Bab 62. Bukan Kyoto, Tapi Dekapanmu

1990 Kata

Gemuruh di tribun utama pecah saat Jasson Nathanael melangkah naik ke puncak podium. Lagu kebangsaan berkumandang, tapi bagi Jasson, melodi yang paling indah adalah suara detak jantungnya sendiri yang masih berpacu saat matanya terkunci pada satu titik di bawah sana.. Hanami. Wanita itu berdiri di barisan depan, masih dengan senyum polosnya, tampak begitu rapuh namun bersinar di bawah lampu sorot sirkuit. Jasson berdiri di podium tertinggi, namun tangannya terkepal kuat di sisi celananya. Ada dorongan liar di dalam dadanya, sebuah insting gila yang menyuruhnya untuk meloncat turun, menarik Hanami naik ke atas sana, dan mendekapnya di depan ribuan pasang mata. Ia ingin dunia tahu bahwa piala emas di tangannya tidak ada artinya dibanding wanita yang hampir ia lepaskan tadi pagi. Jasson me

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN