup tanpa kartu dan mobil? Mau jadi apa dia? “Xander, kita bisa bicara baik-baik. Jasson sudah mau tanggungjawab, biarkan dia menjelaskan apa yang terjadi," pinta Serena berusaha membujuk, hati ibu mana yang rela jika melihat putranya tiba-tiba diusir seperti itu. “Itulah gunanya dia punya otak!" Bukannya mereda, kemarahan Xander kian merajalela. “Dia salah? Maka tebus kesalahannya dengan cara yang benar. Biarkan dia sadar jika kata tanggungjawab tidak semudah membuka c*****************a. Jasson, jika kau punya harga diri, pergi dari sini dan buktikan kau memang pantas menjadi putraku!" Ucapan Xander terakhir jauh lebih pedas dari tamparan yang baru saja Jasson dapatkan, pria itu tersenyum penuh ironi. Di depannya Serena mencoba memohon agar Xander berubah pikiran namun ego Jasson terusik. Kedua tangannya mengepal, menatap mata Papanya dengan tatapan yang menyedihkan. “Kalau itu mau Papa, akan aku lakukan. Aku anggap ini hukuman untukku. Tapi, jangan halangi aku untuk menikahinya," kata Jasson pelan namun tegas. Xander tersenyum sedikit sinis, matanya melirik bayangan wanita yang ada di ruang tamu. Ia tahu Hanami ada di sana, ia pun tidak pernah keberatan dengan siapa pun wanita yang dipilih putranya menjadi istri. Tetapi bukan berarti membenarkan perbuatan kotor seperti itu. "Menikahinya? Itu bukan pilihan, itu kewajibanmu sebagai manusia.” Xander berdiri, berjalan perlahan mendekati putranya. "Tapi jangan harap ada pesta mewah di hotel berbintang. Kau tidak layak mendapatkan perayaan atas sebuah kehancuran. Seorang pria yang mengambil milik wanita sebelum ia mampu memberikan atap untuk berteduh, tidak lebih dari seorang pencuri. Kau ingin menikahinya? Lakukan. Tapi lakukan dengan keringatmu sendiri. Aku tidak akan membiarkan uangku menjadi pembenaran atas kesalahanmu. Keluar dari sini, dan buktikan padaku kalau kau bukan sekadar Atmajaya yang hanya bisa menghamili tapi tidak tahu cara menafkahi." Jasson terdiam, harga dirinya remuk bukan karena makian, tapi karena kejujuran ayahnya yang benar. Di sisi lain Hanami mendengar semua yang terjadi, keributan, tamparan bahkan ketika para pelayan tiba-tiba menjadi sibuk mengeluarkan barang-barang milik Jasson. Ia tidak berani bergerak, tangannya kian gemetar dengan air mata yang diam-diam mengalir. Ketika kemudian ia merasakan sebuah elusan lembut di bahunya, ia mengusap air matanya dengan cepat. Di sana Serena berdiri, Hanami sudah ciut wanita itu akan memaki-maki dirinya namun yang diberikan justru pelukan. “Maafkan Jasson ya, Hanami." Suara wanita itu teredam oleh isak tangis, mengelus punggung Hanami lembut. “Dia pasti tanggungjawab, Tante minta maaf yang sebesar-besarnya. Percaya sama Tante, dia pasti menjagamu. Maafkan dia ya." Hanami mematung dengan perasaan yang kian resah, ia tak habis pikir kenapa malah Serena yang meminta maaf? Jelas-jelas kekacauan ini memang disebabkan oleh pria yang bernama Jasson itu. Maaf? Entah seperti apa bentuknya, Hanami rasa belum ingin mengutarakannya untuk saat ini. Beberapa saat kemudian Jasson keluar dengan bibir robek dan wajah yang memerah, entah karena marah atau apa yang jelas kilatan mata pria itu benar-benar suram. “Ayo Hanami, kita pergi dari sini," titah Jasson tegas. Serena mengurai pelukannya, ia mengusap-usap pipi Hanami lalu kemudian mengelus perutnya yang masih rata. “Mama nggak bisa bantu banyak. Tapi Mama janji akan sering menjenguk kalian. Jaga diri baik-baik, ya," bisik Serena lembut keibuan. Hanami terlena, jatuh ke dalam pusaran emosi yang meluluhlantakkan logikanya. Ia merasakan elusan lembut itu membuatnya sadar jika saat ini memang ada nyawa baru yang telah tumbuh. Tetapi Hanami tidak bisa berlama-lama larut, ia hanya menganggukkan singkat kemudian beranjak mengikuti apa yang akan Jasson lakukan. Ya, pria itu sepertinya benar-benar serius dengan apa yang akan dilakukan. Mereka berdua meninggalkan kediaman Atmajaya dengan motor besar yang dibeli Jasson dari hasil balap dan tabungan, sementara kopernya akan diambil nanti-nanti saja. Apa yang akan mereka lakukan? Jawabannya tidak tahu. Karena setelah dari rumah itu Jasson belum mengucapkan apa pun. Pria itu membawanya pergi membelah kota Jakarta yang sedang sibuk-sibuknya. Angin berserta panas matahari menyengat kulit, seolah memberikan ejekan jika Jasson bukan lagi pria yang digandrungi wanita dengan koleksi mobil mewahnya. Tetapi pria yang sedang dituntut oleh penebusan dosa. “Makan dulu, ya? Baru nanti aku antar pulang," ucap Jasson dibalik kemudinya. Hanami tidak menjawab karena Jasson langsung membelokkan motornya ke salah satu restoran mewah seolah di dompetnya masih memegang kartu infinite milik Papanya. Ia turun dari motor diikuti Hanami yang masih diam. Jasson menganggap Hanami memang mau, ia segera masuk dan memesan beberapa menu sehat. Saat ini bukan hanya Hanami, tapi bayi di kandungan wanita itu juga harus dipikirkan. “Aku tidak lapar," kata Hanami. “Anakku yang lapar." Jasson menjawab singkat, tegas tanpa rasa ragu. Membolak-balikkan buku menu dan memesan makanan dengan harga yang tidak masuk akal. Hanami membesarkan mata dengan bibir yang berkedut jengkel. “Anakku katanya? Cih, kenapa di bisa setenang ini sih?" maki Hanami dalam hatinya. Setelah pelayan pergi ia memusatkan perhatiannya pada Hanami. “Kau sudah tahu kondisiku sekarang. Tapi itu bukan masalah, kita akan tetap menikah untuk status. Mungkin setelah ini kita akan menemui orang tuamu," ucapnya langsung tanpa basa-basi. Hanami mengernyitkan dahinya, mau tak mau memandang pria yang sejak tadi sangat enteng mengatakan akan menikah ini. “Memanganya kita harus menikah?" tanyanya dengan nada persuasif. “Kau hanya ingin tanggungjawab pada anak ini bukan?" Jasson menarik napas panjang lalu dihembuskan perlahan, egonya kembali tersentil dengan jawabannya tanpa minat dari Hanami. Ayolah, banyak wanita yang antri ingin mendapatkan posisi Hanami. Tetapi wanita ini dengan gilanya mengacuhkan dirinya? ”Jadi maksudmu kau ingin tanggungjawab tanpa menikah?" “Iya." ”Lalu bagaimana pandangan orang? Mereka akan menilai anak itu sebagai anak haram dan pandangan buruk lainnya. Kita sudah cukup berdosa, jangan sampai anak itu juga menjadi korban," sergah Jasson tak bisa menahan kekesalannya. ”Kita?" Hanami mendesis pelan. “Kau! Yang berdosa itu kau, Tuan Jasson yang terhormat. Kalau bukan karena kesalahanmu, anak sialan ini tidak akan pernah ada." Hanami menunjuk perutnya seolah menyimpan kebencian yang luar biasa. “Hanami!" Jasson hampir saja menggebrak meja di depannya, namun ketika dihadapkan mata jernih yang berkaca-kaca itu ia menahan dirinya. Ia menghembuskan napas kasar, kedua tangannya mengepal erat. “Sial! Kenapa dia terus mengutukku seolah aku pria yang hina. Apa dia tidak bisa melihat kesungguhanku ini. Apa yang sebenarnya wanita ini inginkan?" maki Jasson merasa jauh lebih pusing menghadapi Hanami dari pada menghadapi rute balapan. Setelah perdebatan panas itu akhirnya makanan datang. Hanami awalnya menolak untuk makan, tetapi Jasson mengancam akan menyuapi wanita itu dengan mulutnya sehingga ia memilih menurut. Makan siang canggung dengan beban pikiran yang membuat pusing tujuh keliling, sungguh nikmat yang harus dihindarkan jauh-jauh. Seolah hukuman pengusiran dan sita aset itu belum cukup, ketika sampai di rumah Hanami mereka bukan disambut makian atau pelukan. Melainkan sebuah stempel besar yang ditempelkan tepat di pintu oleh dua orang berpakaian seragam bank. Hanami yang baru turun dari motor syok pastinya, ia segera mendekat untuk memastikan apa yang terjadi. “Tuan Airlangga sudah menunggak cicilan selama 2 tahun. Rumah ini akan segera disita oleh bank. Nona silahkan kemasi barang-barang, Anda." Hanami seperti dipukul mundur sehingga kakinya terhuyung, Jasson yang melihat itu segera menangkapnya namun Hanami buru-buru menepis. ”Pak ini pasti salah. Kakak saya tidak mungkin telat, saya akan mencoba menghubunginya," kata Hanami mencoba peruntungan. Jika rumah ini disita ia akan tinggal dimana? Seharusnya Kakaknya memberikan penjelasan untuk ini. Beberapa kali mencoba tak ada hasil yang memuaskan. Hanami mencoba menghubungi Kakak iparnya juga, tetapi keduanya benar-benar nihil. Air matanya jatuh lebih keras, memandang wajah orang-orang di depannya. Disaat itulah Hanami sadar, jika kemungkinan besar ini adalah karma instan yang Tuhan berikan akibat dosanya. “Silahkan Anda kemasi barang-barang Anda Nona. Kami akan memberikan waktu 2 jam." Orang-orang bank itu tidak peduli dengan tangisan Hanami, mereka beranjak meninggalkan Hanami yang akhirnya luruh dengan air mata yang mengalir. “Kenapa ini bisa terjadi? Kenapa ..." Hanami menangis lirih, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Hanya dalam satu waktu, rumah, harga diri dan masa depannya berada diambang batas kehancuran. Jasson yang melihat itu mendekat, ia tidak memberikan pelukan hangat namun ia segera duduk dan mengelus lembut lengan Hanami. “Berhentilah menangis, relakan saja rumah yang sudah hilang. Karena sekarang rumahmu itu aku." Bersambung~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN