Suasana rumah sakit di jam-jam dini hari selalu terasa menelan. Lorong-lorongnya panjang, lampunya berpendar putih pucat yang menyakitkan mata, dan aroma antiseptiknya seolah menempel di paru-paru. Jasson memacu langkahnya, mengabaikan rasa lelah yang menghantam sendi-sendinya setelah konfrontasi gelap di gudang tua tadi. Pikirannya hanya satu, Hanami. Begitu ia mendorong pintu ruang perawatan VVIP itu, pemandangan di dalamnya membuat jantung Jasson mencelos. Tidak ada ketenangan pasca melahirkan yang ia bayangkan. Yang ada hanya kekacauan yang sunyi. Hanami duduk meringkuk di atas brankar. Tubuhnya yang mungil tampak tenggelam di balik selimut putih rumah sakit. Bahunya berguncang hebat, napasnya tersengal-sengal, dan suara isakannya terdengar tipis namun menyayat. Di sampingnya, Mama

